Anemia Hemolitik Pada Anak

Anemia merupakan sebuah permasalahan kesehatan global yang mempengaruhi baik negara berkembang maupun negara maju dengan konsekuensi terhadap kesehatan dan perkembangan sosio-ekonomik.1 Anemia dapat ditemukan dalam setiap kelompok umur, namun mayoritas ditemukan pada wanita hamil dan anak-anak.1 Efek klinis anemia bergantung pada durasi dan tingkat keparahannya. Anemia yang timbul secara akut dapat menyebabkan kegagalan fungsi kardiovaskular yang akan berlanjut pada hipoksemia dan hipovolemia yang apabila tidak ditangani dapat menyebabkan kerusakan otak, kegagalan multiorgan (multiorgan failure), dan kematian.2 Anemia yang terjadi secara perlahan (kronik) akan memberikan waktu bagi tubuh untuk melakukan kompensasi sehingga memperlambat komplikasi yang mungkin terjadi, namun anemia berkepanjangan dapat menyebabkan gagal tumbuh kembang pada anak (failure to thrive).3

Anemia pada anak umumnya disebabkan oleh penurunan produksi sel darah merah atau peningkatan hemolisis.4 Anemia hemolitik merupakan salah satu jenis anemia dengan etiologi dan tingkat keparahan anemia yang bervariasi dari anemia yang asimtomatik sampai mengancam nyawa. Beragamnya variasi etiologi dan tingkat keparahan anemia menuntut dokter untuk dapat melakukan pendekatan diagnosis yang efektif dan efisien pada anemia hemolitik supaya terapi yang sesuai dapat dilaksanakan.

Terdorong oleh latar belakang tersebut, penulisan literatur ini akan mencakup anemia hemolitik pada anak, terutama mengenai epidemiologi, definisi,  patofisiologi, manifestasi klinis dan diagnosis, dan penatalaksanaannya.

EPIDEMIOLOGI

Anemia merupakan kelainan nilai laboratorium yang paling umum ditemukan dalam praktik dokter anak.5 Penyebab utama anemia pada anak di seluruh negara adalah anemia defisiensi besi, namun anemia hemolitik merupakan anemia yang berhubungan dengan mortalitas yang tinggi.5 Anemia hemolitik memiliki beragam etiologi dan prevalensi yang berbeda satu dengan yang lainnya, defisiensi glucose-6-phosphate dehydrogenase memiliki prevalensi yang tinggi dengan estimasi lebih dari 500 juta orang di dunia (mayoritas asimtomatik) dan merupakan penyebab paling umum dari anemia hemolitik akut.6 Hereditary spherocytosis adalah anemia hemolitik defek membran yang ditemukan di seluruh kelompok ras dan etnis, namun paling umum ditemukan pada di Eropa utara dengan estimasi sekitar 1 dari 5000 orang.7,8 Kelainan hemoglobin seperti sickle cell disease merupakan penyakit genetik yang paling umum terdeteksi dalam program skrining neonatus di Amerika Serikat yaitu 1 dari 2647 kelahiran.9 Sekitar 3% dari populasi dunia membawa gen ?-thalassemia dan 5-10% dari seluruh populasi di Asia Tenggara membawa gen ?-thalassemia.9 Autoimmune Hemolytic Anemia (AIHA) primer tidak jarang terjadi, estimasi 1 dari 80.000 populasi per tahun.10

DEFINISI

Anemia secara umum didefinisikan sebagai suatu keadaan dimana terjadi penurunan massa sel darah merah atau konsentrasi hemoglobin di dalam darah.11 Kadar hemoglobin yang didefinisikan sebagai anemia pada bayi dan anak berbeda dengan dewasa. Batas bawah konsentrasi hemoglobin normal ketika lahir adalah 14 g/dL dan akan mengalami penurunan sampai 11 g/dL pada umur 1 tahun (Tabel 1).2

Anemia dapat diklasifikasikan berdasarkan patofisiologinya, antara lain penurunan produksi sel darah merah merah, baik yang dikarenakan ineffective erythropoiesis maupun aplasia sumsum tulang, peningkatan destruksi sel darah merah (hemolisis), dan perdarahan.12 Anemia hemolitik didefinisikan sebagai destruksi prematur sel darah merah.13 Patofisiologi terjadinya anemia hemolitik akan dibahas secara detil pada bagian berikutnya.

Tabel 1. Karakteristik Sel Darah Merah pada Anak

1

(Tabel dikutip dari: Means RT, Glader B. Anemia: General Considerations. In: Greer et al. Wintrobe’s Clinical Hematology 12th Edition. Lippincott Williams & Wilkins 2009; p. 780-809.)

PATOFISIOLOGI

Pengetahuan mengenai eritropoiesis, hemoglobin, metabolisme, usia dan destruksi sel darah merah, serta etiologi dan patogenesis terjadinya anemia hemolitik pada anak mutlak harus dimengerti terlebih dahulu agar dapat menggunakan sarana pemeriksaan untuk menunjang diagnosis secara efisien dan memberikan terapi yang sesuai.

Hematopoiesis

Hematopoiesis sudah terjadi sejak fetus, namun terdapat lokasi anatomis hematopoiesis yang berbeda pada orang dewasa. Hematopoiesis fetus terjadi pada tiga lokasi anatomis: mesoblastik, hepatik, dan myeloid.14 Hematopoiesis mesoblastik terjadi pada struktur ekstraembrionik, secara prinsip di yolk sac, dan mulai terjadi antara hari ke-10 dan hari ke-14 masa kehamilan. Pada masa kehamilan antara minggu ke-6 dan ke-8, liver menggantikan yolk sac sebagai lokasi primer hematopoiesis dan antara minggu ke-10 dan ke-12 hematopoiesis ekstraembrionik sudah tidak terjadi. Hematopoiesis hepatik terjadi sepanjang masa gestasi, namun pada trimester kedua mulai mengalami penurunan seiring dengan peningkatan hematopoiesis pada sumsum tulang (myeloid). Liver tetap menjadi organ hematopoietik yang dominan sampai masa gestasi 20-24 minggu.14 Pada bulan akhir masa kehamilan dan setelah kelahiran, sel darah merah secara eksklusif diproduksi oleh sumsum tulang.15

Pluripotential hematopoietic stem cell (PHSC) merupakan sel tunggal dari sumsum tulang yang merupakan induk dari seluruh sel darah dan mampu untuk melakukan self-renewal.14,15 Adanya kemampuan self-renewal menyebabkan kemampuan sumsum tulang untuk terus memproduksi sel-sel darah, walaupun jumlahnya akan semakin berkurang seiring dengan bertambahnya usia.15  Pertumbuhan dan diferensiasi dari stem cell sampai sel darah dewasa yang spesifik membutuhkan keberadaan dari hematopoietic growth factor.14 Gambar 1 menunjukan diferensiasi dari PHSC sampai menjadi sel-sel darah yang dikenal, seperti eritrosit, leukosit (eosinofil, neutrofil, basofil, monosit, dan limfosit), dan trombosit.

Eritropoiesis

Colony Forming Unit-Erythrocyte (CFU-E) stem cells akan berdiferensiasi menjadi proerythroblast yang kemudian membelah beberapa kali sampai menjadi eritrosit dewasa.15 Maturasi dari eritrosit mencakup sintesis hemoglobin dan pembentukan badan eritrosit yang kecil, tanpa inti, dan bentuk bikonkaf.16 Beberapa perubahan tingkat seluler terjadi ketika maturasi eritrosit. Volume sel dan nukleus berkurang, dan nukleolus semakin mengecil sampai menghilang.16  Kromatin akan berkondensasi dan mengecil sampai dikeluarkan dari sel.15,16 Terdapat penurunan gradual dari ribosom (penurunan basophilia) yang diikuti dengan peningkatan jumlah dari hemoglobin dalam sitoplasma. Mitokondria dan organel lain secara gradual akan menghilang.16 Sintesis hemoglobin dimulai sejak dalam proerythroblast dan terus berlanjut hingga fase retikulosit dari eritrosit (Gambar 2).15

2

Gambar 1. Hematopoiesis dan eritropoiesis fisiologis yang terjadi di dalam tubuh manusia
(Gambar dikutip dari Guyton AC, Hall JE. Textbook of Medical Physiology. 11th ed. Saunders, 2006.  p. 419-428)

3

Gambar 2. Sintesis dari hemoglobin
(Gambar dikutip dari Guyton AC, Hall JE. Textbook of Medical Physiology. 11th ed. Saunders, 2006.  p. 419-428)

Jumlah sel darah merah di dalam sistem sirkulasi harus diregulasi karena dua alasan penting, antara lain supaya jumlah sel darah merah yang adekuat selalu tersedia untuk memenuhi kebutuhan oksigen jaringan, namun juga agar sel darah merah tidak berlebihan hingga menghambat aliran darah.15 Regulasi dari produksi sel darah merah secara utama dipengaruhi oleh hormon eritropoietin (EPO) yang produksinya sangat tergantung dari oksigenasi jaringan (Gambar 3).15,17 Pada orang dewasa normal, hormon EPO 90% diproduksi di ginjal dan 10% sisanya secara utama oleh liver.15 Sebaliknya pada fetus, liver berperan lebih dominan daripada ginjal dalam memproduksi EPO, namun mekanisme perpindahan dominasi produksi EPO dari liver ke ginjal masih belum diketahui sampai sekarang.17

.4
Gambar 3. Pengaruh oksigenasi jaringan dan eritropoietin terhadap eritropoiesis
(Gambar dikutip dari Guyton AC, Hall JE. Textbook of Medical Physiology. 11th ed. Saunders, 2006.  p. 419-428)

Metabolisme, Usia, dan Destruksi eritrosit

Eritrosit tidak memiliki nukleus sehingga tidak mampu untuk melakukan sintesis protein.14 Hal ini menyebabkan usia dari eritrosit yang terbatas karena ketidakmampuan untuk mengganti atau memperbaiki protein-protein vital yang dibutuhkan untuk kelangsungan hidup, walaupun sebenarnya mekanisme definit penyebab terjadinya destruksi pada eritrosit tua belum diketahui secara jelas.18 Usia eritrosit normal sekitar 120 hari.3,13 Selain nukleus, sel darah merah dewasa juga tidak memiliki mitokondria sehingga adenosine triphosphate (ATP) tidak dapat dihasilkan melalui siklus Krebs, melainkan melalui glikolisis anaerobik (Embden-Meyerhof pathway); sekitar 10% dari glukosa dimetabolisme melalui pentose phosphate pathway.14

Destruksi eritrosit terjadi melalui dua mekanisme, antara lain secara intravaskular maupun ekstravaskular.3 Secara fisiologis, destruksi eritrosit intravaskular hanya terjadi secara minimal (sekitar 10-20%), sedangkan 80-90% terjadi di ekstravaskular yaitu melalui makrofag yang terdapat di limpa.18 Limpa atau spleen berfungsi sebagai filter yang efisien untuk eritrosit yaitu tidak hanya menghancurkan eritrosit tua, namun juga membersihkan permukaan dan materi intraselular eritrosit.10 Makrofag (terutama di dalam limpa) mendeteksi perbedaan eritrosit muda dan eritrosit tua melalui deformabilitas dan atau perubahan permukaan eritrosit.3 Kemampuan deformabilitas harus dimiliki oleh eritrosit untuk melewati celah-celah sempit dari splenic pulp. Bentuk bikonkaf, komposisi membran, dan viskositas hemoglobin dalam eritrosit menentukan deformabilitasnya. Perubahan permukaan eritrosit dapat terjadi karena penempelan antibodi pada antigen permukaan eritrosit, komplemen, atau perubahan kimiawi.3

Anemia Hemolitik

Anemia hemolitik didefinisikan sebagai anemia yang terjadi ketika kecepatan destruksi prematur sel darah merah melampaui kapasitas sumsum tulang dalam memproduksi eritrosit.13 Anemia hemolitik dapat diklasifikasikan berdasarkan lokasi defeknya, antara lain defek selular dan ekstraselular (Gambar 4). Pada anemia hemolitik, usia eritrosit memendek, jumlah eritrosit menurun, EPO meningkat, dan terjadi peningkatan aktivitas sumsum tulang.13 Peningkatan eritropoiesis direfleksikan dengan ditemukannya peningkatan retikulosit di dalam darah. Sumsum tulang dapat meningkatkan produksinya sebanyak 2-3 kali lipat dari normal dalam keadaan akut dengan kapasitas maksimum sampai 6-8 kali pada hemolisis kronik.2,13

3

Gambar 5. Etiopatogenesis dari Anemia Hemolitik
(Sumber dari Segel GB. Definitions and Classification of Hemolytic Anemias. In: Kliegman RM, Behrman RE, Jenson HB, Stanton BF. Nelson Textbook of Pediatrics. 18th edition. Saunders 2007;457:p. 2018-2045)

ETIOLOGI

Menurut etiologinya, anemia hemolitik pada anak diklasifikasikan menjadi, antara lain anemia hemolitik dengan defek selular (intrinsik) yaitu defek membran (hereditary spherocytosis, hereditary elliptocytosis, hereditary pyropikilocytosis, hereditary stomatocytosis, dan paroxysmal nocturnal hemoglobinuria), defisiensi enzim (defisiensi piruvat kinase (PK) dan defisiensi glucose-6-phosphate dehydrogenase), dan hemoglobinopati (sickle cell disease dan thalassemia), dan anemia dengan defek ekstraselular (ekstrinsik) yaitu  autoimun (“Warm” dan “Cold” antibody), faktor mekanik, dan faktor plasma.2,13 Mayoritas defek intrinsik adalah penyakit yang diturunkan (inherited), sedangkan ekstrinsik umumnya didapat (acquired).2

MANIFESTASI KLINIS dan DIAGNOSIS

Pendekatan inisial pada pasien anemia, antara lain anamnesis yang detil, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan laboratorium esensial yang minimal.11 Manifestasi klinis dari anemia secara umum tergantung dari tingkat keparahan dan laju penurunan kapasitas angkut oksigen (oxygen-carrying capacity) dari darah, kapasitas kompensasi dari sistem kardiovaskular dan respirasi, dan fitur yang terasosiasi dengan etiologi utama yang menyebabkan anemia.2 Anemia yang progresifitasnya terjadi secara gradual tanpa disertai penyakit kardiopulmonal dapat menyebabkan kompensasi tubuh yang efektif sehingga pasien tidak akan mengalami gejala dan tanda klinis anemia sampai kadar Hb turun sampai atau dibawah 8 g/dL.2 Sebaliknya, bila anemia terjadi secara akut, sesak nafas, pusing atau pingsan (terutama dalam keadaan transisi dari posisi duduk atau tidur telentang), dan kelelahan hebat merupakan gejala yang prominen.2

Dalam anamnesis, gejala anemia hemolitik yang mungkin ditemukan antara lain gejala anemia non spesifik seperti kelemahan, toleransi aktivitas berkurang, sesak nafas atau gejala-gejala seperti sakit kepala, pusing, sinkop, demam, menggigil, nyeri abdomen dengan atau tanpa distensi, nyeri pinggang, urin gelap seperti teh atau kola (hemoglobinuria, biasanya pada anemia hemolitik intravaskular), ikterus (keadaan sekarang atau riwayat ikterus saat neonatus (biasanya berhubungan dengan etiologi anemia hemolitik kongenital seperti hereditary spherocytosis atau defisiensi G6PD), dan riwayat batu empedu.2,3 Etnis, usia, dan jenis kelamin pasien memiliki nilai cukup penting dalam mengarahkan diagnosis anemia hemolitik. Hemoglobinopati, seperti hemoglobin S dan C lebih umum ditemukan pada orang kulit hitam; thalassemia beta lebih umum ditemukan pada orang kulit putih; thalassemia alfa paling sering ditemukan pada orang kulit hitam dan kuning.11 Etiologi anemia hemolitik yang dicurigai pada neonatus adalah anemia hemolitik kongenital, sedangkan pada usia 3-6 bulan merupakan hemoglobinopati. Pada anak laki-laki etiologi anemia hemolitik kongenital yang dicurigai adalah penyakit yang diturunkan terpaut X (X­-linked disorder) seperti defisiensi G6PD dan piruvat kinase. Selain itu, riwayat keluarga (anemia, ikterus, batu empedu atau splenomegali), riwayat pengobatan (obat-obat pencetus anemia hemolitik), dan riwayat transfusi darah dapat pula mengarahkan diagnosis.3,11

Pada pemeriksaan fisik dapat ditemukan tanda-tanda ikterik (hiperbilirubinemia yang biasa ditemukan pada anemia hemolitik), pucat (tanda umum anemia), splenomegali, petekie atau purpura (anemia hemolitik autoimun dengan trombositopenia), ulkus pada ekstremitas bawah (hemoglobinopati), perubahan bentuk wajah (anemia hemolitik kongenital, thalassemia mayor), dan katarak (defisiensi G6PD).3,11

Penurunan kadar hemoglobin dan serum haptoglobin, peningkatan hitung retikulosit, bilirubin indirek, serum lactate dehydrogenase (LDH), urobilinogen urin, dan hemoglobinuria (+ darah pada urine dipstick, namun tidak ada eritrosit pada urin) merupakan hasil pemeriksaan penunjang yang dapat ditemukan pada anemia hemolitik.19 Pada pasien yang diduga dengan anemia hemolitik, pemeriksaan apusan darah tepi harus dilakukan karena mayoritas etiologi anemia hemolitik berhubungan dengan kelainan morfologi yang dapat dilihat pada apusan darah tepi (Tabel 2). Direct antiglobulin test (DAT) atau yang dikenal dengan Coombs test  dapat diperiksa untuk mengidentifikasi antibodi dan komponen komplemen pada permukaan eritrosit.10 Coombs test yang positif akan mengarahkan diagnosis ke autoimmune hemolytic anemia (AIHA). Pemeriksaan untuk mengkonfirmasi diagnosis anemia hemolitik lainnya, antara lain elektroforesis Hb, panel enzim eritrosit (G6PD, piruvat kinase), dan osmotic fragility test. Berikut adalah alur diagnostik yang dapat digunakan (Gambar 6):19

Tabel 2. Anemia hemolitik: kemungkinan diagnosis berdasarkan morfologi eritrosit

Morfologi Eritrosit Kemungkinan Diagnosis
Sickle cells Sickle cells disease
Target cells Hemoglobinopati (HbC, HbS, thalassemia, liver disease)
Schistocytes / burr cells / helmet cells / RBC fragments Microangiopathic hemolytic anemia – DIC, HUS, TTP
Spherocytes Hereditary spherocytosis, autoimmune hemolytic anemia
Cigar-shaped cells Hereditary elliptocytosis
“Bite” Cells Defisiensi G6PD
Poikilocytosis, microcytosis, fragmented erythrocytes, elliptocytes Hereditary pyropoikilocytosis

(Tabel dikutip dari: Berman BW. Chapter 48. Pallor and Anemia. In: Kliegman RM, Greenbaum LA, Lye PS. Practical Strategies in Pediatric Diagnosis and Therapy. 2nd edition. Philadelphia; Saunders; 2004. p.873-894)

 

 

1

Gambar 6. Alur diagnostik pasien anemia hemolitik
(Sumber: Berman BW. Chapter 48. Pallor and Anemia. In: Kliegman RM, Greenbaum LA, Lye PS. Practical Strategies in Pediatric Diagnosis and Therapy. 2nd edition. Philadelphia; Saunders; 2004. p.873-894)

PENATALAKSANAAN

Terapi pada anemia hemolitik umumnya bersifat suportif, seperti terapi transfusi, suplemen asam folat, dan splenektomi.13,19 Terapi spesifik diberikan tergantung etiologi dari anemia hemolitik itu sendiri, seperti pemberian imunosupresif pada autoimmune hemolytic anemia (AIHA), penggunaan antimalaria pada infeksi malaria, dan penghentian agen yang memperberat hemolisis pada defisiensi G6PD (Tabel 3).

Tabel 3. Agen Pencetus Hemolisis pada Defisiensi Glucose-6-Phosphate Dehydrogenase

2

(Tabel dikutip dari: Segel GB. Chapter 463. Enzymatic Defects. In: Kliegman RM, Behrman RE, Jenson HB, Stanton BF. Nelson Textbook of Pediatrics. 18th edition. Saunders, 2007. p. 2039-2042.)

Terapi Transfusi

Secara prinsip, indikasi utama pada transfusi eritrosit adalah pemberian eritrosit yang cukup untuk mencegah atau mengembalikan keadaan hipoksia jaringan yang diakibatkan kompensasi yang tidak adekuat.20 Transfusi umumnya diberikan bila anemia terjadi secara akut dan bergejala, pasien memiliki penyakit jantung atau paru, atau sebelum pembedahan mayor (Tabel 4).21 Gejala simtomatik anemia antara lain dispneu, takipneu, takikardia, apnea, bradikardi, kesulitan makan (feeding difficulties), dan letargi. Dosis transfusi umumnya 10-15 ml/kg dan diberikan dalam 2-4 jam.21

Tabel 4. Pedoman Transfusi Eritrosit pada Anak

2

(Tabel dikutip dari: Strauss RG. Chapter 470. Red Blood Cell Transfusions and Erythropoetin Therapy. In: Kliegman RM, Behrman RE, Jenson HB, Stanton BF. Nelson Textbook of Pediatrics. 18th edition. Saunders, 2007. p. 2055-2056.)

Pasien dengan anemia hemolitik akut atau kronik mungkin membutuhkan transfusi eritrosit, terutama pada saat terjadi krisis hemolitik atau aplastik.22 Pada autoimmune hemolytic anemia (AIHA) biasanya klinisi akan menemukan darah yang tidak inkompatibel dengan pasien. Pasien tersebut memproduksi antibodi yang bereaksi dengan seluruh eritrosit, termasuk eritrosit dirinya sendiri. Dalam keadaan tersebut, transfusi akan tetap dilakukan terutama pada kadar hemoglobin <6 g/dL, apabila transfusi tidak dilakukan justru akan membahayakan nyawa pasien.22 Anak dengan thalassemia mendapatkan keuntungan dari program hipertransfusi (hypertransfusion program) yaitu menjaga kadar hemoglobin diatas 9-10 gr/dL karena memampukan anak tersebut bertambah berat dan tinggi, memperbaiki hepatosplenomegaly, osteoporosis, dan dilasi jantung.20

Resiko transfusi antara lain infeksi, reaksi transfusi hemolitik dan nonhemolitik, kelebihan cairan (fluid overload), graft vs host disease, gangguan elektrolit dan keseimbangan asam-basa, reaksi alergi, acute lung injury, post transfusion purpura, hipotermia, dan transfusion hemosiderosis (iron overload) pada transfusi eritrosit jangka panjang.21,22  Transfusional hemosiderosis merupakan komplikasi transfusi eritrosit yang sering ditemukan pada pasien dengan thalassemia mayor, namun dapat dicegah dengan penggunaan deferoxamine. Deferoxamine mengikat besi dan beberapa kation bivalen sehingga dapat dieksresikan melalui urin dan feses. Obat ini diberikan dengan dosis 30-40 mg/kgbb secara subkutan dalam 8-12 jam (malam hari) dan minimal 5-6 malam dalam satu minggu.9 Selain deferoxamine, dikenal pula deferiprone dan deferasirox sebagai terapi pengikat besi lainnya. Deferiprone tidak lebih efektif dari deferoxamine dalam mengikat besi tubuh, namun lebih efektif dalam mengikat besi pada jantung (cardiac iron).9

Splenektomi

Indikasi splenektomi tersering adalah kelainan hematologi (Tabel 5).23 Splenektomi dilakukan pada pasien dengan anemia hemolitik karena dapat mengurangi anemia yang terjadi, namun pertimbangan untuk tindakan tersebut harus dipikirkan dengan matang karena resiko komplikasi yang mungkin terjadi. Secara umum, splenektomi dapat dipertimbangkan pada anemia hemolitik berat dengan etiologi tertentu, seperti hereditary spherocytosis, defisiensi piruvat kinase, warm-antibody autoimmune hemolytic anemia, dan hemoglobinopati (sickle cell anemia, thalassemia).13,24 Splenektomi pada defisiensi G6PD masih kontroversial.24 Komplikasi dari splenektomi antara lain komplikasi pascasplenektomi langsung (infeksi lokal, perdarahan, pankreatitis), sepsis pascasplenektomi, peningkatan resiko infeksi babesiosis dan malaria, trombosis dan tromboemboli.7 Splenektomi sebaiknya ditunda sampai pasien berusia 6-9 tahun karena resiko infeksi yang tinggi bila pembedahan dilakukan dibawah umur tersebut.7,13 Kegagalan splenektomi (Splenectomy failure) jarang terjadi, namun penyebab tersering dikarenakan accessory spleen yang tidak terangkat ketika pembedahan.7 Setiap kandidat splenektomi harus menerima vaksinasi, antara lain pneumococcus, meningococcus, dan H. influenza, dan antibiotik profilaksis pascasplenektomi yaitu penicillin V 125 mg dua kali sehari pada anak dibawah 5 tahun dan 250 mg dua kali sehari pada anak lebih besar dan orang dewasa (pada pasien alergi penicillin dapat diberikan eritromisin) selama minimal 5 tahun setelah pembedahan.7

Tabel 5. Indikasi Splenektomi pada Kelainan Hematologi

1 (Tabel dikutip dari: Crary SE, Buchanan GR. Vascular Complications after Splenectomy for Hematologic Disorders. Blood 2009; 114: 2861-2868.)

DAFTAR PUSTAKA

  1. Benoist B, McLean E, Cogswell M, Egli I, Wojdyla D. Worldwide prevalence of anaemia 1993–2005.WHO Global Database on Anaemia. Geneva, Switzerland: World Health Organization,2008
  2. Means RT, Glader B. Anemia: General Considerations. In: Greer et al. Wintrobe’s Clinical Hematology 12th Edition. Lippincott Williams & Wilkins 2009; p. 780-809.
  3. Zimbelman JD. Hemolytic Anemia. In: Bajaj L, Hambidge SJ, Kerby G, Nyquist AC. Berman’s Pediatric Decision Making. 5th ed. Philadelphia: Saunders; 2011. p.596-597.
  4. Jannus J, Moerschel SK. Evaluation of Anemia in Children. Am Fam Physician 2010; 81(12):1462-1471.
  5. Recht M, Mahoney DH, Hoppin AG. Overview of Hemolytic Anemias in Children. Uptodate 2012. Diakses dari: http://www.uptodate.com/contents/overview-of-hemolytic-anemias-in-children
  1. Luzzatto L, Poggi Vincenzo. Chapter 17. Glucose-6-Phosphate Dehydrogenase Deficiency. In: Orkin SH, Nathan DG, Ginsburg D, Look AT, Fisher DE, Lux SE. Nathan And Oski’s Hematology of Infancy and Childhood. 7th edition. Saunders, 2009. p. 883-907
  2. Grace RF, Lux SE. Chapter 15. Disorders of the Red Cell Membrane. In: Orkin SH, Nathan DG, Ginsburg D, Look AT, Fisher DE, Lux SE. Nathan And Oski’s Hematology of Infancy and Childhood. 7th edition. Saunders, 2009. p. 659-837
  3. Segel GB. Chapter 458. Hereditary Spherocytosis. In: Nelson Textbook of Pediatrics. 18th edition. Saunders, 2007. p. 2020-2023
  4. DeBaun MR, Vichinsky E. Chapter 462. Hemoglobinopathies. In: Nelson Textbook of Pediatrics. 18th edition. Saunders, 2007. p.2025-2038
  5. Ware RE. Chapter 14. Autoimmune Hemolytic Anemia. In: Orkin SH, Nathan DG, Ginsburg D, Look AT, Fisher DE, Lux SE. Nathan And Oski’s Hematology of Infancy and Childhood. 7th edition. Saunders, 2009. p. 613-658
  6. Brugnara C, Oski FA, Nathan DG. Chapter 10. Diagnostic Approach to the Anemic Patient. In: Orkin SH, Nathan DG, Ginsburg D, Look AT, Fisher DE, Lux SE. Nathan And Oski’s Hematology of Infancy and Childhood. 7th edition. Saunders, 2009. p. 456-466.
  7. Lissauer T, Clayden G. Illustrated Textbook of Paediatrics. 4th edition. Mosby 2012. p. 382-403.
  8. Segel GB. Chapter 457. Definitions and Classification of Hemolytic Anemias. In: Kliegman RM, Behrman RE, Jenson HB, Stanton BF. Nelson Textbook of Pediatrics. 18th edition. Saunders, 2007. p. 2018-2045.
  9. Ohls RK, Christensen RD. Chapter 446. Development of The Hematopoietic System. In: Kliegman RM, Behrman RE, Jenson HB, Stanton BF. Nelson Textbook of Pediatrics. 18th edition. Saunders, 2007. p. 1997-2003 .
  1. Guyton AC, Hall JE. Textbook of Medical Physiology. 11th ed. Saunders, 2006. p. 419-428
  2. Mescher AL. Chapter 13. Hemopoiesis. In: Mescher AL, ed. Junqueira’s Basic Histology: Text & Atlas. 12th ed. New York: McGraw-Hill; 2010. http://www.accessmedicine.com/content.aspx?aID=6181779. Accessed September 5, 2012.
  3. Sieff CA, Zon LI. Chapter 6. Anatomy and Physiology of Hematopoiesis. In: Orkin SH, Nathan DG, Ginsburg D, Look AT, Fisher DE, Lux SE. Nathan And Oski’s Hematology of Infancy and Childhood. 7th edition. Saunders, 2009. p. 195-246.
  4. Glader B. Chapter 8. Destruction of Erythrocytes. In: Greer et al. Wintrobe’s Clinical Hematology 12th Edition. Lippincott Williams & Wilkins 2009; p. 156-169
  5. Berman BW. Chapter 48. Pallor and Anemia. In: Kliegman RM, Greenbaum LA, Lye PS. Practical Strategies in Pediatric Diagnosis and Therapy. 2nd edition. Philadelphia; Saunders; 2004. p.873-894
  6. Sloan SR, Friedman DF, Kao G, Kaufman RM, Silberstein L. Chapter 35. Transfusion Medicine. In: Orkin SH, Nathan DG, Ginsburg D, Look AT, Fisher DE, Lux SE. Nathan And Oski’s Hematology of Infancy and Childhood. 7th edition. Saunders, 2009. p.1623-1675
  7. Strauss RG. Chapter 470. Red Blood Cell Transfusions and Erythropoetin Therapy. In: Kliegman RM, Behrman RE, Jenson HB, Stanton BF. Nelson Textbook of Pediatrics. 18th edition. Saunders, 2007. p. 2055-2056.
  8. Galel SA, Nguyen DD, Fontaine MJ, Goodnough LT, Viele MK. Chapter 23. Transfusion Medicine. In: Greer et al. Wintrobe’s Clinical Hematology 12th Edition. Lippincott Williams & Wilkins 2009. p. 673-721
  9. Crary SE, Buchanan GR. Vascular Complications after Splenectomy for Hematologic Disorders. Blood 2009; 114: 2861-2868
  10. Park AE, Godinez CD. Chapter 34. Spleen. In: Brunicardi FC, Andersen DK, Billiar TR, Dunn DL, Hunter JG, Matthews JB, Pollock RE, eds. Schwartz’s Principles of Surgery. 9th ed. New York: McGraw-Hill; 2010. http://www.accessmedicine.com/content.aspx?aID=5027844. Accessed September 9, 2012.
  11. Segel GB. Chapter 463. Enzymatic Defects. In: Kliegman RM, Behrman RE, Jenson HB, Stanton BF. Nelson Textbook of Pediatrics. 18th edition. Saunders, 2007. p. 2039-2042.

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *