Seberapa Jauh Anda Mengetahui Vaksin untuk Anak Anda (Bagian ke-3, BCG dan MMR)

Artikel ini melanjutkan tulisan terakhir saya mengenai vaksin (lihat disini). Pada kesempatan ini, saya akan membahas mengenai 2 (dua) jenis vaksin yang seringkali kontroversial. Vaksin pertama yang akan saya bahas adalah vaksin Bacillus Calmette–Guérin (BCG) yang diharapkan berfungsi mencegah penyakit Tuberkulosis (TBC) dan yang kedua adalah vaksin Measles-Mumps-Rubella (MMR) yang berguna untuk mencegah tiga penyakit, yakni Campak, Parotitis (penyakit Gondongan), dan Campak Jerman.

1. Bacillus Calmette–Guérin (BCG)

Penyakit tuberkulosis (TBC) disebabkan oleh infeksi kuman Mycobacterium Tuberculosis ke dalam tubuh manusia. Kuman ini masuk ke dalam tubuh melalui udara, kemudian akan berkolonisasi dan menginfeksi paru-paru manusia sebagai target serangan utamanya. Sistem kekebalan tubuh yang buruk dapat menyebabkan kuman TBC menyebar ke organ lain selain paru-paru, seperti ke usus, darah dan kelenjar getah bening, tulang, ginjal, tulang belakang dan bahkan ke otak.

Indonesia memiliki angka penyakit TBC yang sangat tinggi. Indonesia menempati urutan ke-3 dengan jumlah penyakit TBC terbanyak di Asia, oleh karena itu keberadaan vaksin untuk mencegah penyakit TBC sangatlah krusial.

Berbeda dengan vaksin lainnya, dimana vaksin dikembangkan dari kuman penyebab penyakit tersebut. Vaksin BCG terbilang unik karena dikembangkan dari kuman lain yang menyerupai kuman penyebab penyakit TBC, yakni Mycobacterium Bovis. Sampai artikel ini ditulis, tidak ada jenis vaksin TBC lainnya di seluruh dunia selain vaksin BCG.

Pemberian vaksin BCG hanya dilakukan 1 kali dalam seumur hidup anak anda, yakni dalam usia 2 bulan pertama. Setelah pemberian vaksin, umumnya bagian yang disuntikan akan membengkak seperti bisul, yang kemudian akan pecah dan membentuk jaringan parut (bekas luka).

Karena bukan menggunakan kuman penyebab TBC secara langsung, tingkat keefektifan penggunaan vaksin BCG seringkali dipertanyakan dan diperdebatkan di seluruh dunia. Puluhan penelitian di seluruh dunia memberikan angka efektivitas yang berbeda-beda, tetapi penelitian terakhir yang dilakukan oleh Centers for Disease Control and Prevention (CDC) menunjukan bahwa pemberian vaksin BCG memberikan keefektivitasan hingga 60-80%, dalam mencegah infeksi primer TBC ke paru-paru dan 80% efektif untuk mencegah komplikasi serius (penyebaran ke otak, tulang belakang, usus, tulang, ginjal, dll) akibat infeksi primer paru-paru TBC selama masa kanak-kanak. Penelitian tersebut juga menunjukan, bahwa kekebalan terhadap TBC lewat vaksin BCG akan menghilang setelah memasuki usia remaja dan dewasa.

baby-390555_640

2. Measles, Mumps & Rubella (MMR)

Vaksin MMR adalah vaksin yang terdiri dari 3 (tiga) komponen untuk mencegah tiga penyakit, yakni campak, parotitis (penyakit gondongan) dan campak jerman. Di Indonesia, sesuai dengan jadwal vaksinasi oleh Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), diberikan vaksin tunggal campak pada umur 9 bulan, dan dilanjutkan dengan pemberian MMR pada umur 15 bulan, dan bila perlu dilakukan pengulangan pemberian MMR atau vaksin campak tunggal pada umur 4-6 tahun sebanyak 1 kali (Di Indonesia, pemberian vaksin ini dilakukan pada Bulan Imunisasi Anak Sekolah yang terdiri dari pemberian vaksin Tetanus dan Campak).

Vaksin MMR dibentuk dari virus measles, mumps dan rubella yang dilemahkan (vaksin hidup). Pemberian vaksinasi ini umumnya dilakukan pada usia 15 bulan dan diulang pada usia 4-6 tahun. Pemberian dosis tunggal pada usia 15 bulan saja tidak dianjurkan karena terdapat 5-10% kasus dimana kekebalan seumur hidup tidak terbentuk setelah pemberian dosis pertama vaksin. Sebelum kita bahas lebih lanjut, mari melihat tiap-tiap penyakit yang dapat dicegah dengan vaksin MMR.

Measles / Campak

Campak adalah penyakit yang disebabkan oleh measles virus. Virus ini hanya memiliki satu tipe, sehingga ketika antibodi terhadap virus ini terbentuk, maka kekebalan yang didapatkan sifatnya seumur hidup.

Virus ini menyebar lewat udara yang dapat memasuki saluran napas dan selaput mata manusia. Setelah memasuki tubuh manusia, virus ini akan bereplikasi, dan menyebabkan penyakit campak pada manusia.

Gejala awal yang timbul setelah virus ini masuk adalah demam dan disertai gejala 3C, yakni Cough, Coryza dan Conjunctivitis (batuk, pilek, dan kemerahan pada mata). Satu hingga dua hari setelah gejala tersebut timbul, maka timbulah lesi kemerahan yang timbul dari bagian kepala (seringkali timbul di batas tumbuh rambut dan belakang telinga), wajah, leher, dan ke seluruh bagian tubuh dalam waktu 3 hari. Kemerahan ini dapat bertahan selama 5-6 hari, dan hilang secara perlahan.

Penyakit campak adalah penyakit yang bersifat self-limiting artinya penyakit ini dapat sembuh dengan sendirinya tanpa diberikan pengobatan apapun. Tujuan pengobatan yang diberikan pada penderita campak hanya bertujuan untuk meringankan gejala yang ada.

Kemerahan pada Campak

Gambar 1. Kemerahan pada Campak, Lesi tampak lebih banyak pada bagian wajah dan kepala, menyebar perlahan ke seluruh badan.
Sumber:
Mason WH. Measles. Dalam: Kliegman RM, Stanton BF, Schor NF, Behrman RE dan Geme JW. Nelson textbooks of Pediatric. Edisi ke-19. Amerika serikat: Elsevier, 2011. Hal. 1069-75.

 

Apa yang meyebabkan campak menjadi salah satu penyakit yang berbahaya pada anak-anak? 30-40% anak yang terkena campak (tanpa vaksinasi) dapat mengalami komplikasi, mulai dari radang paru-paru (pneumonia), diare, infeksi telinga tengah, dan tidak jarang terjadi radang otak yang mana dapat menyebabkan kematian.

Pemberian vaksinasi campak tunggal atau dengan menggunakan vaksin MMR, dapat mencegah anak anda mendapatkan penyakit ini. Tingkat keefektifan vaksinasi campak tunggal dan MMR mencapai 95% dalam mencegah penyakit campak.

Mumps atau penyakit Gondongan

Mumps atau penyakit gondong (Gondongan) adalah penyakit akibat virus mumps yang seringkali menyerang kelenjar air liur manusia. Penyakit ini menular lewat udara.

Setelah berhasil memasuki tubuh manusia, virus ini dapat menyerang beberapa sistem tubuh manusia. Salah satu yang target yang paling sering diserang adalah kelenjar air liur manusia. Sama seperti dengan penyakit campak, penyakit ini adalah self-limiting disease sehingga kondisi ini akan sembuh dengan sendirinya dengan kekebalan tubuh anak anda.

Gejala awal yang umumnya timbul, antara lain demam yang disertai dengan nyeri kepala, muntah, dan rasa lemas yang timbul selama 1-2 hari, dan diikuti dengan pembengkakan kelenjar air liur. Kelenjar yang membengkak tersebut akan terasa sakit bila ditekan dan seringkali mengganggu pergerakan rahang anak, sehingga anak kesulitan untuk mengunyah dan menelan. Pembengkakan hebat umumnya akan berlangsung selama 3 hari, dan hilang secara penuh dalam 7-10 hari.

 

parotitis gabung

Gambar 2.1. Pembengkakan pada kelenjar air liur pada anak yang terkena virus mumps.
Gambar 2.2. gambaran anatomi kelenjar air liur yang mengalamai pembengkakan, dimana menganggu fungsi rahang
Sumber:
Mason WH. Mumps. Dalam: Kliegman RM, Stanton BF, Schor NF, Behrman RE dan Geme JW. Nelson textbooks of Pediatric. Edisi ke-19. Amerika serikat: Elsevier, 2011. Hal. 1078-80.

Komplikasi yang timbul akibat penyakit ini cukup jarang, tetapi apabila terjadi komplikasi dapat menyerang otak (15% kasus), penurunan pendengaran hingga tuli (1/20.000 kasus), dan radang pada testis (20%-50% anak laki-laki yang sudah mengalami pubertas).

Pemberian satu dosis tunggal vaksin MMR pada usia 15 bulan dapat membentuk kekebalan terhadap penyakit ini sampai dengan 97%. Vaksin MMR sangat efektif dalam mencegah penyakit ini.

Rubella (Campak Jerman)

Penyakit Rubella atau seringkali disebut dengan Campak Jerman, atau 3-day measles, adalah penyakit yang disebabkan virus rubella. Penyakit ini bersifat ringan pada anak-anak dan serupa seperti campak dan penyakit gondong, penyakit ini bersifat self-limiting.

Gejala yang timbul pada anak-anak yang terinfeki virus rubella, seringkali ringan dan sulit dibedakan dengan penyakit akibat virus lainnya. Gejala yang timbul seperti demam, disertai dengan nyeri tenggorokan, sakit kepala, dan pembengkakan kelenjar getah bening pada daerah leher. Kemerahan juga dapat timbul sejak hari pertama demam, kemerahan timbul dengan pola yang sama pada penyakit campak, tetapi kemerahan akan menghilang setelah 3 hari muncul.

rubella gabung

Gambar 3.1Kemerahan pada anak dengan campak Jerman
Gambar 3.2. Katarak bawaan pada bayi yang lahir dari ibu yang terinfeksi virus campak jerman
Sumber:
Mason WH. Rubella. Dalam: Kliegman RM, Stanton BF, Schor NF, Behrman RE dan Geme JW. Nelson textbooks of Pediatric. Edisi ke-19. Amerika serikat: Elsevier, 2011. Hal. 1076-77.

Apabila virus rubella ini menginfeksi wanita hamil, penyakit ini dapat menyebabkan gangguan yang berbahaya pada janin yang sedang dikandungnya. Penyakit yang dapat diderita oleh bayi tersebut disebut Congenital Rubella Syndrome (CRS), dimana bayi dapat mengalami katarak sejak lahir, tuli, dan menderita penyakit jantung bawaan.

Kejadian CRS paling tinggi terjadi pada ibu yang terinfeksi virus rubella ketika usia kandungannya < 16 minggu atau dibawah 4 bulan (resiko mencapai 90% pada usia kandungan < 11 minggu, dan sekitar 30% pada umur kandungan 11-16 minggu).

Tujuan vaksinasi dari MMR dalam hubungannya dengan penyakit Rubella adalah untuk mencegah terjadinya CRS dan memberikan kekebalan tubuh terhadap virus Rubella. Menurut CDC, dengan 1 kali pemberian dosis tunggal vaksin MMR kepada anak, anak tersebut dapat dikatakan kebal terhadap penyakit rubella. Tingkat keefektivitasan vaksin MMR dalam mencegah rubella adalah 95%, dan beberapa penelitian menunjukan kekebalan ini dapat bertahan hingga seumur hidup anak tersebut.

Pada wanita usia subur yang belum pernah mendapatkan vaksinasi MMR, dapat mendapatkan vaksinasi MMR untuk mencegah terjadinya CSR. Syarat utama yang harus dipenuhi adalah wanita tersebut tidak boleh hamil dalam 4 minggu setelah diberikan vaksinasi. Hal ini dikarenakan vaksin MMR merupakan virus hidup yang dilemahkan, dan apabila terjadi kehamilan dalam 4 minggu pasca vaksinasi, dapat meningkatkan resiko terjadinya infeksi pada janin yang dikandung.


 Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI) yang paling sering terjadi pada pemberian vaksin MMR, antara lain demam (15% kasus), nyeri pada tempat suntikan (5%), nyeri tulang (5%), dan timbul kemerahan pada seluruh badan (5%).

Hal yang harus diperhatikan pula mengenai vaksin MMR adalah pemberiannya yang diberikan pada anak yang sehat. Vaksin MMR adalah vaksin dengan virus yang dilemahkan, oleh karena itu penundaan vaksinasi harus dilakukan pada anak yang sedang sakit atau dalam keadaan yang tidak sehat.

Di Indonesia dan bahkan di beberapa negara berkembang lainnya, masih ada ketakutan dalam pemberian vaksin MMR pada anak. Ketakutan tersebut di dasari karena adanya desas-desus bahwa vaksin MMR dapat menyebabkan autisme pada anak. Lewat tulisan ini, saya hendak mengatakan kepada para orang tua untuk tidak khawatir!

Penelitian selama 7 tahun yang dilakukan oleh CDC terhadap 500.000 anak menunjukan bahwa vaksin MMR tidak menyebabkan autisme. Begitu pula dengan penelitian-penelitian lainnya, yang telah memberikan bukti bahwa pemberian vaksin apapun, terutama MMR, tidak memiliki hubungan sebab akibat dengan kondisi terjadinya autisme pada anak.


Demikianlah pembahasan mengenai dua jenis vaksin yang seringkali kontroversial ini! Perlu diingat bahwa, vaksin BCG tidak memberikan perlindungan kekebalan setelah anak anda memasuki usia remaja dan dewasa muda. Vaksin MMR tergolong sangat efektif (kekebalan mencapai 95% dengan sekali penyuntikan) dalam mencegah penyakit campak, penyakit gondong, dan campak jerman. Vaksin MMR tidak menyebabkan kondisi autisme pada anak.

Pada artikel selanjutnya, akan dibahas mengenai vaksin yang belum populer digunakan di Indonesia, seperti vaksin influenza, tifoid (dikenal sebagai tipes di kalangan masyarakat Indonesia), cacar air, hepatitis A dan vaksin HPV (vaksin kanker servix).

girl-511883_1280

DAFTAR PUSTAKA

1. Centers for Disease Control and Prevention. Epidemiology and Prevention of Vaccine-Preventable Disease. Atkinson W, Hamborsky J, Wolfe S. 12th ed., second printing. Washington DC: Public Health Foundation, 2012.

2. CDC. The Role of BCG Vaccine in the Prevention and Control of Tuberculosis in the United States. US Department of Health and Public Health Service 1996; 45:1-27.

3. Mason WH. Measles. Dalam: Kliegman RM, Stanton BF, Schor NF, Behrman RE dan Geme JW. Nelson textbooks of Pediatric. Edisi ke-19. Amerika serikat: Elsevier, 2011. Hal. 1069-75.

4. Mason WH. Mumps. Dalam: Kliegman RM, Stanton BF, Schor NF, Behrman RE dan Geme JW. Nelson textbooks of Pediatric. Edisi ke-19. Amerika serikat: Elsevier, 2011. Hal. 1078-80.

5. Mason WH. Rubella. Dalam: Kliegman RM, Stanton BF, Schor NF, Behrman RE dan Geme JW. Nelson textbooks of Pediatric. Edisi ke-19. Amerika serikat: Elsevier, 2011. Hal. 1076-77.

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *