Seberapa Jauh Anda Mengetahui Vaksin Untuk Anak Anda (Bagian 2)

Melanjutkan artikel dari dr. Ian Huang mengenai berbagai macam vaksinasi yang diberikan kepada anak anda (Baca disini), pada artikel kali ini saya akan membahas mengenai dua vaksin yang umumnya diberikan pada 6 bulan pertama kehidupan anak, yakni PCV (Pneumococcal Conjugate Vaccine) atau dikenal dengan vaksin pneumokokus dan vaksin DPT (Difteri, Pertusis dan Tetanus).

newborn

1. PCV (Pneumococcal Conjugate Vaccine)

Pemberian PCV direkomendasikan pada usia 2 bulan, 4 bulan dan 6 bulan kehidupan, lalu dilanjutkan dengan pemberian booster pada umur 12-15 bulan.

Vaksin ini mulai banyak digalangkan penggunaannya akibat bahaya yang dapat ditimbulkan oleh kuman Streptococcus Pneumoniae terhadap anak, terutama pada anak dibawah usia 5 tahun. Kuman ini dapat menyerang berbagai fungsi organ tubuh, mulai dari saluran nafas, telinga, hingga selaput otak, selain itu infeksi yang ditimbulkan seringkali berat hingga dapat menyebabkan kematian.

Berdasarkan penelitian terakhir dari Centers for Disease Control and Prevention (CDC), tingkat keefektifitasan vaksin PCV dalam mencegah infeksi Streptococcus Pneumoniae mencapai angka 97% setelah 3 kali pemberian vaksin PCV.

Di Indonesia terdapat dua macam vaksin PCV, yaitu PCV-10 dengan merek Synflorix® dan PCV-13 dengan merek Prevnar®. Perbedaan dari kedua merek ini hanyalah perbedaan tipe (serotype) Streptococcus Pneumoniae; Synflorix® memberikan kekebalan terhadap 10 serotype sedangkan Prevnar® memberikan kekebalan terhadap 13 serotype. Perbedaan ini tidaklah signifikan dalam mencegah penyakit IPD, keduanya terbukti efektif mencegah penyakit IPD hingga persentase > 90%.

Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI) pada pemberian PCV adalah reaksi lokal pada tempat suntikan (nyeri, bengkak, dan kemerahan), demam pada 24%-35% kasus, dan pada 80% kasus anak menjadi rewel dan terjadi penurunan nafsu makan.

“Vaksin pneumokokus atau PCV diberikan untuk mencegah beberapa penyakit, antara lain sepsis (infeksi berat), radang paru-paru (pneumonia), infeksi telinga tengah, dan radang selaput otak.”

2. DPT (Difteri, Pertusis dan Tetanus)

Vaksin difteri umumnya diberikan bersamaan dengan vaksin pertusis dan tetanus pada umur 2,4,6 bulan serta pada umur 15-18 bulan. Kombinasi vaksin ini dikenal dengan nama vaksin DPT dan berguna dalam mencegah tiga penyakit yakni difteri, pertusis dan tetanus. Sebelum membahas lebih jauh mengenai vaksin kombinasi ini, berikut akan dijelaskan terlebih dahulu mengenai ketiga penyakit yang dapat dicegah oleh pemberian vaksin ini.

Difteri

Difteri merupakan penyakit akibat kuman Corynebacterium diphtheria yang dapat menimbulkan infeksi saluran nafas bagian atas hingga kerongkongan. Penyakit ini termasuk berbahaya karena dapat menyebabkan penutupan jalan napas, bahkan dapat menyebabkan kematian pada 10% kasus infeksi difteri. Sejak pemberian vaksinasi rutin oleh pemerintah Indonesia, penyakit ini sudah sangat jarang dijumpai.

Gambaran Infeksi Difteri pada saluran TenggorokanGambar 1. Infeksi Difteri pada Saluran Tenggorokan menyebabkan terbentuknya sebuah lapisan berwarna putih yang mudah terluka.
Pembengkakan pada leher akibat infeksi Difteri
Gambar 2. Pembengkakan pada daerah leher akibat infeksi Difteri
Sumber: Buescher ES. Diphteria. Dalam: Kliegman RM, Stanton BF, Schor NF, Behrman RE dan Geme JW. Nelson Textbooks of Pediatric. Edisi ke-19 Amerika Serikat: Elsevier, 2011. hal. 181-3.

Pertusis

Pertusis yang dikenal dengan sebutan batuk 100 hari merupakan penyakit yang disebabkan oleh kuman Bordetella Pertussis dan merupakan salah satu penyakit infeksi saluran nafas yang masih sangat sering ditemukan di negara berkembang seperti Indonesia.

Gejala klinis penyakit ini dibagi menjadi 3 stadium. Stadium awal dimulai dengan batuk ringan, disertai dengan pilek, bersin-bersin, serta demam yang ringan

Pada stadium kedua, batuk muncul dalam bentuk suatu serangan dimana saat serangan terjadi, anak akan mengalami batuk-batuk hebat secara terus menerus hingga anak mengalami muntah ataupun timbul wajah kebiruan pada anak, serangan ini dapat terjadi sebanyak 15 kali dalam 24 jam (1 hari).

Pada stadium akhir, yakni fase penyembuhan, serangan akan muncul lebih jarang dan akan semakin berkurang dalam waktu 2-3 minggu.

Tetanus

Penyakit terakhir dari 3 penyakit yang dapat dicegah dengan vaksin DPT adalah tetanus, sebuah penyakit akibat racun yang dikeluarkan oleh kuman Clostridium Tetani. Kuman ini tersebar banyak di tanah, seringkali menginfeksi manusia melalui luka terbuka, atau pada bayi yang baru lahir dari ibu hamil yang tidak mendapatkan vaksinasi Tetanus selama masa kehamilan.

Dalam perjalanan penyakit ini kuman tetanus akan menyerang sistem saraf manusia, sehingga dapat menyebabkan kekakuan otot dan kejang. Komplikasi yang paling ditakutkan dari infeksi kuman ini adalah apabila terjadi kekakuan pada otot-otot pernafasan yang dapat menyebabkan kematian.

Kejang pada Infeksi Tetanus

Gambar 3. Kejang pada Infeksi Tetanus
Sumber: United States Centers for Disease Control and Prevention http://www.cdc.gov/tetanus/about/photos.html

Ketiga penyakit yang telah dijelaskan diatas merupakan penyakit yang dapat dengan mudah dicegah dengan pemberian vaksinasi. Vaksin DPT ini diberikan dalam satu kali suntikan, dan memiliki angka pencegahan yang sangat tinggi (>90%) apabila dilakukan minimal 3 kali pemberian (pada umur 2, 4 dan 6 bulan). Di Indonesia, vaksin DPT ini diberikan secara cuma-cuma dan tidak dikenakan biaya apabila anda melakukan imunisasi di Puskesmas ataupun Posyandu.

Di beberapa rumah sakit, vaksin ini tersedia dalam beberapa merek, dan beberapa diantaranya tidak menggunakan vaksin pertussis yang berisikan kuman pertusis lengkap (mati, biasa disebut whole cell), melainkan menggunakan hanya bagian tertentu dari komponen kuman tersebut (disebut acellular). Perbedaan ini menyebabkan KIPI yang ditimbulkan biasanya lebih minimal.

KIPI yang sering terjadi pada pemberian vaksin DPT adalah demam, reaksi lokal pada tempat suntikan seperti kemerahan, rasa nyeri dan bengkak. Pada anak yang mendapatkan vaksinasi DPT dengan kuman yang telah mati, KIPI yang didapat akan lebih ringan, terutama efek sistemik seperti demam, rewel, dan penurunan nafsu makan.

Beberapa merek vaksin DPT di Indonesia yang menggunakan vaksin pertussis yang sudah mati adalah Infanrix®, dan biasanya terdapat pada vaksin kombinasi antara DPT dengan HiB dan Polio seperti pada merek Pediacel® dan Infanrix-Hib-IPV® ataupun kombinasi DPT dengan Polio saja seperti merek Tetraxim®. Walaupun demikian, penggunaan vaksin DPT dengan kuman yang dilemahkan maupun kuman yang mati tidak memiliki perbedaan efektivitas yang signifikan, yakni > 90% setelah 3 kali pemberian.

 ”Vaksin DPT memberikan perlindungan terhadap 3 (tiga) jenis penyakit, yakni difteria, pertusis (batuk 100 hari), dan tetanus.”

Demikianlah pembahasan mengenai kedua jenis vaksin ini, semoga artikel ini dapat membantu para orang tua sekalian dalam menambah wawasan mengenai penyakit yang dapat dicegah melalui pemberian vaksin ini.

Pada artikel selanjutnya akan dibahas mengenai dua jenis vaksinasi lainnya yang umumnya dilakukan pada 12 bulan pertama kehidupan anak anda, yakni vaksin Bacillus Calmette–Guérin (BCG) yang berguna untuk mencegah penyakit tuberculosis (TBC) dan vaksin Measles, Mumps & Rubella (MMR) yang berguna untuk mencegah penyakit campak, gondongan dan campak jerman.

 

Daftar Pustaka

1. Centers for Disease Control and Prevention. Epidemiology and Prevention of Vaccine-Preventable Disease. Atkinson W, Hamborsky J, Wolfe S. 12th ed., second printing. Washington DC: Public Health Foundation, 2012.

2. Buescher ES. Diphteria. Dalam: Kliegman RM, Stanton BF, Schor NF, Behrman RE dan Geme JW. Nelson Textbooks of Pediatric. Edisi ke-19 Amerika Serikat: Elsevier, 2011. hal. 181-3.

3. Arnon SS. Tetanus. Dalam : Kliegman RM, Stanton BF, Schor NF, behrman RE dan Geme JW. Nelson Textbooks of Pediatric. Edisi ke-19 Amerika Serikat: Elsevier, 2011. hal. 991-4.

 

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *