Seberapa Jauh Anda Mengetahui Vaksin untuk Anak Anda?

Setelah selesai membaca artikel Jangan Salah Kaprah Mengenai Imunisasi tentunya pembaca akan mendapat sedikit pencerahan mengenai prinsip dasar penggunaan vaksin, yang meliputi cara kerja vaksinasi, KIPI (Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi), dan hubungannya dengan autisme.

Namun tidak dapat dipungkiri, pastinya akan timbul sejumlah  pertanyaan yang jauh lebih membingungkan. Kebingungan mengenai jenis-jenis vaksin yang begitu beranekaragam dengan harga yang bervariasi menimbulkan keingintahuan mendasar bagi setiap orang tua yang memiliki bayi, “Sebenarnya untuk penyakit apa sajakah vaksin-vaksin tersebut? Seberapa berbahayanya penyakit-penyakit tersebut?”.

Disinilah dr. Ian Huang akan berusaha memberikan gambaran besar tentang hal tersebut supaya para orang tua tidak buta akan setiap vaksin yang diberikan kepada anaknya.

Berikut ini adalah gambar jadwal pemberian imunisasi dari Ikatan Dokter Anak Indonesia(IDAI) tahun 2014 dan sebagai perbandingan saya masukan pula jadwal pemberian imunisasi di Amerika Serikat tahun 2015

 rek idaiJadwal Imunisasi Anak Umur 0-18 tahun Rekomendasi IDAI 2014
Gambar dikutip dari: http://idai.or.id/public-articles/klinik/imunisasi/jadwal-imunisasi-idai-2014.html

rek amerika

Jadwal Imunisasi Anak Rekomendasi tahun 2015 yang dibuat oleh Advisory Committee on Immunization Practices (ACIP) dan disetujui oleh American Academy of Pediatrics (AAP), American Academy of Family Physicians (AAFP), dan American College of Obstetricians and Gynecologists (ACOG) .
Gambar dikutip dari:  Strikas RA. Advisory Committee on Imunization Practices Recommended Immunization Schedules for Persons Aged 0 Through 18 Years – United States, 2015. CDC 2015; 64(04):93-94.

Secara umum jenis vaksin yang diberikan di Indonesia maupun di Amerika Serikat hampir sama, antara lain Hepatitis B, Polio, Rotavirus (RV), Diphteria-Tetanus-Pertussis (DTP), Haemophilus influenza type b (Hib), Pneumococcal (PCV), Measles-Mumps-Rubella (MMR), Hepatitis A, Varisela / Cacar Air. Namun ada beberapa vaksin yang diberikan di Indonesia tetapi tidak di Amerika Serikat, yaitu vaksin BCG (Tuberculosis / TB), tifoid (sering disebut “tipes” di Indonesia) dan campak (bukan bersamaan dengan MMR).

Baiklah mari kita lihat satu persatu penjelasan singkat mengenai vaksin dan penyakit yang dicegahnya. (Pada bagian ini hanya beberapa vaksin yang dibahas terlebih dahulu)

1. Hepatitis B

Vaksin Hepatitis B diberikan umumnya sebanyak 3 kali, antara lain dalam 12 jam setelah bayi lahir, bulan pertama, dan bulan ke-6. Tingkat imunitas terhadap hepatitis B meningkat sesuai dengan frekuensi pemberian vaksin tersebut (Lihat gambar dibawah).

proteksi hep b
Tingkat proteksi terhadap hepatitis B setelah vaksinasi
Gambar dikutip dari Centers for Disease Control and Prevention. Epidemiology and Prevention of Vaccine-Preventable Diseases. Atkinson W, Hamborsky J, Wolfe S, eds. 12th ed., second printing. Washington DC: Public Health Foundation, 2012.

Vaksin ini mencegah bayi untuk menderita sebuah penyakit peradangan liver (hepatitis) yang disebabkan oleh infeksi virus hepatitis B (dikenal sebagai Hepatitis B Virus / HBV). Seorang penderita hepatitis akan mengalami demam, kekuningan pada mata dan kulit, kencing berwarna coklat-gelap, nyeri otot-sendi, nyeri perut sebelah kanan atas, tidak napsu makan dan lemas. Gejala tersebut dialami selama 1-3 minggu sebelum akhirnya tubuh membentuk imunitas terhadap virus hepatitis B tersebut.

“Beberapa komplikasi akibat hepatitis B, antara lain hepatitis akut yang mengancam nyawa (1-2% dari seluruh kasus), infeksi kronis (virus tetap ada akibat tubuh tidak berhasil membunuh virus tersebut dalam tubuh kita) dari hepatitis B (5% dari seluruh infeksi hepatitis B), sirosis (pengerasan liver) dan kanker liver (25% dari seluruh infeksi hepatitis B kronis).”

Beberapa Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI) yang sering terjadi setelah pemberian vaksin hepatitis B, antara lain nyeri pada daerah suntikan (3-9%), lemas, sakit kepala, dan rewel (0-20%), demam <37,7o C (0,4-6%), dan reaksi alergi hebat (sangat jarang).

Beberapa merek vaksin hepatitis B yang beredar di Indonesia: Engerix B, HB Vax, Euvax B. Ada pula sediaan hepatitis B yang digabungkan dengan DPT yaitu DPT-HB Combo.

2. Polio

Terdapat dua jenis vaksin polio, antara lain Oral Poliovirus Vaccine (sering disingkat OPV) dan Inactivated Poliovirus Vaccine (IPV). Seperti namanya, OPV diberikan secara oral (mulut / diteteskan), sedangkan IPV diberikan melalui suntikan.

Di Amerika Serikat penggunaan OPV sudah tidak dilaksanakan akibat adanya resiko penyakit polio akibat penggunaan vaksin tersebut (sangat jarag sekali yaitu satu kasus dari 2-3 juta orang yang divaksin).

Di beberapa negara penggunaan gabungan OPV-IPV masih dilaksanakan karena hasil imunisasi OPV memperlihatkan imunitas terhadap infeksi poliovirus liar yang lebih superior dibandingkan IPV saja. Selain itu, harga OPV jauh lebih murah dibandingkan IPV.

Jadwal pemberian vaksin polio di Indonesia, antara lain saat lahir, 2 bulan, 4 bulan, 6 bulan, 18-24 bulan, dan 5 tahun. (apabila OPV tidak diberikan, maka saat lahir tidak diberikan vaksin polio dan langsung dimulai pada usia 2 bulan).

“Vaksin polio memberikan imunitas terhadap infeksi poliovirus. Infeksi ini menyebabkan sebuah penyakit poliomyelitis yang dapat menyebabkan radang selaput otak dan kelumpuhan anggota gerak penderitanya. Kelumpuhan dapat terjadi karena virus ini menyerang bagian tertentu yang mengatur gerakan pada sumsum tulang belakang manusia.”

Pada fase awal infeksi poliovirus, penderita akan merasa sakit tenggorokan dan demam, gangguan pencernaan (mual, muntah, sakit perut, dan mencret). Sekitar 1% dari seluruh infeksi poliovirus akan berlanjut pada kelumpuhan dan atau radang selaput otak. Mayoritas kelumpuhan yang terjadi dapat sembuh (total ataupun membaik sebagian). Kelumpuhan yang menetap selama 12 bulan umumnya bersifat permanen.

KIPI yang mungkin terjadi, antara lain nyeri dan kemerahan pada daerah yang disuntikan (IPV), dan reaksi alergi terhadap kandungan yang terdapat dalam vaksin tersebut. Diantara seluruh KIPI, yang paling ditakutkan adalah terjadinya infeksi poliovirus akibat vaksinasi OPV (dalam kedokteran disebut dengan istilah Vaccine-Associated Paralytic Poliomyelitis/VAPP).

Kejadian VAPP sangat jarang, dan lebih sering ditemukan pada orang dewasa yang divaksin polio, anak-anak yang sistem imunitasnya terganggu (menderita HIV, atau gangguan imun lainnya).

Vaksin Polio yang beredar di Indonesia: OPV (isinya hanya vaksin polio), sedangkan IPV umumnya digabungkan bersamaan dengan vaksin lain, seperti Infanrix-IPV (DTP dan polio IPV), Infanrix-HIB-IPV dan Pediacel (DTP, Hib, dan polio IPV), Infanrix-hexa (DTP, polio IPV, Hib, dan hepatitis B).

 3. Rotavirus

Pemberian vaksin rotavirus adalah salah satu vaksin yang sering mengundang pertanyaan ke dokter karena vaksin ini adalah salah satu vaksin yang tidak tercakup dalam vaksinasi di Puskesmas (Vaksin yang diberikan di puskesmas hanya mencakup Hepatitis B, DTP, BCG, Polio, dan campak).

Rotavirus pertama kali teridentifikasi sebagai penyebab diare pada tahun 1973 dan pada tahun 1980 menjadi penyebab utama diare hebat pada bayi dan anak di Amerika Serikat. Sampai dengan usia 5 tahun, hampir seluruh anak telah menderita diare akibat rotavirus.

“Pasien penderita Rotavirus memiliki gejala dan tanda yang bervariasi, dari yang tidak bergejala, diare ringan yang dapat sembuh dengan sendirinya, sampai diare dehidrasi hebat yang disertai demam dan muntah-muntah. Gejala pencernaan (mencret dan muntah) umumnya membaik dalam 3-7 hari.”

Vaksin Rotavirus diberikan pada usia 2 bulan, 4 bulan, dan 6 bulan. Terdapat dua merek vaksin Rotavirus yang beredar di Indonesia, yaitu RotaTeq (3 kali pemberian) dan Rotarix (2 kali pemberian). Setelah vaksinasi, imunitas tubuh terhadap infeksi rotavirus mencapai 74-87% (persentase kemungkinan tidak infeksi sama sekali) dan 85-98% terhadap diare berat (persentase kemungkinan tidak mengalami diare berat akibat rotavirus).

4. Hib (Haemophillus influenzae tipe b)

Selain Rotavirus, vaksin ini merupakan salah satu vaksin yang juga jarang diketahui oleh khalayak luas. Vaksin yang diberikan sebanyak 4 kali ini, pada usia 2 bulan, 4 bulan, 6 bulan, dan 15-18 bulan, melindungi anak dari serangan kuman Haemophillus influenzae tipe b.

Bakteri ini  merupakan penyebab utama radang selaput otak (meningitis)  yaitu mencapai 50-65% dari seluruh kasus dan penyakit kuman invasif pada balita (sebelum ditemukannya vaksin Hib); diperkirakan sekitar 1 dari 200 anak pada usia tersebut menderita penyakit akibat Hib yang invasif (invasif artinya infeksi tersebut dapat menyerang ke banyak organ dengan hebat).

Hampir seluruh infeksi Hib terjadi pada balita dan sekitar dua-pertiganya terjadi pada anak dengan usia dibawah 18 bulan.

“Hib tidak hanya dapat menyebabkan radang selaput otak (meningitis), tetapi juga radang paru-paru (pneumonia), radang telinga tengah (otitis media), radang sendi (arthritis), infeksi kulit (cellulitis), infeksi tulang (osteomyelitis), infeksi selaput jantung (pericarditis), dan radang epiglottis (epiglottitis).”

Anak yang mengalami meningitis akan mengalami demam, penurunan kesadaran, dan kekakuan pada leher. Beberapa kemungkinan gejala pasca-meningitis akibat Hib adalah gangguan pendengaran, penglihatan, kelumpuhan, dan gangguan saraf lainnya (kemungkinan gejala sisa yang menetap ini mencapai 15-30%).

Tingkat fatalitas (kematian akibat meningitis Hib) mencapai 2-5% walaupun sudah ditangani dengan antibiotik yang tepat.

Terdapat beberapa KIPI pada pemberian vaksin Hib walaupun tidak umum ditemukan, antara lain bengkak, kemerahan, atau nyeri pada daerah suntikan yang menghilang dalam 12-24 jam (5-30%), dan demam-rewel (jarang terjadi).

Beberapa merek vaksin Hib yang beredar di Indonesia, antara lain HIB dan Act HIB (hanya Hib saja), Tetract HIB dan Infanrix-HIB (DTP dan Hib), Pentabio (DTP, Hib, dan hepatitis B), Pediacel dan Infanrix-HIB-IPV (DTP, Hib, dan polio IPV), Infanrix-hexa (DTP, Hib, polio IPV, dan hepatitis B).

Pada artikel berikutnya, dr. Ian Huang akan menjelaskan beberapa vaksin sisanya, antara lain BCG, DPT, PCV, Influenza, Campak, MMR, Varisela, Tifoid, Hepatitis A, dan HPV.

Daftar Pustaka

  1. Centers for Disease Control and Prevention. Epidemiology and Prevention of Vaccine-Preventable Diseases. Atkinson W, Hamborsky J, Wolfe S, eds. 12th ed., second printing. Washington DC: Public Health Foundation, 2012.
  2. Strikas RA. Advisory Committee on Imunization Practices Recommended Immunization Schedules for Persons Aged 0 Through 18 Years – United States, 2015. CDC 2015; 64(04):93-94.
  3. Orenstein WA dan Pickering LK. In: Kliegman RM, Stanton BF, Schor NF, Behrman RE dan Geme JW. Nelson Textbook of Pediatrics. 19th United States: Elsevier, 2011. p. 881-95.

11 Comments

  1. Loren said:

    Thanks banget dok sdh bahas topik imunisasi walaupun msh bersambung critanya..ada hal yg kurng familiar nama imunisasi spt rotavirus jujur saja sy baru denger nama ini krn slama ini imunisasi dasar tdk ada yg mention rotavirus.apakah imunisasi ini mmg tambahan saja atau dlm pengertian sy tdk wajib vaksin rotavirus.mohon pencerahannya ya dokter.thanks

    February 24, 2015
    Reply
    • Iya masih bersambung Ibu Loren karena banyak sekali yang dibahas. Memang dulunya di Indonesia sering terdengar yang namanya imunisasi dasar/wajib, sekarang ini sudah tidak diberlakukan lagi istilah tersebut. Seluruh imunisasi sebisa mungkin diberikan karena efeknya yang baik untuk imunitas anak terhadap infektan. Rotavirus seringkali menyebabkan diare hebat pada anak sehingga prmberian vaksin ini akan mengurangi kemungkinan terkena diare akibat virus ini (lihat persentase imunitasnya di artikel atas). Sebagai tenaga kesehatan, saya menganjurkan Ibu Loren untuk memberikan seluruh imunisasi yang tersedia untuk sang anak.

      February 25, 2015
      Reply
  2. Meirisa Valentina said:

    Dok,maaf mau tanya,saya punya bayi usia nya sudah 4 bulan,sejak umur 0 bulan sampai dengan sekarang usia nya sudah 4 bulan, belum pernah saya berikan vaksin tambahan diluar 5 imunisasi dasar yg diwajibkan pemerintah. Apa saja ya dok jenis vaksin nya soalnya saya mau vaksin anak saya biar imun nya lebih kuat karena anak saya tidak meminum ASI,hanya sufor saja..Terimakasih dok,Salam Hangat dari Meirisa di Kalimantan Tengah

    October 11, 2015
    Reply
    • Ibu Meirisa Valentina,

      vaksin tambahan penting diluar dari yang disubsidi pemerintah, antara lain vaksin pneumokokus (baca disini ),vaksin rotavirus, dan vaksin haemophillus influenzae (baca disini .

      Regards,

      dr. Ian Huang

      November 6, 2015
      Reply
  3. Novi said:

    Dok saya mau tanya, kenapa tempat untuk vaksin BCG warnya coklat dan tempat untuk pelarutnya berwarna putih? Adakah penjelas untuk itu?
    Terima kasih sebelumnya.

    October 12, 2015
    Reply
    • Ibu Novi,
      vaksin BCG sangat sensitif terhadap sinar ultraviolet dan sinar berpijar lainnya, penggunaan vial vaksin bcg yang berwarna coklat (dalam bahasa inggris disebut amber-colored vial) merupakan salah satu cara karena warna tersebut tergolong low-light transmittance (tidak menyerap cahaya dengan baik). Salah satu aplikasi yang sering digunakan dari warna ini adalah penggunaan sunglasses (menggunakan warna ini biasanya).

      Regards,
      dr. Ian Huang

      November 6, 2015
      Reply
    • Ibu Novi,
      vaksin BCG sangat sensitif terhadap sinar ultraviolet dan sinar berpijar lainnya, penggunaan vial vaksin bcg yang berwarna coklat (dalam bahasa inggris disebut amber-colored vial) merupakan salah satu cara karena warna tersebut tergolong low-light transmittance (tidak menyerap cahaya dengan baik). Salah satu aplikasi yang sering digunakan dari warna ini adalah penggunaan sunglasses (menggunakan warna ini biasanya).

      Regards,
      dr. Ian Huang

      November 6, 2015
      Reply
  4. Ketut budi said:

    Slamat malam dok…mau tanya? br tadi saya imunisasi anak saya yg br umur 2 bulan..suntik Infanrix Hib 4 ? katanya itu vaksin gabungan dok apa benar ya…kemudian saya d srh imun IPD lg bulan depan Yg lumayan harganya 1 jt apa itu wajib dok atau bagaimana mhn pencerahan trims….

    November 12, 2015
    Reply
    • Pak Ketut Budi,
      Infanrix Hib adalah sebuah vaksin gabungan yang terdiri vaksin DPT (diphteria, pertussis, tetanus) dan HIB (haemophillus influenzae tipe B). Penyakit yang dicegah dengan vaksin ini seperti yang saya tuliskan dalam artikel-artikel sebelumnya. Vaksin IPD atau dikenal juga Vaksin PCV atau pneumokokus memang adalah sebuah vaksin mahal yang sangat berguna. Vaksin ini mencegah penyakit-penyakit berbahaya seperti yang dituliskan dalam artikel ini http://drianhuang.com/informasi-kesehatan/seberapa-jauh-anda-mengetahui-vaksin-untuk-anak/

      Menurut saran saya, selama masih bisa diusahakan untuk divaksin, maka ada baiknya pemberian vaksin tersebut tetap dilaksanakan. Memang banyak orang tua bilang, dulu tidak perlu vaksin seperti itu dan sebagainya. Tetapi, kembali kepada anda, apakah anda mau membiarkan resiko (walaupun mungkin kecil) anak anda terkena sebuah penyakit yang berat dan berbahaya? Dengan vaksin seperti ini, resiko terjangkit hampir tidak mungkin dan apabila terinfeksi tidak akan ganas dan berbahaya. Tentunya ini adalah perspektif dari seorang dokter.

      Regards,

      dr. Ian Huang

      November 13, 2015
      Reply
  5. Sany said:

    Malam dok… Mau Tanya efeknya APA ya dok kalau kelebihan vaksin invantrix hib. Krn saya kelupaan donk yg harusnya 3x ternyata anak saya di vaksin invantrix 4x donk. Mohon masukannya
    Regards,
    Sany

    April 7, 2016
    Reply
    • Ibu Sany,
      bagaimanakah jarak pemberian keempat vaksin infanrix tersebut (pada usia berapa saja) ? memang sebenarnya vaksin infanrix hib diberikan pada usia 2,4,6 bulan, dan kemudian diulang pada 18 bulan.

      Apabila ada memberikan 4 kali pada usia antara 2-6 bulan, sebenarnya tidak ada permasalahan yang serius, namun tidak efisien. efeknya kemungkinan sama seperti pemberian 3 kali, atau bahkan efektifitasnya dibawah 3 kali (karena jarak antara pemberian vaksin mempengaruhi sistem imunitas yang terbentuk).

      Regards,
      dr. Ian Huang

      April 8, 2016
      Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *