Ankle Fracture

Fraktur ankle merupakan cedera yang umum ditemukan dalam praktik ortopedi.1 Insiden fraktur ankle terus meningkat dalam 30 tahun terakhir, diderita oleh 1 dari 800 orang setiap tahunnya, dan mencakup 9% dari seluruh fraktur (tingkat insiden persis dibawah fraktur femur proksimal yang merupakan fraktur ekstremitas bawah paling umum).2 Penyebab umum dari fraktur ini adalah trauma (kecelakaan lalu lintas), cedera olahraga (sport injuries pada pemain football), dan osteoporosis pada orang tua. Penanganan fraktur ankle bervariasi dari nonoperatif dengan immediate weight bearing activities sampai tindakan operatif dengan 12 minggu non­-weight bearing activities tergantung dari kestabilan dari cederanya.2,3 Fraktur ini umumnya tidak stabil sehingga membutuhkan open reduction dan internal fixation.1

DEFINISI

Ankle fracture atau fraktur pergelangan kaki secara klasik didefinisikan sebagai adanya fraktur pada distal fibula atau lateral malleolus, distal medial tibia atau medial malleolus, dan posterior distal tibia atau posterior malleolus.3

EPIDEMIOLOGI

Studi terakhir menunjukan peningkatan secara dramatis dari tingkat insiden ankle fracture sejak tahun 1960-an.4 Studi berdasarkan National Hospital Discharge Register di Finlandia menunjukan peningkatan insiden ankle fracture pada pasien berusia diatas 60 tahun dari 57/100.000 pada tahun 1970 menjadi 130/100.000 di tahun 1994. Studi lanjutan pada populasi yang sama memperlihatkan tingkat insiden menjadi 174 fraktur/100.000 di tahun 2000 dan diestimasikan peningkatan dapat mencapai 3 kalinya pada tahun 2030.  Tingkat insidensi paling tinggi terjadi pada wanita geriatrik.

Ankle fracture mencakup 9% dari seluruh fraktur (tingkat insiden persis dibawah fraktur femur proksimal yang merupakan fraktur ekstremitas bawah paling umum).2 Secara umum, ankle fracture paling umum adalah isolated malleolar fracture yaitu mencakup 2/3 dari seluruh fraktur tersebut, dan bimalleolar fracture pada 1/4 kasus, dan sisanya sebanyak 7% pada trimalleolar fracture.4 Fraktur terbuka jarang terjadi yaitu mencakup sekitar 2% dari seluruh ankle fracture.

ANATOMI DAN BIOMEKANIK

Sendi pergelangan kaki (ankle joint) atau articulatio talocrural merupakan sendi engsel sinovial yang terletak antara ujung distal dari tibia dan fibula dan bagian superior dari talus (Gambar 4).5,6 Ujung distal dari tibia dan fibula membentuk malleolar mortise (membentuk rongga yang dalam) dimana bagian trochlear dari talus dapat masuk kedalamnya. Trochlea merupakan bagian talus yang berbentuk bulat, terletak di superior, dan merupakan permukaan sendi dari talus. Bagian permukaan medial dari malleolus lateralis berartikulasi dengan permukaan lateral dari talus. Tibia berartikulasi dengan talus pada dua tempat, antara lain bagian permukaan inferiornya menjadi atap dari malleolar mortise (menghantarkan berat badan ke talus) dan bagian medial malleolus berartikulasi dengan permukaan medial talus (Gambar 4). Kedua malleolus memegang talus sangat kuat seperti batu dalam mortise ketika pergerakan dari pergelangan kaki. Kekuatan pegangan malleoli pada trochlear paling kuat ketika dorsifleksi dari kaki karena bagian paling lebar dari trochlea masuk ke artikulasi tibia dan fibula), sedangkan pada saat plantar fleksi terjadi sebaliknya (pada keadaan plantarfleksi sendi ini paling tidak stabil karena alasan tersebut).

1
Gambar 4. Sendi Pergelangan kaki atau articulation talocruralis (Ankle Joint)
Gambar dikutip dari: Moore KL, Agur AMR, Dalley AF. Chapter 5. Lower Limbs. In: Moore KL, Agur AMR, Dalley AF. Essential Clinical Anatomy. 4th edition. Lippincott Williams & Wilkins. p.317-405

Stabilitas sendi pergelangan kaki ditentukan sepenuhnya oleh struktur tulang dan ligamen.4,5 Terdapat 3 kelompok ligamen (Gambar 5) yang menyokong  articulatio talokruralis, antara lain ligamen syndesmosis, ligamen kolateral lateral yang terdiri dari anterior talofibular ligament (ATFL), posterior talofibular ligament (PTFL), dan calcaneofibular ligament (CFL), dan ligamen kolateral medial oleh deltoid ligamen yang menempel antara medial malleolus dan ke-empat lokasi, antara lain talus, calcaneus, dan navicular (bagian tibionavicular, tibiocalcaneal, anterior dan posterior tibiotalar).4,5,6 Secara umum ligamen-ligamen lateral berfungsi untuk menahan stres inversi dan rotasi interna, sedangkan ligamen deltoid berfungsi untuk melawan stres eversi dan rotasi eksterna (lebih jarang cedera). Kekuatan ligamen lateral tidak sekuat ligamen medial, oleh karena itu daerah lateral merupakan daerah cedera yang paling umum terjadi.

2
Gambar 5. Sendi Pergelangan kaki atau articulation talocruralis (Ankle Joint) dan ligamennya
Gambar dikutip dari: Moore KL, Agur AMR, Dalley AF. Chapter 5. Lower Limbs. In: Moore KL, Agur AMR, Dalley AF. Essential Clinical Anatomy. 4th edition. Lippincott Williams & Wilkins. p.317-405

Syndesmosis dari ankle merujuk pada selaput atau membran yang menghubungkan tibia dan fibula.5 Terdapat 3 jenis ligamen yang termasuk dalam syndesmosis (Gambar 6), antara lain anterior (anteroinferior) tibiofibular ligament (AITFL) yang paling umum terjadi cedera, posterior (posteroinferior) tibiofibular ligament (PITFL) yang terbagi menjadi dua bagian yaitu deep portion (inferior tranverse ligament (ITL) dan superficial portion, dan interosseous tibiofibular ligament (IOL).4,5 Syndesmosis ini berpengaruh terhadap kestabilan sendi pergelangan kaki, salah satu contoh adalah  saat terjadi pelebaran jarak antara lateral dan medial malleolus yang  terjadi dari plantarfleksi penuh ke dorsifleksi penuh (sekitar 1,5mm) dan rotasi tibia pada talus sebesar 6o terjadi ketika seseorang berjalan.5 Secara biomekanik AITFL berkontribusi sebesar 35%, IOL 22%, dan  PITFL deep sebesar 33% dan superficial 9% terhadap stabilitas sendi pergelangan kaki.5

3
Gambar 6. Syndesmosis dari ankle joint
Gambar dikutip dari: Marsh JL, Saltzman CL. Chapter 53. Ankle Fracture. In: Rockwood & Green’s Fracture in Adults. 6th Edition. Lippincott Williams & Wilkins, 2006. p. 2148-247

 

Anterior talofibular ligament (ATFL) menahan inversi ketika plantar fleksi dan CFL ketika dorsifleksi (Pada saat dorsifleksi ATFL tegang dan CFL renggang, sedangkan plantarfleksi terjadi sebaliknya).5,6 Calcaneofibular ligament (CFL) lebih tebal secara struktur, lebih kuat dibandingkan ATFL, dan berfungsi pula untuk mencegah adduksi pada posisi netral dan posisi dorsifleksi. Kekuatan CFL secara kasar 2-3,5 kali lipat dibandingkan ATFL.7  Selain itu, karena CFL terbentang dari lateral ankle joint sampai subtalar joint, ligamen ini berkontribusi terhadap stabilitas untuk sendi ankle dan subtalar. Posterior talofibular ligament (PTFL) merupakan ligamen yang paling kuat diantara ketiga ligamen di lateral.6 Ligamen ini mengalami tekanan paling kuat ketika dorsifleksi dan berfungsi membatasi posterior talar displacement dalam mortise dan rotasi eksterna dari talus. Apabila terdapat disrupsi pada ATFL dan CFL, PTFL berfungsi membatasi rotasi interna dan aduksi pergelangan kaki ketika dorsifleksi.

MEKANISME CEDERA

Mekanisme cedera pada fraktur malleolus pada pergelangan kaki umumnya meliputi gerakan rotasi atau memutar pada sendi, termasuk low-energy akibat terjatuh karena tersandung dengan gaya memutar atau high-energy akibat kecelakaan lalu lintas atau terjatuh dari ketinggian.8 Pola fraktur ditentukan oleh dua hal, antara lain posisi dari kaki dan arah gaya pada saat terjadi cedera (deforming force). Beberapa gerakan dari sendi pergelangan kaki yang harus diketahui sebelum mempelajari mekanisme cedera, antara lain dorsifleksi dan plantarfleksi, abduksi (bagian distal menjauhi plana medial) dan adduksi (bagian distal mendekati plana medial), inversi (bagian hindfoot menghadap ke medial) dan eversi (bagian hindfoot menghadap ke lateral), terakhir supinasi (kombinasi dari plantarfleksi, inversi, dan adduksi) dan pronasi (kombinasi dorsifleksi, eversi, dan abduksi).9,10  Posisi kaki dapat berupa supinasi atau pronasi (posisi supinasi menyebabkan  ligamen kolateral lateral tegang dan sebaliknya posisi pronasi mengakibatkan ligamen kolateral medial tegang), sedangkan arah gaya berupa transversal yaitu adduksi dan abduksi, atau  rotasi lateral.4.8

KLASIFIKASI

Ankle fracture dapat diklasifikasikan berdasarkan jumlah malleolus yang mengalami fraktur (monomalleolar, bimalleolar atau trimalleolar), berdasarkan mekanisme cedera yaitu klasifikasi Lauge-Hansen, dan berdasarkan lokasi fraktur fibula yaitu klasifikasi Danis-Weber (AO/Orthopaedic Trauma Association system).11 Klasifikasi Lauge-Hansen (1950) berfungsi sebagai pedoman untuk metode reduksi dan memberikan petunjuk adanya cedera ligamen yang terkait, namun beberapa dokter ortopedi merasa bahwa klasifikasi tersebut terlalu kompleks untuk digunakan.8 Klasifikasi Danis-Weber (1991) merupakan klasifikasi yang sangat sederhana, paling popular, dan lebih banyak digunakan karena kemudahannya.

Klasifikasi Lauge-Hansen mengelompokan fraktur pergelangan kaki menjadi, fraktur supinasi-aduksi, supinasi-eksternal rotasi, pronasi-abduksi, dan pronasi-eksternal rotasi.4,11 Pada semua tipe tersebut, cedera inisial dapat terisolasi pada hanya 1 bagian tertentu atau dapat terjadi cedera-cedera sekitar berikutnya sesuai tahapan yang ada. Tipe cedera yang paling umum dalam klasifikasi ini adalah tipe supinasi-eksternal rotasi (SER).4 Cedera dimulai secara lateral pada bagian ATFL, menuju eksternal, malleolus lateral atau fraktur oblik spiral dari fibula distal, PTFL atau posterior malleolus, dan terakhir struktur medial yaitu fraktur malleolus medial atau ruptur ligamen deltoid (Gambar 7).4,11 Cedera tipe supinasi-aduksi (SA) dikarakteristikan dengan adanya fraktur transverse dari distal fibula dan fraktur vertikal relatif dari malleolus medial (Gambar 7), sedangkan cedera pronasi-abduksi menyebabkan fraktur transverse dari malleolus medial dan fraktur oblik pendek pada fibula (relatif horizontal pada x-ray lateral). Cedera pronasi-eksternal rotasi (PER) dikarakteristikan dengan adanya robekan pada ligamen deltoid atau fraktur pada malleolus medial dan fraktur oblik spiral pada fibula yang letaknya relatif tinggi dari sendi pergelangan kaki (Gambar 8).11

4 4.1
Gambar 7. Cedera Supinasi-Eksternal Rotasi (SER) dan Supinasi-Adduksi
Gambar dikutip dari: Marsh JL, Saltzman CL. Chapter 53. Ankle Fracture. In: Rockwood & Green’s Fracture in Adults. 6th Edition. Lippincott Williams & Wilkins, 2006. p. 2148-247

5

5.1
Gambar 8. Cedera Pronasi-Eksternal Rotasi (PER) dan Pronasi-Abduksi
Gambar dikutip dari: Marsh JL, Saltzman CL. Chapter 53. Ankle Fracture. In: Rockwood & Green’s Fracture in Adults. 6th Edition. Lippincott Williams & Wilkins, 2006. p. 2148-247

   Klasifikasi yang paling sederhana adalah klasifikasi Danis-Weber yang mengklasifikasikan fraktur ankle menjadi tipe A, B, dan C berdasarkan level dari fraktur fibula yang terjadi (Gambar 9). Termasuk tipe A bila fraktur fibula terjadi dibawah tingkat sindesmosis tibia-fibula distal, tipe B pada tingkat sindesmosis, dan level C bila diatasnya.4 Klasifikasi ini sederhana dan berguna memberikan pedoman bagi tatalaksana. Tipe A umumnya tidak membutuhkan pendekatan pembedahan, tipe B membutuhkan stabilisasi dari malleolus lateral, dan tipe C membutuhkan penanganan seperti tipe B ditambah dengan fiksasi dari sindesmosis.4  Sayangnya pengalaman klinis dan studi-studi biomekanik telah memperlihatkan penggunaan klasifikasi ini untuk menentukan perlu-tidaknya tindakan pembedahan terlalu sederhana dan umumnya tidak cukup akurat sehingga tidak terlalu berguna secara klinis. Penentuan adanya cedera sindesmosis tidak akurat hanya dengan level fraktur dari fibula. Fraktur tipe B mungkin mengalami cedera sindesmosis, dan tipe C dapat menjadi stabil setelah reduksi dan fiksasi dari fibula tanpa stabilisasi dari sindesmosis, dan pada kasus tertentu cukup stabil sehingga tidak membutuhkan reduksi dan fiksasi os fibula.

6
Gambar 9. Klasifikasi Danis-Weber
Gambar dikutip dari: Whittle AP. Chapter 51. Fractures of the Lower Extremity. In: Canale ST, Beaty JH. Campbell’s Operative Orthopaedics. Eleventh Edition. Volume 3. Mosby, El Sevier.  p.3085-237.

Klasifikasi AO/OTA merupakan pembaharuan dari klasifikasi Danis-Weber dan mengklasifikasikan lebih lanjut menjadi 9 subtipe dan 27 subkelompok.4 Tiga tetap dipertahankan sesuai dengan klasifikasi Danis-Weber yaitu tipe A (infrasyndesmotic), tipe B (transsyndesmotic), dan tipe C (suprasyndesmotic). Tiap tipe diklasifikasikan lebih lanjut menjadi 3 subtipe untuk masing-masing tipe (Gambar 10) dan 27 subkelompok berdasarkan terkaitnya cedera dengan struktur sekitar.4,11 Sayangnya, klasifikasi yang awalnya sederhana menjadi sangat kompleks dan sulit untuk digunakan sehingga tidak banyak diterapkan secara klinis.4

7
Gambar 10. Tipe dan Subtipe dari klasifikasi AO/ATO
Gambar dikutip dari: Whittle AP. Chapter 51. Fractures of the Lower Extremity. In: Canale ST, Beaty JH. Campbell’s Operative Orthopaedics. Eleventh Edition. Volume 3. Mosby, El Sevier.  p.3085-237.

             Klasifikasi lainnya adalah klasifikasi fraktur pergelangan kaki stabil dan tidak stabil. Klasifikasi yang sangat sederhana ini memiliki fungsi klinis yang sangat penting karena akan menentukan tatalaksana selanjutnya. Fraktur yang stabil memiliki prognosis yang baik dengan penanganan konservatif yang sederhana, sedangkan yang tidak stabil umumnya membutuhkan reduksi dan fiksasi. Kesulitannya terletak pada batas stabil-tidaknya fraktur tersebut karena pada realitanya banyak daerah abu-abu untuk membedakan stabil dan tidak stabil.4

Fraktur yang stabil umumnya didefinisikan sebagai adanya kombinasi antara tidak adanya displacement fraktur yang mengganggu fungsi jangka panjang dan kemampuan pergelangan kaki yang mengalami cedera untuk tidak mengalami displacement lebih lanjut akibat gaya rutin fisiologis sehari-hari, sedangkan fraktur yang tidak memenuhi kriteria tersebut digolongkan tidak stabil.4 Foto X-ray awal umumnya dapat membedakan kedua klasifikasi tersebut, apabila terdapat dislokasi atau pergerakan (subluksasi) talus maka fraktur digolongkan tidak stabil. Fraktur stabil tidak mengalami (atau hanya sedikit) cedera pada sisi medial (fraktur malleolus medial atau ruptur ligamen deltoid).4

8
Gambar 11. Ringkasan klasifikasi dan implikasinya
Gambar dikutip dari: Marsh JL, Saltzman CL. Chapter 53. Ankle Fracture. In: Rockwood & Green’s Fracture in Adults. 6th Edition. Lippincott Williams & Wilkins, 2006. p. 2148-247

DIAGNOSIS

Manifestasi Klinis

Adanya riwayat terjatuh dengan gaya memutar (rotasional) pada daerah pergelangan kaki baik karena tersandung pada aktivitas sehari-hari maupun pada atlit-atlit olahraga, atau adanya kecelakaan lalu lintas yang menyebabkan cedera pada daerah pergelangan kaki disertai adanya nyeri hebat dan ketidakmampuan untuk menumpu dengan kaki tersebut harus mengarahkan klinisi terhadap kemungkinan terjadinya ankle fracture.2,4,8 Mekanisme terjadinya trauma yang spesifik umumnya menolong klinisi untuk menentukan tingkat keparahan dari cedera pergelangan kaki dan pola fraktur yang mungkin terjadi (sesuai klasifikasi Laugen-Hansen), namun seringkali pasien tidak ingat posisi kaki dan arah dari deforming energy.2 Kadangkala pasien menyatakan adanya deformitas pada kakinya yang kembali baik atau lebih baik ketika dalam perjalanan menuju rumah sakit.4 Pada pemeriksaan harus dilihat apakah terdapat ekimosis (hematom), deformitas (displacement ke lateral, medial, atau posterior), pembengkakan, luka terbuka (kemungkinan terjadinya fraktur terbuka atau minimal dapat memberikan gambaran daerah kemungkinan terjadinya fraktur), nyeri tekan tulang pada malleolus medial atau lateral (pada daerah distal tibia dan fibula), dan pemeriksaan neurovaskular distal (palpasi arteri dorsalis pedis, tibialis posterior, dan capillary refill time serta pemeriksaan motorik) untuk menentukan ada-tidaknya cedera neurovaskular yang terasosiasi dengan fraktur tersebut.   

Ottawa Ankle Rules (OARS) merupakan kriteria-kriteria klinis yang mengarahkan kemungkinan terjadinya ankle fracture antara lain usia 55 tahun keatas, ketidakmampuan untuk menumpu beban tubuh (weightbearing), atau adanya nyeri tekan tulang pada malleolus medial atau lateral.4  Adanya satu atau lebih dari kondisi klinis tersebut mengindikasikan dilakukannya pemeriksaan roentgen (x-ray) pada daerah ankle. Studi telah menunjukan penggunaan OARS memiliki sensitivitas mencapai hampir 100% untuk ankle fracture.

Pemeriksaan Radiologi

Pemeriksaan radiologi standar pada daerah pergelangan kaki, antara lain menggunakan x-ray ankle anteroposterior, lateral, dan mortise (internal rotasi sekitar 15o agar dapat melihat ankle mortise dengan lebih jelas).2,4 Pemeriksaan ini digunakan untuk menentukan alignment dan menyimpulkan tingkat stabilitas dari cedera yang terjadi. Beberapa aspek yang harus dinilai untuk menentukan alignment (Gambar 12), antara lain subchondral bone line (menentukan ada-tidaknya pemendekan, rotasi, atau displacement dari fibula), talocrural angle (sekitar 83o) untuk menentukan adanya pemendekan dari fibula, medial clear space menentukan adanya lateral shift dari talus, dan syndesmotic widening (<6 mm).4   

9
Gambar 12. Aspek yang perlu dinilai untuk menentukan alignment yang normal pada ankle joint
Gambar dikutip dari: Marsh JL, Saltzman CL. Chapter 53. Ankle Fracture. In: Rockwood & Green’s Fracture in Adults. 6th Edition. Lippincott Williams & Wilkins, 2006. p. 2148-247

Pemeriksaan lain seperti CT-scan dan MRI merupakan pemeriksaan lebih lanjut apabila pemeriksaan x-ray memberikan hasil yang abu-abu. Pemeriksaan MRI jauh lebih superior daripada X-ray dan CT-scan karena dapat memperlihatkan adanya kerusakan tidak hanya pada tulang, tetapi juga ligamen, tendon, dan soft tissue lainnya.

TATALAKSANA

Tatalaksana dari ankle fracture sangat tergantung dari tingkat kestabilannya. Secara umum fraktur tanpa dislokasi (dan subluksasi) dan stabil dapat ditangani secara konservatif sedangkan yang tidak stabil membutuhkan penanganan operatif. Hal penting yang perlu diingat adalah ankle fracture umumnya tidak stabil. Pada bagian tatalaksana ini, akan dijelaskan tipe penanganan berdasarkan ada-tidaknya displacement pada ankle fracture dan berdasarkan klasifikasi Danis-Weber.8,12

Fraktur Danis-Weber Tipe A

Fraktur undisplaced Weber tipe A adalah fraktur yang stabil dan hanya membutuhkan splinting yang minimal (menggunakan elastic verband) sampai fraktur sembuh (terapi konservatif).4 Walking boot dapat digunakan untuk mengurangi nyeri selama mobilisasi.12 Penggunaan ankle support seperti walking boot dan brace dapat digunakan selama 4-6 minggu dan weight bearing dapat dimulai setelah gejala membaik. Apabila ditemukan adanya fraktur pada malleolus medial, umumnya cedera tidak stabil, dan membutuhkan open reduction internal fixation.8,12 Penggunaan fiksasi interna pada malleolus medial dengan satu atau dua screw hampir parallel dengan sendi pergelangan kaki direkomendasikan, sedangkan fraktur malleolus lateral difiksasi dengan plate and screw atau tension-band wiring.8

Fraktur Danis-Weber Tipe B

Fraktur Danis-Weber Tipe B yang undisplaced memiliki potensi tidak stabil apabila terdapat robekan dari tibiofibular ligamen atau adanya cedera pada daerah medial (fraktur malleolus medial atau robekan ligamen deltoid). Apabila stabil, dapat dilakukan terapi konservatif dengan penggunaan gips selama 6-8 minggu. Fraktur Pola fraktur Danis-Weber Tipe B yang displaced umumnya yaitu fraktur spiral fibula disertai fraktur oblik dari malleolus medial yang disebabkan oleh supinasi-eksternal rotasi (SER). Walaupun penggunaan closed reduction dengan penggunaan gips dapat dilakukan, namun cedera ini lebih umum ditangani dengan open reduction internal fixation.8 Tindakan operatif secara umum diindikasikan bila terdapat fraktur bimalleolar, fraktur trimalleolar, fraktur malleolus lateral dengan pergerakan talus, dan fraktur-dislokasi.12 Fiksasi interna dapat menggunakan screw saja, atau plate and screw. Apabila terdapat cedera sindesmosis, maka tindakan yang dilakukan adalah menggunakan screw yang dimasukan dari fibula ke tibia pada level 2-4cm diatas sendi pergelangan kaki dan mengarah 30o secara anterior.12

Fraktur Danis-Weber Tipe C

Fraktur Danis-Weber Tipe C yang undisplaced seringkali menipu dan ternyata diikuti dengan adanya disrupsi pada struktur medial dari sendi, sindesmosis tibiofibular, dan interosseous membrane.8  Hampir seluruh fraktur Danis-Weber tipe C tidak stabil, oleh karena itu fraktur ini umumnya ditangani dengan open reduction internal fixation.8,12 Langkah awal adalah mereduksi fibula dan distabilisasi dengan plate and screw, kemudian (apabila terdapat fraktur malleolus medial) malleolus medial juga difiksasi dengan screw. Sindesmosis diperiksa dengan cara menggunakan hook untuk menarik fibula ke arah lateral, apabila terjadi robekan ligamen maka sendi ankle akan membuka. Sindesmosis distabilisasi dengan menggunakan screw seperti dijelaskan sebelumnya (dengan keadaan dorsifleksi 10o ketika screw dimasukan).8

KOMPLIKASI

Komplikasi pada ankle fracture dikelompokkan menjadi dua, antara lain komplikasi dini (early complications) dan komplikasi lanjut (late complications).8 Komplikasi dini, mencakup cedera vaskular, infeksi, ruptur tendon Achilles dan compartment syndrome sedangkan komplikasi lanjut berupa malunion, non-union, joint stiffness, algodystrophy, osteoarthritis sekunder.4,8

Open ankle fracture tidak lebih sering terjadi dibandingkan closed fracture pada daerah pergelangan kaki yaitu hanya mencakup 2% dari seluruh ankle fracture.4 Daerah medial dua sampai empat kali lebih sering dibanding lateral karena adanya dislokasi talus yang mendorong tibia ke arah medial dan umumnya terjadi akibat high energy injuries (kecelakaan lalu lintas atau jatuh dari ketinggian menjadi penyebab 60% dari seluruh open ankle fracture).4,11 Adanya gangguan neurovaskular distal mengindikasikan perlunya dilakukan reduksi dini dan diimobilisasi dengan splint. Penggunaan internal fixation setelah dilakukan tindakan irigasi dan debridemen merupakan tindakan yang aman dan efektif untuk open ankle fractures.

PROGNOSIS

Pasien dengan ankle fractures apabila ditangani secara sesuai memiliki prognosis yang baik. Adanya penyakit diabetes mellitus meningkatkan resiko terjadinya komplikasi pada pasien. Jumlah malleolus yang mengalami fraktur mempengaruhi prognosis (fraktur trimalleolar < bimalleolar < unimalleolar). Penggunaan klasifikasi Danis-Weber untuk menentukan prognosis tidak dianjurkan tidak menggambarkan prognosis dengan tepat (Fraktur tipe C dengan cedera sindesmosis tidak memiliki prognosis yang lebih buruk dibandingkan Weber tipe A dan B).4

DAFTAR PUSTAKA

  1. Hafiz et al. Ankle Fractures: The Operative Outcome. Malaysian Orthopaedic Journal 2011;5(1):40-3
  2. Bugler KE, White TO, Thordarson DB. Focus on Ankle Fracture. J Bone Joint Surg Br 2012;1:1-4
  3. Hsu RY, Bariteau J. Management of Ankle Fracture. R I Med J 2013; 96(5):23-7.
  4. Marsh JL, Saltzman CL. Chapter 53. Ankle Fracture. In: Rockwood & Green’s Fracture in Adults. 6th Lippincott Williams & Wilkins, 2006. p. 2148-247
  5. Moore KL, Agur AMR, Dalley AF. Chapter 5. Lower Limbs. In: Moore KL, Agur AMR, Dalley AF. Essential Clinical Anatomy. 4th Lippincott Williams & Wilkins. p.317-405
  6. Hoagland TM, Gest TR, Ankle Joint Anatomy. EmedicineMedscape Accessed by: http://emedicine.medscape.com/article/1946201-overview
  7. Attarian DE, McCrackin HJ, DeVito DP, McElhaney JH, Garrett WE Jr. Biomechanical characteristics of human ankle ligaments.Foot Ankle. Oct 1985;6(2):54-8
  8. Bowyer G. Chapter 31. Injuries of the Ankle and Foot. In: Solomon L, Warwick D, Nayagam S. Apley’s System of Orthopaedics and Fractures. 9th Hodder Arnold, London. 2010. p. 907-34
  9. Germain BC. Chapter 7. The Ankle & Foot. In: Germain BC. Anatomy of Movement. Revised Edition. Eastland Press, Seattle. 2007. p. 257-98
  10. Young CC, Niedfeldt MW, Morris GA, Eerkes KJ. Clinical Examination of the Foot and Ankle. Prim Care Clin Office Pract 2005;32:105-32
  11. Whittle AP. Chapter 51. Fractures of the Lower Extremity. In: Canale ST, Beaty JH. Campbell’s Operative Orthopaedics. Eleventh Edition. Volume 3. Mosby, El Sevier. 3085-237.
  12. Hlezna Z. Current Concepts Review: Ankle Fractures. Acta Chirurgiae Orthopaedicae 2012;79:473-83

4 Comments

  1. andra said:

    help me
    kirim penjelasan ini ke email saya…
    saya untuk paparan atau sosialisasi kepada masyarakat indonesia
    karena penjelasan dr. sangat lah bagus
    terima kasih.
    salam hormat

    October 17, 2015
    Reply
    • Pak Anda,

      Terima kasih atas responnya, silahkan dipergunakan untuk paparan kepada masyarakat.

      Regards,

      dr. Ian Huang

      November 6, 2015
      Reply
  2. Mukhlis said:

    Sebelumnya terima kasih atas informasinya dokter. Saya saat ini sedang terkena ankle fracture di bagian medial malleolus. Penanganannya sudah di gip selama 6 minggu, kemudian gip dilepas krn sudah ada kenampakkan tulang yg tumbuh. Setelah 3 minggu gip dilepas, jalan masih dibantu kruk hasil rontgen menunjukkan tulang yg tumbuh kembali memudar(terlihat garis hitam tulang yg retak) dr dokter menyarankan untuk di gip ulang atau di screw. Saat ini sudah 11 minggu pasca kejadian. Menurut dokter bagaimana penganan yg tepat buat saya untuk saat ini ?

    October 23, 2015
    Reply
    • Pak Mukhlis,
      Fraktur di bagian ankle memang seringkali tidak stabil dan membutuhkan penanganan operatif untuk menunjang kestabilan sendi ankle, namun keputusan untuk melakukan tindakan operasi atau konservatif sangat tergantung dokter spesialis ortopedi yang menangani anda.

      Setelah 11 minggu pasca kejadian, apakah sudah dironsen ulang? Bagaimanakah hasilnya? apabila pemulihan sambungan tulang tidak baik, mungkin ada baiknya harus konsultasi lagi untuk dilakukan tindakan lebih lanjut baik operatif (pemasangan screw) atau gips.

      Regards,
      dr. Ian Huang

      November 6, 2015
      Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *