Menelusuri Gejala Sakit Maag: Si Penyakit Sejuta Umat

Adanya nyeri atau perasaan tidak enak pada daerah ulu hati, disertai perut yang terasa kembung, penuh, bersendawa/burping (mengeluarkan gas lewat mulut) atau mual merupakan tanda-tanda bahwa anda menderita gejala sakit maag (dalam dunia kedokteran kita sebut keluhan tersebut sebagai dyspepsia). Percaya tidak percaya, gejala tersebut dikeluhkan oleh 40% dari seluruh orang dewasa tiap tahunnya (walaupun hanya sepersepuluhnya yang mengkonsultasikan keluhannya ke tenaga kesehatan).

Jawaban-jawaban dari pertanyaan seputar penyakit maag seringkali menimbulkan misteri tersendiri karena banyaknya informasi kesehatan yang beredar bukan berasal dari seorang dokter. Untuk itulah artikel ini ditulis, supaya kegundahan para penderita penyakit maag dapat menemukan titik terangnya dan tidak lagi bingung akan kondisi yang dialaminya.


Sakit maag lambungGambar oleh samarttiw, dikutip dari: http://www.freedigitalphotos.net/images/stomach-injuries-photo-p201327

Apakah penyebab seseorang menderita gejala sakit maag (dyspepsia)?

Penyebab munculnya gejala penyakit maag (dyspepsia) sangatlah beranekaragam, namun  umumnya dapat diklasifikasikan menjadi dua kelompok utama yaitu penyebab organik dan fungsional.

Penyebab organik artinya ada penyebab yang kelihatan dan diketahui, sedangkan pada kelompok fungsional tidak ditemukan penyebab atau penyebabnya diduga sesuatu yang tidak kelihatan/belum diketahui secara jelas.

Penyebab organik hanya ditemukan pada segelintir pasien yang mengeluhkan dyspepsia (hampir seluruh kasus dyspepsia yaitu 70%-nya termasuk dalam kasus functional dyspepsia atau sakit maag fungsional).

Penyebab organik yang umum dari dyspepsia, antara lain penyakit asam lambung yang naik ke kerongkongan (dikenal dengan istilah Gastro-Esophageal Reflux Disease/GERD) mencakup 5-15% dari seluruh penyebab organik, adanya luka pada lambung (Peptic Ulcer Disease mencapai 15-25%), penggunaan obat-obatan tertentu, dan kanker (kanker lambung atau kerongkongan mencakup <2% dari seluruh kasus).

Sakit maag fungsional berarti tidak ditemukan adanya penyebab gejala sakit maag, kalau begitu apa yang membuat adanya gejala sakit maag pada kondisi tersebut?

Sungguh sebuah ironi! Walaupun penyebab fungsional ditemukan pada hampir seluruh kasus yaitu mencapai 70% dari keseluruhan kasus dyspepsia, tapi mekanisme yang menyebabkan seseorang menderita gejala sakit maag masih belum diketahui secara jelas.

Beberapa penelitian menduga adanya gangguan pengosongan lambung (pergerakan lambung terganggu), dan reaksi berlebihan (hipersensitif) dari lambung terhadap asam, lemak,  dan regangan akibat makanan atau minuman, serta adanya hubungan dengan sistem saraf (terutama psikologis).

Bagaimana cara untuk mengetahui apakah keluhan yang Saya alami termasuk dalam kasus organik atau fungsional?

Beberapa gejala-tanda dan hasil pemeriksaan kedokteran yang mengarahkan ke penyebab dyspepsia tertentu, antara lain:

  1. Selain gejala penyakit maag seperti adanya nyeri atau perasaan tidak enak pada daerah ulu hati, perut yang terasa kembung, penuh, atau mual, Anda mengeluhkan pula adanya rasa terbakar pada daerah dada tengah (heartburn). Pada kondisi ini kemungkinan besar Anda menderita penyakit asam lambung yang naik ke kerongkongan (GERD). Pada penyakit ini, umumnya dokter dapat mendiagnosis tanpa perlu melakukan pemeriksaan lanjutan.
  1. Adanya penggunaan obat-obatan dan zat kimia tertentu bisa merupakan penyebab dari gejala sakit maag yang Anda alami. Beberapa obat-obatan dan zat kimia yang umumnya menjadi penyebab sakit maag, antara lain obat anti-radang dan penahan sakit, jenis obat kencing manis tertentu, antibiotik tertentu, suplemen vitamin tertentu (zat besi), dan minuman beralkohol (terutama bir).
  1. Ada-tidaknya luka atau kanker di daerah lambung atau kerongkongan hanya dapat dideteksi secara pasti dengan pemeriksaan endoskopi. Pemeriksaan ini dilakukan dengan memasukan teropong berkamera ke dalam lambung. Apabila ditemukan adanya luka di lambung, maka harus dicari pula penyebab perlukaannya. Penyebab luka lambung yang paling sering adalah infeksi kuman Helicobacter pylori. Pemeriksaan laboratorium lanjutan umumnya diperlukan untuk menegakkan diagnosis infeksi kuman tersebut.
  1. Apabila dari hasil seluruh pemeriksaan kedokteran tidak ditemukan apapun yang berhubungan dengan gejala sakit maag, dan Anda telah mengalami gejala sakit maag ini selama minimal 3 bulan, maka Anda akan didiagnosis menderita dispepsia fungsional (tidak ditemukan penyebabnya).

Kalau begitu, apakah wajib untuk dilakukan pemeriksaan endoskopi pada seluruh penderita gejala sakit maag?

Pemeriksaan endoskopi umumnya tidak harus dilaksanakan, namun terdapat beberapa tanda bahaya (warning signs) dimana dokter akan menekankan perlunya untuk dilakukan pemeriksaan ini:

  1. Berusia > 55 tahun
  2. Terdapat penurunan berat badan yang tidak diinginkan (tidak ada motivasi untuk menurunkan berat badan, namun berat badan terus turun secara siknifikan)
  3. Terdapat kesulitan menelan (gangguan menelan)
  4. Muntah-muntah hebat
  5. Muntah darah atau buang air besar berdarah (berwarna hitam/merah)
  6. Riwayat kanker di keluarga

Apakah gejala penyakit maag berbahaya?

Umumnya dispepsia fungsional tidak berbahaya (tidak mengancam nyawa) sehingga sebenarnya Anda tidak perlu khawatir. Namun, keadaan ini dapat menjadi berat dan sangat mengganggu aktivitas sehari-hari apabila tidak ditangani secara tepat.

Berbeda dengan penyebab fungsional, adanya kelainan organik harus diobati karena beberapa komplikasinya dapat mengancam nyawa. Contoh: Perlukaan di daerah lambung dapat menyebabkan perdarahan (tandanya adalah buang air besar berwarna hitam) atau bocornya lambung yang dapat mengakibatkan radang selaput perut yang berakhir pada kematian.

Kanker lambung atau kerongkongan, seperti pada kanker lainnya, merupakan penyakit yang berbahaya dan mengancam nyawa. Adanya deteksi dan tatalaksana dini dari kanker tersebut menghasilkan hasil pengobatan yang lebih optimal (prognosis yang lebih baik).

Bagaimanakah cara mengobati penyakit maag?

Pengobatan gejala penyakit maag tentunya harus disesuaikan dengan penyebab spesifiknya.  Pengobatan yang sering diberikan oleh para dokter (baik dokter spesialis penyakit dalam maupun dokter umum) umumnya ditujukan untuk mengobati penyebab maag fungsional (mengingat 70% penyebab gejala sakit maag adalah fungsional). Pengobatan-pengobatan tersebut, antara lain:

1. Obat untuk mengurangi produksi asam lambung

Obat ini memiliki peran sentral dalam pengobatan sakit maag fungsional. Hal ini dikarenakan penelitian kedokteran terakhir menduga adanya reaksi hipersensitif lambung terhadap asam lambung (terutama pada penyebab fungsional).  Beberapa contoh obat untuk mengurangi produksi asam lambung, antara lain ranitidine, omeprazole, lansoprazole, dan pantoprazole.

Obat-obatan ini umumnya harus diberikan dalam waktu minimal 1 bulan untuk memberikan waktu penyembuhan bagi lambung. Obat ini umumnya diberikan sebelum makan 1 x sehari (omeprazole, lansoprazole, dan pantoprazole), kecuali untuk ranitidine dapat diberikan 2 sampai 3 kali sehari.

Perlu diingat bahwa produksi asam lambung adalah salah satu cara pertahanan tubuh manusia terhadap serangan mikroorganisme dari luar, oleh karena itu obat-obatan ini tidak boleh digunakan tanpa konsultasi dokter.

2. Obat untuk menetralisir asam lambung

Obat untuk menetralisir asam lambung umumnya hanya diberikan ketika gejala sakit maag muncul (rasa nyeri di ulu hati). Jenis obat-obatan ini umumnya dapat dibeli secara bebas tanpa resep dokter (Over The Counter/OTC drugs). Contoh obat ini yaitu antasida (promag, mylanta, dll).

Obat ini umumnya diminum sesaat sebelum makan atau sesudah makan. Efek antasida hanya bertahan paling lama 3 jam. Efek samping yang sering muncul adalah sensasi kembung di perut.

3. Obat untuk melapisi lambung

Obat jenis ini masih tidak umum digunakan oleh beberapa dokter karena hasil penelitian yang belum terlalu jelas, namun menurut pengalaman pribadi memiliki efek yang positif dalam mengurangi gejala sakit maag. Contoh obat ini: Sucralfate (Inpepsa sirup). Untuk efek yang maksimal, obat ini baiknya dikonsumsi 1 jam sebelum makan sebanyak 3 x sehari.

4. Obat untuk mengurangi rasa kembung / mempercepat pengosongan lambung (prokinetik)

Gejala sakit maag tidak sepenuhnya rasa sakit pada ulu hati, namun bisa juga dalam bentuk rasa kembung dan tidak enak di ulu hati. Penggunaan jenis obat-obatan diatas umumnya tidak mengurangi gejala kembung secara cepat. Apabila dokter anda meresepkan obat yang bernama Domperidone (Motilium, vometa, dan merk lainnya), maka dokter tersebut ingin agar gejala kembung Anda berkurang. Obat ini umumnya diberikan 3 kali sehari.

Catatan: Setiap dokter mungkin memiliki gaya pengobatan yang berbeda-beda. Artikel ini hanya ingin menjelaskan tujuan penggunaan obat-obatan yang sering diberikan pada gejala sakit maag.

Saya diberikan dua macam antibiotik untuk pengobatan sakit maag, untuk apa pemberian antibiotik pada kasus maag yang Saya miliki?

Kemungkinan besar, Anda didiagnosis perlukaan lambung yang disebabkan oleh infeksi kuman Helicobacter pylori. Seperti infeksi kuman pada umumnya, Anda membutuhkan pengobatan antibiotik selama jangka waktu tertentu untuk memusnahkan kuman tersebut dalam tubuh.

Pengobatan antibiotik yang umum digunakan untuk infeksi kuman tersebut (umumnya hanya dua jenis), antara lain Amoxicillin, Clarithromycin, Metronidazole, dan Tetrasiklin.  

Saya dengar penyakit maag tidak bisa disembuhkan, benarkah hal tersebut?

Apabila terdapat penyebab organik yang mendasari gejala sakit maag yang Anda derita, seperti infeksi kuman H.pylori, penggunaan obat-obatan tertentu, dan GERD, maka Anda bisa sembuh secara tuntas dengan pengobatan yang tepat.   

Pada kenyataannya seringkali dispepsia fungsional-lah yang ditemukan dan kondisi ini tidak mudah untuk diobati secara tuntas karena banyak sekali faktor yang mempengaruhinya. Tatalaksana dari kondisi ini tidak hanya membutuhkan pengobatan, tetapi juga perubahan gaya hidup. Perubahan gaya hidup yang umumnya disarankan, antara lain:

  1. Bila Anda merokok, berhentilah merokok karena merokok menyebabkan gejala sakit maag!
  2. Makan dengan porsi yang lebih kecil, namun lebih sering (ubah frekuensi makan dari 3x menjadi 5x dengan volume total yang dimakan tetap sama)
  3. Menghindari makanan-makanan yang mencetuskan gejala sakit maag, terutama makanan-makanan asam (seperti buah atau jus jeruk, tomat, makanan mengandung tomat), pedas, berlemak (gorengan, kacang, keju), cokelat, minuman berkafein (seperti kopi, teh), alkohol, minuman berlaktosa (seperti susu) dan minuman bersoda.
    Catatan: Umumnya sensitivitas setiap orang berbeda untuk makanan dan minuman tertentu yang telah disebutkan. Seperti susu, tidak semua orang akan memiliki gejala sakit maag setelah meminumnya. Oleh karena itu, Anda harus memilah-milah sendiri makanan yang memunculkan gejala sakit maag Anda.
  4. Kurangi stres dan beban pikiran! Carilah cara Anda tersendiri agar tidak stres dalam menjalani kehidupan sehari-hari.
  5. Pola hidup sehat, seperti tidur dengan waktu yang cukup (kurang lebih 8 jam/hari), olahraga secara teratur (frekuensi minimal 3 kali/minggu dengan durasi per sesi sekitar 45 menit), dan menurunkan berat badan bila Anda kegemukan (baca diet sehat sesuai ilmu kedokteran disini).

Catatan: Kesembuhan tuntas (bebas dari gejala sakit maag) pada keadaan sakit maag fungsional tidak dapat dipastikan walaupun dengan adanya pengobatan dan perubahan gaya hidup yang disarankan. Namun, gejala sakit maag pastinya akan lebih jarang kambuh.  

Gejala sakit maag memang merupakan penyakit sejuta umat! Coba saja Anda survey berapa banyak teman atau saudara Anda yang membawa obat untuk sakit maag dalam barang bawaannya sehari-hari. Percayalah, Anda akan kaget mendengar jumlah yang Anda temukan!

Seringkali mereka bingung dan khawatir akan kondisi yang mereka alami karena kurangnya informasi yang dapat menjelaskan secara detil keluhan mereka. Anda bisa meredakan kekhawatiran mereka dengan membagikan informasi yang Anda peroleh melalui artikel ini!


  Daftar Pustaka

  1. Loyd RA, McClellan DA. Update on the Evaluation and Management of Functional Dyspepsia. Am Fam Physician 2011; 83(5):547-552
  2. Harmon RC, Peura DA. Evaluation and management of Dyspepsia. Ther Adv Gastroenterol 2010; 3(2):87-98
  3. Giurcan R. Functional Dyspepsia: a Pragmatic Approach. Rom J Intern Med 2010; 48(1):9-15
  4. Kate V, Ananthakrishnan N, Tovey FI. Is Helicobacter pylori Infection the Primary Cause of Duodenal Ulceration or a Secondary Factor? A review of the Evidence. Gastroenterology Research and Practice 2013; 1-8

Gambar featured image diatas dikutip dari: Loyd RA, McClellan DA. Update on the Evaluation and Management of Functional Dyspepsia. Am Fam Physician 2011; 83(5):547-552

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *