Persalinan Caesar? Apa Efek dan Keuntungannya?

Apabila kita membicarakan tentang persalinan, tiap wanita memiliki sudut pandang masing-masing dan tidak jarang melahirkan topik yang hangat untuk diperbincangkan. Beberapa wanita takut akan melangsungkan persalinan normal setelah menonton video persalinan normal ataupun akibat pengalaman wanita lainnya sehingga tidak jarang mereka memilih jalan untuk melangsungkan persalinan caesar (Dalam kedokteran disebut sebagaiCaesarean Section atau C-Section).

Sebenarnya apakah prosedur persalinan tersebut baik untuk dilaksanakan? Apakah ada efek berbahaya dari prosedur tersebut? Mari kita lihat sama-sama mengenai prosedur ini.

Kapan perlu dilakukan persalinan Caesar?

Persalinan Caesar hanya dilakukan bila terdapat kondisi tertentu. Kondisi tersebut dapat kita bagi menjadi kondisi gawat darurat dan kondisi yang sudah diprediksi.

Kondisi-kondisi gawat darurat, antara lain:

  1. Bayi atau ibu dalam keadaan gawat akibat perdarahan ataupun infeksi ataupun persalinan lama.
  2. Kondisi persalinan tidak maju walaupun sudah dibantu dengan proses induksi, hal ini dapat ditandai dengan adanya kontraksi yang cukup, ataupun air ketuban yang sudah pecah, tetapi tidak ada kemajuan persalinan dalam jangka waktu tertentu.

Selain kondisi gawat darurat, para dokter dapat pula melangsungkan persalinan C-sectionkarena terdapat kondisi yang diprediksi dapat membahayakan nyawa sang ibu dan anak apabila persalinan normal dilaksanakan .

Kondisi-kondisi yang dapat diprediksi membahayakan nyawa anak sang ibu dan anak, antara lain:

  1. Pinggul yang terlalu kecil atau bayi yang terlalu besar (berat badan > 4000 gram atau kehamilan kembar atau lebih) dapat menyebabkan kesulitan dalam persalinan normal, bayi tidak dapat keluar sehingga harus dilakukan persalinan Caesar.
  2. Letak bayi sungsang atau lintang (kepala tidak dibawah) dimana resiko kematian bayi sangat tinggi pada posisi ini bila dipaksakan persalinan normal.

Screen Shot 2015-03-12 at 2.09.04 PM

Proses pengeluaran bayi pada operasi caesar.
Dikutip dari Caesarean Delivery and Peripartum Hysterectomy. Dalam: Cunningham, Leveno, Bloom, Hauth, Rouse dan Spong, penyunting. Williams Obstetrics. Edisi 23. New York: McGraw-Hill Medical Company 2010. h. 544-64.

Apa Efek Persalinan Caesar terhadap Sang Ibu?

Sebagian diantara kita berpikir bahwa persalinan Caesar merupakan hal yang biasa, tetapi untuk sebagian orang lainnya prosedur tersebut sangat menakutkan. Hal yang sering dilupakan adalah bagaimana hal tersebut bisa memberikan dampak kepada sang ibu. Apakah berbahaya? Apakah dapat menyebabkan kematian?

Sama seperti seluruh tindakan operasi yang selalu memiliki resiko dan efek samping, operasi Caesar bukan merupakan pengecualian. Beberapa resiko tersebut, antara lain:

  1. Ibu akan menghadapi bahaya perdarahan yang jauh lebih banyak. Sehingga resiko kematian terhadap ibu dan bayi meningkat, memang seringkali perdarahan terjadi akibat kondisi tertentu, seperti terlepasnya plasenta sebelum waktunya.
  2. Penyembuhan luka yang lama. Saat kita melakukan operasi Caesar, tentu tiap lapisan dari perut anda dari kulit, lemak, dan otot dipotong bagian demi bagian agar dapat sampai ke rahim anda. Artinya, anda dapat merasakan nyeri dan rasa tidak nyaman setelah persalinan sampai benar-benar sembuh, dan ini akan mengganggu aktivitas anda sehari-harinya di rumah.
  3. Efek pada kehamilan selanjutnya. Studi telah membuktikan, pada ibu yang melakukan persalinan caesar, kehamilan selanjutnya akan menjadi kehamilan yang lebih berbahaya. Saat Rahim anda di belah untuk mengeluarkan anak anda, maka kita sesungguhnya telah merusak struktur Rahim. Sehingga meningkatkan resiko perdarahan akibat kontraksi-nya yang buruk, ataupun dapat menyebabkan perlekatan plasenta yang tidak pada tempatnya, yang dapat menutupi jalan lahir, dan yang terakhir dapat menyebabkan kehamilan tidak pada tempatnya (kehamilan ektopik).

“Once caesarean, always a caesarean”, Obstetrics and Gynecology Beckman, American College of Obstetrics and Gynecology.

Benarkah perkataan ini? Apakah para ibu yang sudah melakukan operasi caesar tidak dapat melahirkan normal?

Pada ilmu kandungan terdapat sebuah istilahVaginal Birth After Caesarean (VBAC) yang merupakan proses persalinan normal dengan riwayat operasi caesar. Kondisi ini hanya dilakukan apabila memenuhi persyaratan tertentu, salah satunya adalah teknik potongan yang dilakukan pada rahim ibu.

Teknik potongan yang digunakan haruslah dengan potongan melintang, yang mana akan menurunkan resiko perdarahan pada persalinan berikutnya.

Tetapi pada kenyataannya, para dokter kandungan tidak berani mengambil resiko pada para ibu hamil yang sudah memiliki riwayat caesar walaupun sudah menggunakan teknik potongan melintang.

Resiko apakah yang ditakutkan oleh dokter kandungan?

Rahim yang sudah dilakukan tindakan operasi caesar akan lebih mudah robek (resiko robek lebih tinggi) apabila dilangsungkan persalinan normal. Robekan rahim dapat menyebabkan perdarahan hebat yang mengancam nyawa sang Ibu dan bayi. Oleh karena hal inilah, para dokter sering menyarankan pengulangan operasi caesar pada kehamilan selanjutnya.

Jadi Apakah Persalinan Caesar Menguntungkan?

Selama tidak ada indikasi untuk melakukan operasi, maka kelahiran normal adalah pilihan utama bagi semua ibu hamil. Kelahiran normal akan selalu memberikan keuntungan yang lebih banyak:

  1. Biaya persalinan yang jauh lebih murah bila dibandingkan dengan operasi caesar.
  2. Proses penyembuhan luka yang jauh lebih cepat, biasanya hanya dalam waktu 3 hari anda sudah dapat berjalan, melakukan aktivitas ringan, dalam 1 minggu anda sudah dapat melakukan aktivitas seperti biasa.
  3. Efek terhadap bayi. Bayi yang dilahirkan secara normal akan lebih jarang mendapatkan komplikasi gangguan pernapasan bila dibandingkan dengan bayi yang dilahirkan secara persalinan Caesar.
  4. Data menunjukan tingkat kematian ibu dan bayi yang jauh lebih rendah pada persalinan normal dibandingkan dengan persalinan caesar.

-00-

Persalinan normal ataupun persalinan caesar tanpa indikasi merupakan pilihan dari setiap ibu dan keluarga. Seringkali di antara kita takut akan proses persalinan normal yang menyeramkan, panjang, penuh dengan rasa sakit.

Tetapi, persalinan normal tetap merupakan pilihan pertama, karena begitu banyak keuntungan yang di dapat. Walaupun demikian, yang harus kita mengerti adalah seringkali terdapat kondisi tertentu yang membuat persalinan biasa tidak dapat dilakukan, sehingga seluruh ibu dan keluarga, harus mempersiapkan kesiapan ekonomi, mental dan fisik karena pada proses persalinan, dapat terjadi kondisi yang tidak dapat diprediksi, sehingga mungkin dibutuhkan tindakan operasi yang darurat untuk menyelamatkan ibu dan bayi.

Sehat selalu para pembaca.

–00–

 

Referensi

1. Caesarean Delivery and Peripartum Hysterectomy. Dalam: Cunningham, Leveno, Bloom, Hauth, Rouse dan Spong, penyunting. Williams Obstetrics. Edisi 23. New York: McGraw-Hill Medical Company 2010. h. 544-64.

2. Intrapartum Care. Dalam: Beckman, Ling, Barzansky, Herbert, Laube dan Smith. Obstetrics and Gynecology. Edisi 6. Philadelphia: Lippincott Williams & Wilkins 2010. h. 101-2.

3. Menacker F, Declercq E, Macdorman MF. Cesarean Delivery: Background, trends, and epidemiology. Semin Perinatol 2006;30:235-41.

12 Comments

  1. RATIH BOGA said:

    Terima kasih dok, untuk informasinya. Sangat membantu suatu hari kelak.

    March 13, 2015
    Reply
  2. vina wong said:

    Dok, sy mau bertanya sy skrg lagi hamil anak ke 2, abeda sama anak pertama sekitar 20bln. Anak pertama sy ceasar krn pup didlm sudah 40mgg. yg sy mau tanyakan apa boleh sy melahirkan normal untuk anak yg ke 2 sedangkan dokter sy menganjurkan normal, tp sy takut, tolong sarannya dok? thx

    March 19, 2015
    Reply
    • Ibu Vina, umumnya apabila baru sekali saja di caesar, pada kehamilan yang kedua bisa dilakukan persalinan normal. Yang terpenting adalah telah menkonsultasikannya dengan dokter kandungan. Beliau pastinya sudah mengerti dengan lebih jelas prosedur persalinan tersebut. Ibu tidak perlu khawatir, dokter kandungan pastinya siap apabila dalam perjalanan persalinan normal tiba-tiba perlu dilakukan tindakan caesar.

      Salam,
      dr. Ian Huang

      March 19, 2015
      Reply
  3. Budi said:

    Dok, saya punya istri yang sudah melaksanakan persalinan caesar sebanyak 1x, apakah aman untuk dilakukan persalinan normal?

    March 21, 2015
    Reply
    • dr. Gregory Joey said:

      Pak Budi, mengenai persalinan normal pada kehamilan selanjutnya, harus dilakukan pemeriksaan mendetail pada masa kehamilan nanti.

      Biasanya kita harus mengetahui terlebih dahulu indikasi riwayat persalinan caesar sebelumnya, apabila operasi sebelumnya dilakukan tidak dikarenakan oleh kondisi pinggul yang terlalu kecil atau bayi yang terlalu besar. Maka kemungkinan persalinan normal dapat dilangsungkan.

      Walaupun demikian, bisa saja pada kehamilan selanjutnya terjadi kondisi-kondisi tertentu yang mana dapat menyebabkan harus dilangsungkan persalinan caesar.

      Salam, dr. Gregory Joey

      March 21, 2015
      Reply
  4. Andi said:

    Dok, artikel-nya sangat membantu untuk saya. terima kasih banyak dokter.

    March 21, 2015
    Reply
    • dr. Gregory Joey said:

      Sama-sama, senang bisa membantu

      March 21, 2015
      Reply
  5. pita said:

    dok saya ibu muda yg pada klahiran anak pertama adalah caessar dikarenakan preeklamsia atau keracunan khamilan..padahal usia khamilan baru 8bln..saya trauma dan mempunyai rasa takut yg tinggi untuk kembali caessar pada khamilan berikutnya..saya sangat ingin melahirkan secara normal..akan tetapi banyak orang bilang ‘anak pertama caessar maka slanjutnya akan caessar’ apa itu betul?..dan dokter bilang bahwa kahmilan berikutnya pun saya bisa berpotensi preeklamsia lagi..bagaimana cara menghindarinya dok…saya ingin mempunyai anak lagi tapi takut mengingat caessar..trimakasih dok..mohon balasannya

    August 21, 2015
    Reply
    • Ibu Pita, tidak benar apabila sekali sesar harus sesar kembali. Pada persalinan yang kedua, dapat dicoba untuk dilakukan untuk persalinan normal asalkan tidak ada komplikasi selama kehamilan tersebut. Namun, itu semua kembali pada keputusan dokter spesialis kandungan yang menangani Ibu Pita. Apabila Anda memang mengiginkan untuk lahir normal, maka anda bisa berkonsultasi kepada dokter spesialis kandungan tempat dimana Ibu Pita ingin melakukan persalinan nantinya.

      Sejujurnya, tidak ada yang bisa dilakukan untuk mencegah resiko terjadinya preeklamsia. Keadaan ini bisa muncul sendiri tanpa adanya faktor resiko apapun. Memang betul bahwa ibu memiliki kemungkinan yang lebih tinggi untuk mengalami preeklamsia pada kehamilan yang kedua apabila pada kehamilan yang pertama telah mengalami preeklamsia. Keadaan ini bisa muncul bisa juga tidak. Beberapa faktor resiko lain terjadinya preeklamsia: Usia kehamilan ibu >35 tahun, memiliki penyakit darah tinggi/kencing manis, riwayat preeklamsia di keluarga (ibu ataupun kakak perempuan yang juga pernah mengalami), obesitas parah (Indeks Massa Tubuh atau BMI > 35).

      Regards,

      dr. Ian Huang

      August 24, 2015
      Reply
  6. puji said:

    Dok,saya pernah membaca di sebuah artikel bahwa sayatan di perut bisa jadi tidak sama dengan sayatan di rahim,apakah itu benar dok?

    January 5, 2016
    Reply
    • Puji,
      betul sekali pernyataan anda. Ada beberapa dokter yang melakukan sayatan yang berbeda di perut dan rahim. Semua tergantung oleh dokter spesialis kandungan tersebut. Namun yang lebih sering adalah sayatan rahim sesuai dengan sayatan kulit.

      Regards,
      dr. Ian Huang

      January 15, 2016
      Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *