Penggunaan suplemen fitnes? Berbahayakah? Bergunakah?? (Part 1: Pendahuluan, Protein & Asam Amino)

Penggunaan fitness supplements (suplemen fitnes) bukanlah sebuah hal yang menghebohkan lagi pada zaman sekarang. Diperkirakan 7 dari 10 orang yang pergi ke gymnasium (yang sering disingkat menjadi “gym”) menggunakan suplemen tersebut untuk mempercepat pertumbuhan otot mereka. Namun yang seringkali menjadi pertanyaan adalah, “Apakah penggunaan suplemen fitnes tersebut berbahaya bagi tubuh kita? Bergunakah penggunaan suplemen tersebut?” Disinilah dimana dr. Ian Huang akan mengupas tuntas jawaban dari pertanyaan ini.

alat gym

Contoh Tempat Gymnasium 

Di dalam dunia kedokteran barat (western medicine) sebuah kandungan kimia tertentu (contohnya obat atau suplemen) dikatakan berbahaya-tidak berbahaya, maupun berguna-tidak berguna, semua tergantung hasil penelitian yang umumnya disebut sebagai scientific evidence (bukti ilmiah).  Hal inilah yang menjadi perbedaan esensial antara western medicine dengan kedokteran tradisional.

Kembali ke pertanyaan awal, jadi apakah jawabannya? Jawabannya adalah tergantung jenis suplemen fitnes yang digunakan! Mari kita lihat secara mendetil dan secara perlahan mengenai jenis-jenis suplemen tersebutSuplemen fitnes sangat bervariasi jenisnya, oleh karena itu setiap kandungan kimia yang umumnya digunakan akan dibahas satu per satu. Beberapa kandungan suplemen tersebut, antara lain:

  1. Protein dan beragam jenis Asam Amino
  2. Creatine
  3. Steroids & Prohormones
  4. Weight gain powders (suplemen penambah berat badan)
  5. Weight loss supplements (suplemen penurun berat badan)
  6. Caffeine
  7. Betaine
  8. L-Carnitine
  9. Isoflavone
  10. Suplemen peningkat Growth Hormone(hormon pertumbuhan)

Pada bagian ini hanya akan dibahas mengenai suplemen fitnes yang mengandung protein dan asam amino. Untuk melihat penjelasan jenis suplemen fitnes lainnya dapat dilihat dalam post lainnya.

Protein

susu suplemen

Suplemen yang mengandung protein merupakan suplemen fitnes yang paling dikenal dan sering dikonsumsi oleh para pengunjung gym. Bagaimanakah pendapat para ahli mengenai konsumsi protein? Perlukah konsumsi suplemen protein?

Pertama-tama, kita harus mengetahui terlebih dahulu mengenai kebutuhan sehari-hari protein dalam tubuh manusia. Konsumsi protein untuk orang biasa (dengan aktivitas biasa bukan atlit) hanya membutuhkan sekitar 0,6-1,0 gram/kilogram berat badannya (Rata-rata sekitar 0,8 gram protein/kilogram berat badan) . Semakin tinggi tingkat aktivitas olahraganya, manusia membutuhkan massa protein yang lebih tinggi.

Pertanyaannya adalah “Untuk apakah jumlah protein yang lebih tinggi tersebut?”. Protein memiliki fungsi yang sangat beragam di dalam tubuh manusia. Salah satu fungsi protein yang berhubungan dengan kondisi ini adalah kegunaannya dalam pembentukan otot dan percepatan penyembuhannya. Otot manusia terus mengalami adaptasi selama kehidupannya. Adaptasi tersebut tergantung dari tingkat aktivitasnya (Apabila otot tersebut “dirasa” oleh tubuh dibutuhkan lebih, maka otot tersebut akan membesar, apabila sebaliknya akan mengecil). Otot yang membesar (di dalam kedokteran disebut sebagai hipertrofi otot) secara prinsip diakibatkan sintesis protein otot melebihi pemecahan protein otot, sedangkan otot yang mengecil (disebut sebagai atrofi otot) terjadi karena pemecahan protein otot melebihi sintesis protein otot. Salah satu faktor yang berpengaruh terhadap keseimbangan protein otot yang positif (sintesis protein otot > penghancuran) adalah jumlah kadar protein yang tinggi di dalam darah. Berapakah jumlah kadar protein yang harus dikonsumsi atlit olahraga ataupun orang yang latihan di gym supaya keseimbangan protein otot yang positif terjadi? Jawabannya adalah : Sekitar 1,4-2,0 gram protein / kilogram berat badan / hari.

muscle 2

Konsumsi Suplemen Protein Pasca Latihan 

Apakah aman mengkonsumsi protein dalam jumlah tersebut ? Inilah pertanyaan yang sering diajukan kepada saya dan tentunya inilah yang membawa kalian pula membaca artikel ini.

Hal utama yang seringkali dilaporkan oleh media massa adalah bahwa konsumsi protein yang tinggi dalam jangka waktu yang lama menyebabkan beban bagi fungsi ginjal manusia dan nantinya menuju gangguan fungsi ginjal. Hal kedua adalah hubungannya dengan pengeroposan tulang (osteoporosis adalah istilah penyakit tersebut dalam kedokteran).

Apakah yang diberitakan media massa tersebut benar? Jawabannya adalah pernyataan tersebut tidak sepenuhnya salah. Pernyataan tersebut dilontarkan memang berdasarkan hasil penelitian, namun penelitian tersebut dilakukan pada orang-orang yang memang sudah memiliki gangguan ginjal sebelumnya ataupun penelitian yang menggunakan hewan sehingga bukan merupakan gambaran yang akan terjadi pada orang normal / sehat. Sebaliknya, hasil penelitian lainnya yang dilakukan pada orang normal (tanpa gangguan fungsi ginjal sebelumnya) / sehat tidak ditemukan adanya  kelainan atau sesuatu yang berbahaya bagi tubuh manusia. Untuk hal kedua yang berhubungan dengan pengeroposan tulang, pernyataan tersebut belum didukung dengan hasil bukti ilmiah yang kuat.

Asam Amino

Secara prinsip, asam amino merupakan bagian terkecil dari protein (setiap protein terbentuk dari ikatan polipeptida yang isinya sejumlah asam amino tertentu). Asam amino dibagi menjadi asam amino esensial dan non-esensial. Asam amino esensial merupakan asam amino yang harus didapat dari luar (tubuh manusia tidak bisa membentuk asam amino tersebut) dan terdiri dari sepuluh asam amino antara lain, arginine, phenylalanine, valine, threonine, tryptophan, methionine, leucine, isoleucine, lysine, dan histidine, sedangkan asam amino non-esensial merupakan asam amino yang bisa dibentuk oleh tubuh manusia sendiri. Terdapat sepuluh asam amino non-esensial, antara lain alanine, aspartic acid, cysteine asparagine, glutamic acid, glutamine, glycine, proline, tyrosine, dan serine.

Diantara seluruh asam amino tersebut, sering kita dengar istilah asam amino rantai cabang atau dalam bahasa Inggris disebut sebagai Branched Chain Amino Acids (BCAA) yang terdiri dari 3 jenis asam amino, antara lain leucine, isoleucine, dan valine. Asam amino rantai cabang atau BCAA sangat penting fungsinya dalam jaringan otot manusia. Hal ini dikarenakan otot manusia dibentuk 35%-nya dari asam amino tersebut. Diantara 3 jenis asam amino tersebut, leucine merupakan asam amino yang paling banyak dipelajari dan merupakan asam amino yang berperan penting dalam merangsang sintesis protein dalam otot. Secara umum, BCAA telah terbukti membantu proses penyembuhan pasca latihan, dan meningkatkan sintesis protein otot, sehingga dianjurkan mengkonsumsi leucine 45 mg/kilogram berat badan/ hari, isoleucine dan valine masing-masing 22,5 mg/kilogram berat badan/hari.

Glutamine

Glutamine merupakan salah satu asam amino non-esensial yang  terbanyak dalam tubuh manusia dan memiliki sejumlah peran penting dalam tubuh manusia.  Beberapa suplemen fitnes tertentu mempromosikan kandungan glutamine yang tinggi dalam produknya, namun penting untuk diketahui bahwa sejumlah bukti ilmiah tidak mendukung glutamine sebagai suplemen fitnes yang dianjurkan. Hal ini bukan karena glutamine berbahaya, namun karena tidak terbukti meningkatkan massa otot, performa otot, ataupun menurunkan penghancuran massa otot.

International Society of Sports Nutrition  (Perhimpunan Internasional yang berkecimpung dalam bidang nutrisi olahraga) menyatakan posisinya mengenai suplemen fitnes yang mengandung protein:

  • Individu yang berolahraga membutuhkan sekitar 1,4 – 2,0 gram protein / kilogram berat badan / hari.
  • Kadar protein tersebut tidak ditemukan berbahaya pada individu sehat yang berolahraga.
  • Usaha untuk memenuhi kebutuhan akan protein tersebut melalui makanan “biasa” (bukan dengan suplemen) harus dilakukan, namun suplemen fitnes yang mengandung protein terbukti aman dan merupakan metode yang mudah untuk dilakukan.
  • Kegunaan dari kadar protein yang tinggi tersebut, antara lain mempercepat penyembuhan otot pasca latihan dan meningkatkan massa otot tanpa lemak.
  • Residu dari protein, seperti asam amino rantai cabang (BCAA), terbukti meningkatkan tingkat sintesis protein otot, menurunkan tingkat penghancuran protein otot, dan membantu proses penyembuhan otot pasca latihan.

Baca mengenai penggunaan suplemen creatine (disini) dan steroid (disini).

Daftar Pustaka

(apabila anda tertarik untuk membaca lebih dalam, ketiklah judul daftar pustaka dibawah ini di search engine) 

1. Kreider et al. ISSN exercise & sport nutrition review: researh & recommendations. J Int Soc Sports Nutr 2010; 7:7

2. Campbell et al. International Society of Sports Nutrition position stand: protein and exercise. J Int Soc Sports Nutr 2007; 4:8

3. Schoenfeld BJ. The Mechanisms of Muscle Hypertrophy and Their Application to Resistance Training. J Strength Cond Res 2010; 24(10): 2857-2872.

6 Comments

  1. mkt said:

    Terima kasih untuk artikelnya Dokter Ian Huang. Sangat membantu sekali atas penjelasannya. Sukses selalu Dok.

    February 11, 2015
    Reply
    • Sama-sama, semoga menolong ya.. Terima kasih..

      February 12, 2015
      Reply
  2. aep said:

    obat sm suplemen berbeda, obat da kemungkinan ngefek sm ginjal tp kl suplemen sy rasa tidak pd ginjal

    March 16, 2016
    Reply
    • Pak Aep,
      apa yang saya tuliskan disini adalah berdasarkan penelitian. Suplemen dan obat pada dasarnya adalah sama, hanya perbedaan terminologi saja. Suplemen yang tidak terbukti aman, ada kemungkinan ber-efek terhadap ginjal.

      Regards,
      dr. Ian Huang

      March 22, 2016
      Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *