Mengenal Penyebab Sakit Perut Anak Anda

Sebagai orang tua, salah satu perasaan yang paling mengkhawatirkan dan menakutkan adalah ketika melihat sang anak tercinta mengalami sakit perut. Kekhawatiran itu termasuk hal yang wajar dirasakan oleh para orang tua karena umumnya anak-anak tidak dapat menjelaskan dengan detil bagaimana rasa sakit perut yang dirasakannya. Ditambah lagi, sakit perut tersebut umumnya diikuti dengan muntah-muntah dan penurunan nafsu makan yang menimbulkan rasa panik bagi para orang tua.

Sebanyak 9-15% anak-anak akan merasakan sakit perut dalam kehidupannya. Umumnya pada anak laki-laki terjadi pada usia 5-6 tahun, sedangkan anak perempuan pada umur 5-6 tahun dan 9-10 tahun. Pada sebagian besar kasus sakit perut anak-anak sifatnya tidak berbahaya, tetapi apabila sakit perut disertai dengan tanda & gejala tertentu maka perlu dilakukan evaluasi lebih lanjut karena dapat menjadi tanda awal dari suatu penyakit yang berbahaya.

boy-554643_640

Penyebab sakit perut pada anak-anak umumnya cukup luas, namun usia sang anak dapat menjadi faktor penting dalam mencari penyebab sakit perut tersebut. Selain usia, adanya tanda-tanda luka akibat kecelakaan (seperti terjatuh, atau abuse) harus diperhatikan karena pada banyak kasus sang anak tidak melaporkannya kepada orang tua.

Apabila tidak ada tanda-tanda luka, penyebab tersering sakit perut pada anak-anak adalah diare, konstipasi, infeksi saluran kemih, usus buntu, dan menstruasi. Berikut ini adalah sedikit pengenalan akan karakteristik tertentu dari penyebab sakit perut yang umum:

  1. Diare umumnya disebabkan oleh infeksi virus atau kuman yang masuk lewat makanan yang tidak bersih ataupun melalui tangan anak anda. Sakit perut akibat diare umumnya berupa nyeri di seluruh perut yang disertai adanya perubahan pola buang air besar (BAB) yang menjadi lebih cair dengan frekuensi > 3x/hari, dan dapat pula diikuti dengan perut kembung, muntah dan demam.
  2. Konstipasi adalah kesulitan buang air besar yang ditandai dengan frekuensi defekasi < 2-3 kali/minggu. Konstipasi dapat terjadi pada periode toilet training (ketika anak diajarkan untuk buang air besar di jamban), awal mulai masuk sekolah, perubahan pola makan, ataupun saat dan setelah periode liburan. Sakit perut pada konstipasi biasa dirasakan pada perut bagian bawah dan kiri bawah, tinja biasa menjadi lebih keras dan dapat keluar dalam satu tinja yang besar, atau terpisah-pisah dan kecil (umumnya dikatakan seperti kotoran kambing).
  3. Peradangan Usus Buntu (dalam bahasa medis disebut Appendicitis) merupakan salah satu penyebab sakit perut yang berbahaya pada anak-anak. Apabila tidak ditangani, usus buntu dapat “bocor” dan menyebabkan infeksi perut yang berat dan mengancam nyawa. Walaupun penyakit ini dapat pula terjadi pada orang dewasa, resiko terjadinya kebocoran usus buntu jauh lebih tinggi pada anak-anak. Nyeri pada appendicitis umumnya dirasakan pada daerah perut kanan bawah, timbul secara terus-menerus, dan lebih sakit ketika anak berjalan, melompat, atau batuk. Anak dapat terlihat lemas dan enggan untuk beraktivitas. Pada saat berjalan, anak dapat terlihat seperti “pincang”, dan saat tiduran anak seringkali melipat kedua lututnya untuk mengurangi rasa nyeri di perutnya. Apabila usus buntu ini bocor/pecah, maka sakit perut akan dirasakan pada seluruh perut dan dirasakan sangat hebat, dan terjadi demam tinggi. Kondisi ini termasuk kondisi gawat darurat dan memerlukan penanganan secepatnya.
  4. Infeksi Saluran Kemih merupakan salah satu penyebab umum sakit perut pada anak. Tanda dan gejala pada infeksi saluran kemih adalah adanya nyeri pada saat buang air kecil, anak menjadi sering kencing dengan jumlah urin yang sedikit, dan dapat disertai dengan sakit pada perut bagian bawah atau pinggang. Tanda dan gejala klasik ini biasa dapat dikenali oleh orang tua pada anak-anak yang sudah lebih besar (> 5 tahun), sedangkan pada anak yang lebih kecil gejala yang timbul hanyalah sakit perut yang dapat disertai dengan mencret, mual, dan muntah.
  5. Menstruasi merupakan salah satu penyebab sakit perut pada anak perempuan yang sedang dalam masa pubertas. Biasanya hal ini berhubungan dengan jumlah haid yang banyak, sakit perut terasa seperti melilit, timbul pada hari pertama-kedua haid, dan menghilang setelah haid berhenti. Biasanya anak-anak perempuan yang mengalami ini akan mudah lelah, dan sulit berkonsentrasi.

Beberapa penyakit diatas hanyalah sebagian dari penyebab sakit perut pada anak, masih ada penyebab sakit perut lainnya, seperti kegagalan absorbsi makanan tertentu, alergi makanan, dan adanya massa atau tumor pada perut (dan masih banyak lainnya).

Sebelum menutup tulisan ini, berikut saya berikan beberapa tips untuk mengenali tanda bahaya dari sebuah nyeri perut pada anak. Apabila anda menemukan satu dari tanda-tanda ini, maka minimal anda harus memeriksakan anak anda ke dokter. Berikut tanda-tanda tersebut:

  1. Sakit perut tersebut membangunkan anak anda di malam hari
  2. Sakit perut tersebut bertahan lebih dari 1 jam, atau hilang timbul lebih dari 24 jam
  3. Tidak mau makan dan minum dalam jangka waktu yang panjang
  4. Terdapat darah pada tinja, diare yang berlebihan, dan muntah berulang
  5. Nyeri pada saat kencing, atau terdapat darah pada saat kencing
  6. Demam selama 3 hari atau lebih
  7. Penurunan berat badan yang signifikan, mudah kenyang setelah makan dalam porsi yang kecil
  8. Nyeri ketika perut ditekan
  9. Konstipasi (BAB < 2-3x/minggu) selama beberapa minggu

Semoga tulisan ini bermanfaat dan kiranya dapat menambah wawasan orang tua dalam menghadapi sakit perut pada anak anda. Bahasan mengenai sakit perut berulang pada anak akan dibahas pada artikel lainnya.

Referensi

  1. Leung A.K.C. & Sigalet D.L. Acute Abdominal Pain in Children. Am Fam Physician. 2003 Jun 1;67(11):2321-2327.
  2. Ross A & LeLeiko NS. Acute Abdominal Pain. Pediatrics in Review. 2010. Apr 4;31;135-144.
  3. D’Agostino J. Common Abdominal Emergencies in Children. Emerg Med Clin North AM 2002l 20:139.
  4. Carthy HM. Paediatric Emergencies: non-traumatic abdominal emergencies. Eur Radiol 2002; 12:2835.

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *