Mengertikah Kita mengenai Resistensi Antibiotik?

Penggunaan antibiotik pada era ini, terutama di Indonesia, sudah seperti “makan kacang goreng”. Setiap orang bisa membeli antibiotik tanpa resep dokter. Baik di apotek besar yang memiliki nama, apotek kecil, maupun warung di samping jalan sekalipun dapat menjual berbagai macam antibiotik. Antibiotik sebagai salah satu obat penting dalam mengobati infeksi bakteri/kuman sudah sangat disalahgunakan.

Dokter yang masih rasional dalam menggunakan antibiotik seringkali menasehati pasiennya begini,  “Bapak, penyakit seperti ini tidak perlu antibiotik karena penyebabnya adalah virus. Justru dengan menggunakan antibiotik, kuman dapat menjadi resisten dan sulit dibasmi.”

Disinilah pertanyaan yang krusial tersebut muncul, “Mengertikah kita mengenai istilah resistensi antibiotik?”

Baru-baru ini World Health Organization (WHO) melakukan survey mengenai penggunaan dan pengetahuan tentang antibiotik dan resistensi antibiotik secara online, dengan jumlah responden hampir mencapai 10.000 orang. Survei ini dilakukan di 12 negara: Barbados, China, Mesir, India, Indonesia, Mexico, Nigeria, Rusia, Serbia, Afrika Selatan, Sudan, dan Vietnam. Rangkuman hasil survei tersebut, antara lain:

  • Hampir dua pertiga (64%) responden berkata bahwa mereka mengerti bahwa resistensi antibiotik merupakan masalah yang dapat mengancam mereka dan keluarga, tetapi bagaimana ancaman itu terjadi dan apa yang mereka bisa lakukan untuk mencegahnya tidak mereka ketahui.
  • Tiga perempat (76%) responden berpikir bahwa resistensi antibiotik adalah ketika tubuh (bukan bakteri) menjadi resisten terhadap antibiotik.
  • Dua pertiga (66%) responden percaya bahwa mereka tidak beresiko terinfeksi bakteri yang resisten antibiotik apabila mereka mengonsumsi antibiotik sesuai dengan yang diresepkan oleh dokter.
  • Hampir setengah (44%) responden berpikir bahwa resistensi antibiotik hanya terjadi pada pasien yang secara reguler mengonsumsi antibiotik.
  • Lebih dari setengah (57%) responden berpikir bahwa tidak ada yang bisa dilakukan mereka untuk mencegah resistensi antibiotik, dan 64% percaya bahwa komunitas medis dapat menyelesaikan masalah resistensi antibiotik sebelum hal ini menjadi masalah besar bagi dunia.
  • Hampir dua pertiga (64%) responden percaya bahwa antibiotik dapat digunakan untuk mengobati infeksi virus (batuk-pilek), dan sepertiganya (32%) percaya bahwa mereka dapat berhenti mengonsumsi antibiotik secara mendadak setelah mereka sudah merasa baikan.

Hasil survei yang dikeluarkan WHO tersebut (16/11/2015) sangat mengenaskan dan menunjukan bahwa masyarakat “kebingungan” terhadap istilah resistensi antibiotik dan tidak mengetahui cara untuk mencegahnya.

Berikut ini adalah beberapa fakta yang harus anda ketahui mengenai resistensi antibiotik:

  1. Resistensi antibiotik adalah salah satu ancaman global terbesar terhadap dunia kesehatan dewasa ini. Ancaman ini menyerang siapapun, segala usia, dan dimanapun.
  2. Resistensi antibiotik terjadi ketika bakteri menjadi tidak lagi sensitif terhadap antibiotik yang tadinya digunakan untuk melawan infeksi bakteri tersebut. Dengan kata lain, antibiotik yang sama sudah tidak lagi mampu membunuh bakteri tersebut.
  3. Resistensi antibiotik terjadi secara natural, tetapi penyalahgunaan antibiotik pada manusia dan hewan akan mempercepat proses resistensi ini (lihat gambar cara penyebaran dibawah).
  4. Penyalahgunaan antibiotik yang dimaksud adalah membeli sendiri dan mengonsumsi antibiotik untuk penyakit yang harusnya tidak memerlukan antibiotik (infeksi virus), dan tidak menyelesaikan konsumsi antibiotik sesuai dengan anjuran dokter.
  5. Tanpa adanya tindak lanjut yang sesuai, kita akan memasuki post-antibiotic era, dimana infeksi yang umum dan “biasa-biasa saja” dapat kembali menghilangkan nyawa seseorang.

antibiotic resistance

Gambar Cara Penyebaran Resistensi Antibiotik
Sumber: WHO. Accessed from: http://www.who.int/mediacentre/events/2015/world-antibiotic-awareness-week/posters/en/

Melihat resistensi antibiotik sebagai salah satu ancaman global terbesar terhadap dunia kesehatan, WHO menyerukan kampanye besar-besaran dengan tema “Antibiotics: Handle With Care” pada World Antibiotic Awareness Week, 16-22 November 2015. Kampanye ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran dan mendorong praktik kesehatan yang bijaksana oleh masyarakat awam, penyusun kebijakan (policymakers), dan tenaga kesehatan profesional, agar dapat menghindari perburukan dan penyebaran dari resistensi antibiotik.

Sebagai salah seorang dokter yang peduli akan ancaman serius ini, saya mengharapkan partisipasi aktif para pembaca sekalian untuk memberitahukan teman maupun keluarga mengenai isu resistensi antibiotik ini. Info selengkapnya dalam bahasa inggris dapat dibaca dalam situs WHO disini. #AntibioticResistance


Daftar Pustaka

  1. Brooks M. Public Confused About Antibiotic Resistance, WHO says. Medscape. Nov 16, 2015. Accessed from: http://www.medscape.com/viewarticle/854564
  2. World Health Organization. WHO multi-country survey reveals widespread public misunderstanding about antibiotic resistance. WHO, November 16, 2015. Accessed from: http://www.who.int/mediacentre/news/releases/2015/antibiotic-resistance/en/
  3. Brown Troy. Global Antibiotic Use and Resistance in ‘Dire’ Situation. Medscape. Sept 18, 2015. Accessed from: http://www.medscape.com/viewarticle/851233
  4. Howell EE. Fight the Resistance: A Call to Action for Hospitalists. Medscape. Nov 02, 2015. Accessed from: http://www.medscape.com/viewarticle/853291

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *