Sakit Kepala ini Membunuhku!

Siapa yang tidak pernah merasakan sakit kepala? Siapa yang tidak pernah merasakan “kepala nyut-nyutan” atau “kepala terasa seperti tegang dan ditekan”?

“Mengapa saya sering sakit kepala?”
“Apa yang menyebabkan saya sakit kepala?”
“Apakah sakit kepala yang saya alami berbahaya?”

Pertanyaan itulah yang seringkali dilontarkan pasien mengenai keluhan sakit kepala yang dirasakan.


Sakit kepala merupakan gejala yang sering ditemukan dalam kehidupan sehari-hari. Faktanya, sekitar setengah dari orang dewasa di dunia menderita jenis sakit kepala tertentu dan tidak diragukan lagi bahwa sakit kepala merupakan salah satu alasan utama seseorang pergi mencari dokter.

Sakit kepala memiliki penyebab yang sangat bervariasi, dari penyebab yang tidak berbahaya sampai penyebab yang mengancam nyawa. Artikel ini ditulis supaya para pembaca memahami kemungkinan penyebab dari sakit kepala dan mengetahui tanda-tanda bahaya dari sebuah sakit kepala.

Apa Penyebab Sakit Kepala?

Di dalam dunia kedokteran, dikenal dua istilah utama pada sakit kepala yaitu sakit kepala primer (primary headache) dan sakit kepala sekunder (secondary headache).

Sakit kepala primer adalah sakit kepala yang diklasifikasikan tidak berbahaya atau tidak mengancam nyawa. Penyebab sakit kepala primer umumnya masih dalam teori dan masih belum ditemukan secara pasti, namun hal yang menggembirakan adalah bahwa penyakit ini tidak mengancam nyawa (walaupun seringkali mengganggu aktivitas sehari-hari).

Gejala sakit kepala primer umumnya sering hilang timbul dan sudah dirasakan dalam periode waktu yang lama (kronis). Beberapa contoh sakit kepala primer yang umum ditemukan, antara lain:

1. Tension-Type Headache

Sakit kepala jenis ini merupakan tipe yang paling umum ditemukan dan diderita lebih dari 40% penduduk dewasa di dunia. Beberapa ciri khas dari gejala sakit kepala Tension-type headache, seperti:

  • Sakit kepala dirasakan di seluruh bagian kepala (kedua belah sisi)
  • Kepala seperti ditekan, ditarik, atau kaku (bukan “nyut-nyutan”)
  • Derajat sakit kepala hanya ringan atau sedang (masih dapat melakukan aktivitas sehari-hari)
  • Sakit kepala tidak diperparah dengan aktivitas fisik seperti berjalan atau naik tangga
  • Tidak ada gejala mual-muntah dan reaksi hipersensitif terhadap cahaya atau suara (perasaan tidak enak bila melihat cahaya matahari/lampu atau mendengar suara)

Tension-Type Headache diduga disebabkan oleh adanya gangguan hipersensitif pada saraf di otot-otot sekitar kepala dan leher. Seringkali ditemukan adanya rasa kaku dan nyeri bila otot-otot tersebut ditekan.

Faktor resiko yang umumnya mencetuskan munculnya sakit kepala ini, antara lain durasi tidur yang kurang atau tidak efektif, adanya stres psikososial, kecemasan, depresi, dan penggunaan obat-obat penahan sakit yang berlebihan.

stresStres psikososial merupakan salah satu pemicu serangan sakit kepala akibat Tension-type Headache maupun migraine.

2. Migraine

Istilah sakit kepala ini umumnya sudah tidak asing lagi terdengar di telinga masyarakat. Istilah migraine seringkali digunakan oleh khalayak luas untuk menyatakan adanya suatu sakit kepala yang berdenyut (“nyut-nyutan”).

Dalam dunia kedokteran, migraine adalah sebuah diagnosis sakit kepala primer yang menduduki peringkat kedua terbanyak setelah tension-type headache dan membutuhkan pemenuhan beberapa kriteria tertentu untuk dapat mendiagnosisnya. Kriteria dan ciri khas dari sakit kepala migraine, antara lain:

  • Durasi sakit kepala minimal 4 jam dan dapat berlangsung sampai 72 jam (3 hari) apabila tidak berhasil diobat secara tepat.
  • Sakit kepala dirasakan hanya pada satu sisi kepala,
  • Sakit kepala berbentuk denyutan (“nyut-nyutan”)
  • Derajat sakit kepala sedang sampai berat (umumnya tidak dapat atau sulit beraktivitas seperti biasa)
  • Sakit kepala diperparah dengan aktivitas fisik seperti berjalan atau naik tangga.
  • Terdapat gejala mual-muntah dan reaksi hipersensitif terhadap cahaya atau suara.

Penyebab munculnya sakit kepala migraine masih belum diketahui secara pasti, namun diduga berhubungan dengan aktivasi saraf yang menyebabkan pelebaran pembuluh darah selaput otak dan aktivasi saraf nyeri di daerah tersebut.

Migraine dapat diderita oleh semua orang, namun kasus terbanyak ditemukan di antara usia 25-55 tahun dengan gejala muncul pertama kali saat periode pubertas. Penyakit ini umumnya menghilang di usia tua, tetapi dapat kambuh kembali pada saat menopause (untuk wanita).

Faktor resiko yang umumnya mencetuskan migraine, antara lain kehamilan periode trimester pertama-kedua (sampai dengan bulan ke-7), sebelum dan saat menstruasi, dan faktor resiko yang sama seperti tension-type headache.

3. Cluster Headache

Cluster headache adalah salah satu jenis sakit kepala primer yang terhitung jarang bila dibandingkan tension-type headache dan migraine, namun penyakit ini jauh lebih mengganggu dibandingkan keduanya. Di amerika serikat, sakit kepala ini sering dijuluki “suicide headache”. Ciri khas dari cluster headache, antara lain:

  • Umumnya nyeri dirasakan tajam seperti “ditusuk pisau atau jarum”
  • Durasi sakit kepala hanya sebentar (15-180 menit) tanpa pengobatan.
  • Sakit kepala hanya pada satu daerah tertentu (sekitar dahi, mata atau pipi)
  • Terdapat gejala lainnya: salah satu mata mendadak merah atau keluar air mata, hidung tersumbat atau keluar ingus (hanya salah satu lubang), berkeringat hanya di salah satu sisi muka, bengkak salah satu kelopak mata (lihat gambar).
  • Sakit ini muncul dalam beberapa episode sehari (lebih dari satu kali dalam sehari).
 cluster headacheCluster Headache
Gambar dikutip dari: Moheban C, Tilem M, Gutrecht JA. Chapter 11. Primary and Secondary Headache. In: Jones HR JR, Srinivasan J, Allam GJ, Baker RA. Netter’s Neurology. 2nd Edition. El Sevier Saunders; Philadelphia, 2012. p. 140-154

Penyakit ini lebih sering diderita oleh pria dibandingkan wanita (rasio perbandingan 2-4:1) dengan usia pertama kali muncul pada usia 20-an.

Penyebab dari cluster headache masih tidak diketahui secara pasti, namun diduga berhubungan dengan aktivasi salah satu saraf otak yang disebut saraf trigeminal.

Catatan: Sakit kepala primer lainnya masih banyak, namun yang umum diderita adalah ketiga jenis ini (Tension-type headache, migraine, dan cluster headache).

Berkebalikan dengan sakit kepala primer dimana penyebabnya masih tidak diketahui dengan jelas, sakit kepala sekunder memiliki penyebab yang mendasari sakit kepala tersebut.

Walaupun tergolong jarang (hanya sekitar 10% dari seluruh kasus sakit kepala) bila dibandingkan sakit kepala primer (hampir 90% dari seluruh kasus sakit kepala), sakit kepala sekunder tidak dapat diremehkan karena memiliki efek yang dapat mengancam nyawa apabila tidak ditangani secara tepat.

Beberapa contoh sakit kepala sekunder yang patut diperhatikan, antara lain:

1. Tumor Otak

Adanya tumor di dalam rongga kepala seseorang akan menyebabkan peningkatan tekanan di dalam rongga tersebut. Seperti tangan kita akan terasa sakit bila diggenggam terlalu kuat, maka peningkatan tekanan didalam rongga kepala akan menyebabkan sakit kepala.

Sakit kepala akibat tumor otak umumnya lebih dirasakan pada pagi hari (setelah bangun tidur) dan tidak muncul secara tiba-tiba. Dalam hal ini berarti sakit kepala dirasakan memberat secara perlahan (biasanya dalam hitungan bulanan-tahunan).

Penderita tumor otak umumnya memiliki gejala kelemahan alat gerak (kaki dan atau tangan terasa lemah), kurang pendengaran (biasanya di salah satu sisi), sulit mempertahan keseimbangan, vertigo, dan gejala-gejala penyerta lainnya.

2. Infeksi Selaput Otak (Meningitis)

Otak manusia dilapisi oleh selaput otak yang kita kenal dengan nama meninges. Selaput otak memiliki fungsi yang sangat beragam dan sangat sensitif terhadap nyeri.

Oleh karena itu, adanya kelainan seperti infeksi pada selaput otak akan menyebabkan sakit kepala yang sangat hebat yang kita kenal dengan nama meningitis dalam dunia kedokteran. Meningitis merupakan suatu penyakit berbahaya yang apabila tidak ditangani secara tepat dapat mengancam nyawa penderitanya.

Meningitis umumnya dicurigai apabila terdapat sakit kepala yang hebat, disertai adanya demam, penurunan kesadaran (pingsan, atau adanya perubahan tingkah laku yang aneh selama sakit kepala), adanya riwayat batuk lama kronis akibat infeksi kuman tuberkulosis, dan atau adanya riwayat sinusitis atau infeksi telinga sebelumnya .

3. Perdarahan (Perdarahan dalam otak atau rongga selaput otak)

Seseorang yang memiliki riwayat darah tinggi yang tidak terkontrol memiliki resiko terkena stroke perdarahan (perdarahan dalam otak) ataupun perdarahan dalam rongga selaput otak (dikenal dengan nama subarachnoid hemorrhage dalam ilmu kedokteran).

Sakit kepala sekunder akibat perdarahan umumnya harus selalu dicurigai pada orang-orang penderita sakit kepala hebat yang muncul mendadak (umumnya mereka akan mengatakan ini merupakan sakit kepala terhebat yang pernah saya rasakan seumur hidup saya!) dan memiliki riwayat darah tinggi yang tidak terkontrol.

Darah tinggi yang tidak terkontrol berarti orang tersebut tidak rutin minum obat darah tinggi dan memeriksakan tekanan darah ke dokter ataupun secara mandiri

Pada kasus stroke perdarahan, umumnya pasien akan mengalami muntah-muntah disertai penurunan kesadaran dan sakit kepala.

4. Sinusitis dan sakit kepala sekunder akibat penyakit umum

Adanya infeksi pada rongga sinus (kita kenal dengan istilah sinusitis dalam kedokteran), dapat menyebabkan sakit kepala (terutama disekitar tempat terjadinya sinusitis). Sakit kepala yang muncul pada sinusitis umumnya tidak hebat dan terdapat beberapa gejala sinusitis, antara lain:

  • Adanya demam yang disertai gejala pilek kronis, seperti hidung tersumbat dan ingus berwarna kuning-kehijauan yang keluar dari hidung
  • Kemampuan indra penciuman yang berkurang
  • Nyeri apabila beberapa bagian wajah ditekan

Sakit kepala juga merupakan manifestasi umum setiap infeksi-infeksi ataupun peradangan yang terjadi di dalam tubuh manusia. Sebagai contoh, kita akan menderita sakit kepala apabila kita terkena infeksi virus dengue (penyebab demam berdarah), terkena tipes atau demam tifoid (infeksi kuman Salmonella typhii), radang tenggorokan, dan penyakit-penyakit lainnya.

Dok, penyebabnya sangat banyak dan bervariasi! Adakah cara mudah untuk membedakan jenis sakit kepala yang berbahaya? 

Berikut ini adalah beberapa tips cepat dan tanda bahaya dalam sakit kepala (tanda sakit kepala yang anda alami bukan sakit kepala primer):

  • Sakit kepala sangat hebat (“Sakit kepala yang paling sakit seumur hidup saya”)
  • Sakit kepala dengan adanya kelemahan alat gerak (tangan atau dan kaki terasa lemah dan sukar digerakkan)
  • Sakit kepala disertai penurunan kesadaran (jadi mengantuk, tidak sadarkan diri, atau berubah kepribadian “tidak seperti biasanya”)
  • Sakit kepala hebat yang muncul sangat mendadak (dalam hitungan detik-menit tiba menjadi amat sakit)
  • Sakit kepala disertai demam dan muncul ruam kemerahan tertentu
  • Sakit kepala yang baru muncul (belum pernah dialami sebelumnya) disertai adanya riwayat kanker, atau infeksi HIV (AIDS).
  • Sakit kepala hebat yang baru dirasakan saat hamil

Jika anda telah membaca artikel ini dengan seksama, maka tentunya anda sudah mengetahui beberapa penyebab utama dari sakit kepala. Apabila anda menemukan tanda bahaya pada sakit kepala, baik yang anda alami maupun keluarga ataupun teman anda, segeralah untuk mencari dokter supaya penanganan yang dini dan tepat dapat dilaksanakan!

Daftar Pustaka

  1. Hainer BL, Matheson EM. Approach to Acute Headache in Adults. Am Fam Physician 2013;87(10):682-687
  2. Moheban C, Tilem M, Gutrecht JA. Chapter 11. Primary and Secondary Headache. In: Jones HR JR, Srinivasan J, Allam GJ, Baker RA. Netter’s Neurology. 2nd Edition. El Sevier Saunders; Philadelphia, 2012. p. 140-154
  3. Chapter 10. Headache and Other Craniofacial Pains. In: Ropper AH, Samuels MA. Adams and Victor’s Principles of Neurology. 9th edition. The McGraw-Hill Companies, 2009. p.163-188

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *