Mengenal “si ketombe” Lebih Jauh

“Ih ketombean! Jorok banget!!”

Pernyataan tersebut sering kita dengar ketika seseorang melihat adanya ketombe di rambut seseorang. Hal ini tentunya merupakan sebuah ironi karena berarti mayoritas masyarakat awam di Indonesia mengenal ketombe sebagai sesuatu yang berhubungan dengan kebersihan tubuh.

Sebenarnya apa itu ketombe?

Ketombe yang dalam bahasa Inggris disebut sebagai dandruff adalah kulit-kulit yang terkelupas di daerah kepala yang merupakan sebuah bagian teringan dari spektrum penyakit seborrheic dermatitis.

Seborrheic dermatitis tidak hanya dapat mengenai daerah kulit kepala, tetapi juga daerah sekitar wajah, belakang telinga, daerah dada, lipatan payudara, selangkangan, dan sekitar bokong. Pada penyakit ini, selain ketombe (kulit yang mengelupas) dapat dilihat pula adanya warna kulit yang meradang (kemerahan), gatal, dan kulit berminyak kekuningan.

a Seborrheic Dermatitis yang mengenai daerah sekitar wajah
Gambar dikutip dari: Berth-Jones J. Chapter 23. Eczema, Lichenification, Prurigo, and Erythroderma. In: Burns T, Breathnach S, Cox N, Griffiths C. Rook’s Textbook of Dermatology. Volume 1. Eighth Edition. Wiley-Blackwell, 2010. p. 23.1-23.51
b Bentuk yang lebih ringan dari seborrheic dermatitis di sekitar dahi.
Gambar dikutip dari: Naldi L, Rebora A. Seborrheic Dermatitis. N Engl J Med 2009;360:387-96.

Dalam terminologi kedokteran, penyakit seborrheic dermatitis yang hanya mengenai daerah kulit kepala (dalam bentuk ketombe dan tidak meradang) disebut sebagai pityriasis sicca. Pada keadaan ini hanya ditemukan adanya ketombe tanpa tanda dan gejala lainnya.

Apa yang menyebabkan seseorang menderita penyakit ini?

Walaupun banyak orang menderita seborrheic dermatitis, penyebab utama dari penyakit ini masih merupakan misteri. Dua faktor utama yang memiliki hubungan terhadap kondisi ini adalah kadar hormon dalam tubuh dan infeksi jamur.

Adanya hubungan dengan kadar hormon menjelaskan mengapa penyakit ini umumnya muncul pada periode setelah pubertas dan sering tercetuskan terutama dalam keadaan stres (baik stres fisik atau stres psikis).

Pada penderita seborrheic dermatitis sering ditemukan adanya pertumbuhan berlebihan dari spesies jamur Malassezia (dalam keadaan normal, umum ditemukan adanya spesies jamur ini tanpa menimbulkan kelainan apapun).  Hal inilah yang menyebabkan dokter-dokter sering memberikan obat antijamur untuk menekan pertumbuhan jamur tersebut.

Selain faktor hormon dan jamur, terdapat pula faktor-faktor lainnya yang masih dalam penelitian untuk mengetahui penyebab dari seborrheic dermatitis.

“Ketombe bukan disebabkan oleh kebersihan tubuh yang buruk dan bukan juga karena alergi.”

Apakah penyakit ini bisa disembuhkan?   

Penderita penyakit ini umumnya mengalami gangguan kulit yang hilang timbul seumur hidupnya. Kondisi ini umumnya kambuh dalam keadaan stres fisik (udara dingin atau kering) atau psikis (banyak pikiran).

Pada bayi umumnya akan hilang pada usia 6 bulan – 1 tahun, namun sering kambuh setelah masa pubertas.

Kabar baiknya adalah ilmu kedokteran dapat mengobati dan mengurangi tingkat kekambuhan penyakit ini.

Bagaimana cara mengobatinya? 

Tergantung tingkat keparahan kelainan kulit, beberapa pengobatan yang bisa diberikan antara lain:

  1. Obat anti radang dalam bentuk krim atau shampoo (Synalar)
  2. Obat antijamur berbentuk shampoo, yang paling umum digunakan ketoconazole shampoo (Nizoral, ketomed, dan merk lainnya), dan selenium sulfide shampoo (Selsun)
  3. Obat keratolitik (untuk memperbaiki lapisan kulit) yang diberikan melalui bentuk shampoo (salicylic acid, tar, atau Zinc pyrithione).

Catatan: Pemakaian obat-obat tersebut harus sesuai dengan petunjuk dokter.

Kemanakah saya harus berobat?

Anda bisa berkonsultasi ke dokter spesialis kulit terdekat atau ke dokter umum untuk penyakit ini.

Daftar Pustaka

  1. Schwartz RA, Janusz CA, Janniger CK. Seborrheic Dermatitis: An Overview. Am Fam Physician2006; 74(1):125-132.
  2. Berth-Jones J. Chapter 23. Eczema, Lichenification, Prurigo, and Erythroderma. In: Burns T, Breathnach S, Cox N, Griffiths C. Rook’s Textbook of Dermatology. Volume 1. Eighth Edition. Wiley-Blackwell, 2010. p. 23.1-23.51
  3. Naldi L, Rebora A. Seborrheic Dermatitis. N Engl J Med 2009; 360:387-96.
  4. Plewig G, Jansen T. Chapter 22. Seborrheic Dermatitis. In: Wolff K, Goldsmith LA, Katz SI, Gilchrest BA, Paller AS, Leffell DJ. Fitzpatric’s Dermatology in General Medicine. The McGraw-Hill Companies, 2008. p. 219-225

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *