“Mengapakah saya sulit mendapatkan keturunan?”

Sebagai orang beriman, kita selalu percaya bahwa anak merupakan pemberian Tuhan Yang Maha Esa. Keberadaan seorang anak merupakan sumber kebahagiaan yang selalu dinanti-nantikan oleh setiap keluarga, tetapi tidak dapat dipungkiri bahwa sebagian keluarga tertentu menjalani sebuah penantian panjang sebelum menyambut kedatangan si buah hati.

Suatu penantian panjang yang seringkali berujung membawa perasaan frustasi, stres, dengki, dan iri hati. Kesulitan untuk mendapatkan keturunan yang menyebabkan sebuah penantian panjang tersebut dikenal dengan istilah infertilitas dalam dunia kedokteran.


Apakah itu infertilitas?

Infertilitas didefinisikan sebagai kondisi tidak tercapainya kehamilan setelah hubungan seksual tanpa kontrasepsi yang dilakukan secara berkala selama 1 tahun. Pada usia wanita di atas 35 tahun, definisi infertilitas sedikit berbeda dari segi waktunya yaitu 6 bulan (bukan 1 tahun).

Apakah infertilitas merupakan kejadian yang umum ditemukan?

Menurut penelitian terakhir, 1 dari 7 pasang orang tua mengalami infertilitas (sekitar 14%).

Siapakah penyebab infertilitas? Pria atau Wanita? 

Infertilitas dapat disebabkan dari kedua sisi yaitu pria (40%) atau wanita (55%). Terdapat 5% kemungkinan bahwa penyebabnya bukan berasal dari kedua pihak (unexplained infertility).

couple-168191_640

Apakah yang menyebabkan infertilitas?

Pemahaman mengenai penyebab infertilitas membutuhkan pengetahuan mengenai proses pembuahan yang normal. Proses pembuahan terjadi ketika ovum (sel telur) dari wanita bertemu dengan sperma sang lelaki di salah satu bagian dari organ kandungan wanita yang disebut tuba Fallopii.

Setelah terjadi proses pembuahan dan pembelahan sel yang baik, maka embrio (cikal bakal bayi) akan tinggal di dalam rahim sang ibu sampai waktunya dilahirkan.

Melalui proses tersebut, kita dapat melihat bahwa untuk terjadinya proses pembuahan yang normal dibutuhkan, antara lain indung telur (yang mengeluarkan ovum/sel telur wanita), tuba Fallopii (tempat pertemuan ovum dengan sperma), rahim (sebagai tempat cikal bakal bayi hidup), dan sel sperma yang baik.

Beberapa penyebab infertilitas yang akan dijelaskan, antara lain:

1. Indung Telur

Sejak masa pubertas, semua wanita akan mengalami sebuah proses yang dikenal dengan nama ovulasi. Proses ovulasi merupakan sebuah proses pengeluaran sel telur (ovum) yang matang oleh indung telur yang terjadi setiap bulan.

Apabila tidak dibuahi (tidak bertemu dengan sperma), maka telur tersebut akan luruh bersama dengan lapisan rahim. Proses peluruhan ini dikenal dengan istilah menstruasi.

Sekitar 25% gangguan infertilitas pada wanita disebabkan oleh gangguan ovulasi. Gangguan pada ovulasi menyebabkan tidak dikeluarkannya ovum setiap bulannya.

Salah satu tanda adanya gangguan ovulasi adalah adanya perubahan pola menstruasi. Gangguan pola menstruasi, antara lain tidak mendapatkan haid tiap bulan, perdarahan yang sangat banyak, atau terlalu sering haid dapat merupakan tanda adanya gangguan ovulasi (Baca Gangguan Menstruasi lebih lanjut disini).

Pemeriksaan USG untuk memeriksa kondisi indung telur dan pemeriksaan darah untuk memeriksa kadar hormon yang berperan dalam membentuk telur yang matang umumnya dibutuhkan untuk mengetahui secara pasti adanya gangguan ovulasi.

2. Tuba Fallopii dan rahim

Setelah proses ovulasi, sel ovum yang dikeluarkan harus bergerak melewati sebuah saluran yang disebut sebagai tuba Falopii untuk bertemu dengan sel sperma.

Gangguan pada saluran ini akan menyebabkan sel ovum tidak dapat bertemu dengan sel sperma sehingga proses pembuahan tidak dapat terjadi. Sekitar 30% kasus infertilitas disebabkan oleh tuba fallopi yang sempit ataupun tertutup sama sekali. Hal ini dapat diakibatkan oleh infeksi, adanya tumor, atau terjadinya kehamilan di luar rahim yang menyebabkan kerusakan tuba.

Selain gangguan pada tuba Fallopii, adanya gangguan pada rahim juga merupakan salah satu penyebab infertilitas pada wanita. Gangguan pada rahim terbilang jarang, namun tetap merupakan salah satu penyebab yang harus dipikirkan. Gangguan pada rahim dapat terjadi akibat proses kuret berulang, atau terdapat polip atau mioma rahim.

Kondisi terhadap rahim dapat kita periksa dengan menggunakan alat USG, sedangkan untuk melihat patensi dari tuba Fallopii diperlukan pemeriksaan khusus yang disebut hysterosalpingogram.

3. Usia

Diluar kedua hal tersebut, usia juga memiliki peran yang tidak kalah pentingnya dalam berbicara mengenai kesuburan. Faktor umur sangat mempengaruhi tingkat kesuburan manusia, terutama wanita. Tingkat kesuburan wanita mulai menurun secara perlahan saat memasuki pertengahan usia 30 tahun dan menurun secara drastis pada akhir usia 30 tahun.

Hal ini disebabkan semakin sedikit telur yang tersisa di dalam indung telur wanita seiring dengan bertambahnya usia. Selain telur yang tersisa semakin sedikit, kualitas telur tersebut juga tidak sebaik kualitas telur pada usia 20-30 tahun, sehingga telur tersebut seringkali mengalami defek genetik.

Telur yang memiliki defek genetik seringkali di gugurkan secara alami oleh tubuh. Apabila telur yang memiliki defek genetik berhasil bertahan, maka besar kemungkian nanti saatnya lahir bayi tersebut dapat mengalami Down Syndrome (tuna grahita).

4. Sel Sperma

Sel-sel sperma harus melewati suatu perjalanan yang panjang dan penuh dengan tantangan untuk dapat membuahi sang telur. Sel sperma yang berkualitas baik memiliki bentuk, jumlah, dan pergerakan yang normal.

Jumlah yang cukup dibutuhkan karena dari sekian jumlah sperma (seorang pria dapat mengeluarkan 40 juta – 1,2 milyar sel sperma), hanya satu sel sperma yang akhirnya membuahi sel telur (melewati kondisi yang membahayakan di dalam liang vagina menelan banyak korban sel sperma).

Pergerakan sel sperma yang normal dibutuhkan untuk dapat mencapai sel telur (sel sperma perlu untuk bergerak masuk dari liang vagina sampai pada tuba Falopii), sedangkan bentuk yang baik mutlak diperlukan untuk menembus dinding sel telur dan membuahinya.

Pemeriksaan sperma sebaiknya dilakukan oleh setiap pasangan yang belum mendapatkan keturunan. Pemeriksaan ini harus dilakukan minimal 2 atau 3 kali untuk menentukan secara pasti kualitas sel sperma sang pria.

Kualitas sperma dapat terganggu bila terdapat infeksi, terganggunya saluran untuk mengeluarkan sperma, ataupun kurangnya hormon untuk memproduksi sperma tersebut. 


photographing-children-735225_640

Tidak dapat dipungkiri lagi, infertilitas merupakan sebuah kondisi yang seringkali membebani pasutri secara fisik dan mental. Satu pesan untuk Anda, “Jangan takut dan khawatir!” Segeralah konsultasikan keluhan Anda pada dokter kandungan untuk melakukan beberapa pemeriksaan untuk mendeteksi penyebab dari infertilitas yang Anda alami!

Akhir kata, sebagai orang beriman, Saya tetap memiliki kepercayaan bahwa anak memang adalah pemberian dari Tuhan YME. Segala teknologi pengobatan yang ada bukan merupakan jaminan mutlak, namun adalah sebuah usaha yang dapat kita lakukan sebagai manusia. Manusia berusaha, tetapi Tuhan yang menentukan.

Daftar Pustaka

  1. American Society for Reproductive Medicine. Infertility: An Overview. Birmingham: Alabama; 2012.
  2. NICE. Assessment and treatment for people with fertility problems. NICE clinical guideline 2013; 156: 1-64.
  3. Jose-Miller AB, Boyden JW, Frey KA. Infertility. Am Fam Physician 2007; 75:849-56.

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *