Kupas Tuntas Mitos dan Fakta Kencing Manis di Indonesia

Kencing manis yang dalam istilah kedokteran disebut sebagai diabetes mellitus (DM) adalah sebuah penyakit menahun (artinya jangka panjang) yang membutuhkan pelayanan kesehatan berkelanjutan, dukungan, dan pemahaman yang mendalam mengenai penyakit maupun pengobatan yang harus dilaksanakan untuk mencegah komplikasi-komplikasi yang mungkin terjadi.1

Pemahaman masyarakat Indonesia mengenai penyakit kencing manis tersebut masih kurang mendalam dan sebagian besar masih sangat dipengaruhi oleh kepercayaan akan mitos-mitos tertentu. Kepercayaan terhadap mitos-mitos tersebut bukanlah hal yang sepele karena nantinya akan menyebabkan perjalanan penderita kencing manis yang berat dan penuh dengan komplikasi. Mari kita meninjau beberapa mitos dan fakta mengenai kencing manis.

1. Kencing manis adalah penyakit yang banyak ditemukan di Negara Maju, bukan di Indonesia. (MITOS!)

Prevalensi kencing manis atau diabetes mellitus (DM) di dunia dalam 2 dekade belakangan ini meningkat secara dramatis dari 30 juta kasus di 1985 menjadi 285 juta di 2010.2 Indonesia merupakan salah satu negara yang termasuk dalam 10 besar negara dengan penderita diabetes terbanyak tahun 2000 yaitu sebanyak 8,4 juta dan estimasi pada tahun 2030 menjadi 21,3 juta.3

2. Kencing manis merupakan penyakit yang hanya menyerang orang tua saja. (MITOS!)

Penyakit diabetes mellitus (sering disingkat menjadi ‘DM’) memang sebagian besar diderita oleh orang tua yaitu sekitar 90-95% dari seluruh penderita kencing manis,4 namun terdapat tipe kencing manis tertentu yang umumnya diderita oleh anak kecil dan remaja. Secara umum kencing manis digolongkan menjadi 3 tipe besar, antara lain tipe 1 yang umumnya menyerang anak kecil dan remaja, tipe 2 yang umumnya ditemukan pada orang dewasa, dan tipe spesifik lainnya (seperti DM pada ibu hamil, karena obat-obatan, gangguan hormon dll). 

Ciri khas dari penyakit kencing manis adalah peningkatan kadar gula di dalam darah. Di dalam tubuh manusia, kadar gula diatur oleh dua hormon utama, yaitu insulin dan glukagon. Pada penderita DM hampir selalu terdapat gangguan pada insulin. Pada DM tipe 1 sel penghasil insulin (dalam organ pankreas) dihancurkan oleh imunitas tubuh manusia sendiri, sedangkan pada tipe 2 terjadi  defek fungsi insulin yang penyebabnya diteorikan berhubungan dengan genetik, physical inactivity (kurang berolahraga), dan obesitas (kegemukan).5

Catatan: Sebenarnya pembagian kencing manis di dalam kedokteran lebih luas lagi, pembagian yang dijelaskan ini adalah pembagian untuk non-medis secara garis besar supaya mudah untuk dimengerti. Dalam artikel ini, penyakit diabetes yang terutama dibahas adalah DM tipe 2.

3. Cara pasti untuk mengetahui bahwa saya menderita kencing manis adalah dengan pemeriksaan gula darah. (FAKTA!)

Berdasarkan ilmu kedokteran barat, satu-satunya cara untuk mendiagnosis pasti seseorang menderita kencing manis atau tidak adalah dengan pemeriksaan laboratorium. Pemeriksaan darah yang digunakan, antara lain pemeriksaan gula darah sewaktu, gula darah puasa, dan pemeriksaan HbA1C.

Diagnosis Diabetes Mellitus menurut Standards of Medical Care in Diabetes – 2015 yang dikeluarkan oleh American Diabetes Association (ADA), antara lain:

  • HbA1C ?6,5% (harus dilakukan dengan sarana laboratorium yang telah terstandarisasi dengan baik).
  • Pemeriksaan kadar gula darah puasa ?126 mg/dL (puasa minimal 8 jam)
  • Kadar gula darah 2 jam pada Tes Toleransi Glukosa ?200 mg/dL. Tes ini harus dilakukan sesuai standar WHO, menggunakan beban glukosa yang setara dengan 75 g glukosa anhidrus yang dilarutkan ke dalam air.
  • Kadar Gula Darah Sewaktu (GDS) > 200 mg/dL ditambah dengan adanya keluhan klasik kencing manis (banyak kencing, banyak minum, banyak makan, dan penurunan berat badan tanpa sebab yang jelas).
Alat Kontrol Gula Darah gambar dikutip dari http://mrg.bz/fjOude
Alat Kontrol Gula Darah dikutip dari http://mrg.bz/fjOude

Anda perlu hati-hati dengan yang disebut keadaan kadar glukosa darah terganggu karena resiko anda untuk menderita diabetes sangat tinggi dalam beberapa tahun kedepan. Kadar glukosa darah terganggu (kadang disebut pre-diabetes) yaitu (salah satu saja):

  • Kadar Gula Darah Puasa 100-125 mg/dL
  • Kadar gula darah 2 jam pada tes toleransi glukosa 140-199 mg/dL
  • HbA1C 5,7-6,4 %

4. Kencing manis disebabkan semata-mata karena mengkonsumsi makanan dan minuman yang manis-manis (MITOS!).

Memang minuman dan makanan-makanan dengan tingkat glukosa murni yang tinggi terbukti meningkatkan resiko seseorang menderita kencing manis. Namun, bukan itu yang diduga sebagai penyebab utamanya. Walaupun penyebab utamanya masih belum pasti, namun para peneliti menduga terdapat tiga unsur utama sebagai penyebab, antara lain genetik, physical inactivity (kurang berolahraga), dan obesitas (kegemukan).5

5. Orang tua saya tidak menderita kencing manis, oleh karena itu saya tidak akan menderita kencing manis (MITOS!).

Seperti yang telah dijelaskan, terdapat beberapa macam penyebab kencing manis. Kencing manis dengan penyebab genetik, memiliki resiko menurunkan genetik tersebut ke keturunannya. Kencing manis tipe 2 merupakan tipe DM yang faktor keturunannya sangat kuat.

Apabila kedua orang tua menderita DM tipe II, maka resiko anaknya menderita DM mendekati 40%. Namun, perlu diingat kembali bahwa 3 unsur utama penyebab DM tipe II, adalah faktor genetik/keturunan, kurangnya berolahraga, dan obesitas (tidak adanya faktor genetik atau keturunan, tetap dapat menyebab seseorang menderita DM).

6. Terdapat berbagai cara untuk menyembukan kencing manis (MITOS!)

Menurut ilmu kedokteran barat sampai sekarang, penyakit DM tidak dapat disembuhkan. Satu-satunya hal yang dapat dilakukan adalah mengontrol penyakitnya dengan cara mengatur kadar gula darah supaya tidak melebihi batas yang ditentukan. Cara mengontrolnya adalah dengan perubahan pola hidup dan obat-obatan.

Kadar gula darah yang terkontrol baik, antara lain (menurut Perkumpulan Endokrinologi Indonesia):6

  • Kadar HbA1C <7,0%
  • Kadar gula darah puasa <100 mg/dL
  • Kadar gula darah dengan toleransi glukosa 2 jam < 140 mg/dL

7. Kencing manis adalah penyakit dengan berbagai komplikasi (FAKTA!)

Kencing manis sering disebut sebagai the silent killer karena komplikasi-komplikasi yang seringkali tidak disadari dan diremehkan oleh masyarakat non-medis. Komplikasi dari DM bisa berupa komplikasi jangka panjang dan komplikasi yang terjadi secara cepat.

Komplikasi jangka panjang umumnya berhubungan dengan gangguan di pembuluh darah akibat tingginya kadar gula darah secara jangka panjang yang merusak fungsi pembuluh darah yang normal (merusak persarafan, merusak elastisitas pembuluh darah, dan lain-lainnya). 

Komplikasi jangka panjang (terjadi dalam waktu tahunan), antara lain stroke, serangan jantung (penyakit jantung koroner), gagal ginjal, kaki diabetes, gangguan saraf, dan kebutaan (gangguan retina).

Komplikasi akut (terjadi secara cepat, dalam hitungan jam, hari, atau minggu) pada penderita DM yaitu penurunan kesadaran yang dapat berakibat langsung pada kematian.  

8. Obat-obatan untuk kencing manis menimbulkan ketergantungan sehingga lebih baik tidak sering-sering mengkonsumsinya (MITOS!)

Satu hal yang sering didengar adalah “kalau sudah minum obat kencing manis, nanti jadi ketergantungan, jadi lebih baik tidak perlu minum dari awal” Sungguh sebuah ironi, ini adalah pemikiran yang sangat tidak benar.

Obat-obatan tersebut sama sekali tidak menimbulkan ketergantungan yang dimaksud. Justru dengan adanya obat-obatan tersebut, penyakit kencing manis ini dapat dikontrol (kadar gula darah bisa turun), dan nantinya resiko terjadinya komplikasi-komplikasi akibat kencing manis menjadi jauh lebih rendah dibandingkan dengan gula darah yang tidak terkontrol.

Obat kencing manis dikutip dari:  http://mrg.bz/BsUa8D
Obat kencing manis dikutip dari: http://mrg.bz/BsUa8D

9. Mengkonsumsi obat-obatan kencing manis memperberat fungsi ginjal atau liver. (FAKTA!)

Mengkonsumsi obat-obatan secara jangka panjang memang dapat memperberat fungsi ginjal maupun liver. Oleh karena itu, pengobatan dalam kedokteran (tidak hanya untuk kencing manis) selalu memiliki satu prinsip utama, yaitu pengobatan selalu diberikan APABILA keuntungan dari pengobatan melebihi resiko efek samping akibat obat.

Satu-satunya cara agar resiko komplikasi kencing manis dapat diturunkan adalah dengan cara mengontrol kadar gula darah. Cara untuk mengontrol gula darah salah satunya adalah dengan obat-obatan dan insulin.

Perlu diingat: Tanpa pengobatan apapun dan gula darah yang tidak terkontrol, gagal ginjal akibat kencing manis hampir pasti terjadi. (Faktanya kencing manis merupakan penyebab nomor 1 gagal ginjal kronik di dunia).

Jadi lebih pilih yang sudah pasti gagal ginjal akibat kencing manis, atau melakukan pengobatan selamanya (dengan resiko fungsi ginjal dan liver yang lebih berat tapi belum tentu sampai menyebabkan gagal ginjal atau liver) ????

10. Olahraga, menurunkan berat badan, dan mengatur pola makan adalah pilar utama penanganan kencing manis (FAKTA!)

Walaupun pada akhirnya seorang penderita kencing manis harus mengkonsumsi obat-obatan atau menyuntik insulin sebagai salah satu cara untuk mengatur gula darah, kunci untuk mengontrol penyakit diabetes terletak pada 3 hal utama, antara lain berolahraga secara teratur, menurunkan  berat badan, dan mengubah pola makan.

Lari Pagi dikutip dari  http://mrg.bz/dhR5Kb
Jogging dikutip dari http://mrg.bz/dhR5Kb

Berolahraga yang dianjurkan adalah olahraga seperti jalan pagi dan jogging,  minimal 3x seminggu dengan minimal durasi tiap berolahraga >45 menit. Berat badan diatur untuk mencapai Body Mass Index (BMI) yang ideal. Perhitungan BMI yang ideal untuk orang asia adalah 18,5-22,9 kg/m2 (Cara menghitungnya adalah berat badan dalam kilogram dibagi dengan tinggi badan kuadrat dalam satuan meter). Mengubah pola makan terutama yaitu mengkonsumsi makanan dengan indeks glikemik yang rendah (lihat artikel lainnya).

11. Dokter Umum tidak mampu menangani pasien penderita kencing manis. (MITOS!)

Faktanya ini adalah mindset dari masyarakat Indonesia bahwa dokter umum tidak berkompeten untuk mengontrol pasien penderita kencing manis. Menurut Standar Kompetensi Dokter Indonesia, dokter umum justru HARUS dan WAJIB bisa menangani pasien yang menderita kencing manis. Selama pendidikannya, dokter umum juga sudah belajar dan dilatih sedemikian rupa untuk dapat mengontrol pasien penderita DM.

Berapa banyak mitos yang ternyata anda percaya? Berapa banyak keluarga atau teman anda yang ternyata juga percaya mitos-mitos tersebut? Kalau memang setelah membaca artikel ini Anda merasa sudah mengetahui semua mitos dan fakta yang tertulis disini, percayalah bahwa masih banyak orang Indonesia yang tidak mengetahuinya! Bukalah pikiran mereka dan sebarkanlah informasi ini untuk menolong banyak orang Indonesia dari si silent killer!  

 

Gambar featured image paling atas dikutip dari:  http://mrg.bz/BMu6YH

Daftar Pustaka

  1. American Diabetes Association. Standards of Medical Care in Diabetes – 2015. Diabetes Care 2015; 38(Suppl. 1):S1-S93
  2. Powers AC. Chapter 344. Diabetes Mellitus. Dalam: Longo DL, Fauci AS, Kasper DL, Hauser SL, Jameson JL, Loscalzo J, eds.Harrison’s Principles of Internal Medicine. 18th ed. New York: McGraw-Hill; 2012. Diakses dari: http://www.accessmedicine.com/content.aspx?aID=9141196.
  3. Wild S, Roglic G, Green A, Sicree R, King H. Global Prevalence of Diabetes: Estimates for the year 2000 and projections for 2030. Diabetes care 2004; 27:1047-1053
  4. Patel P, Macerollo A. Diabetes Mellitus: Diagnosis and Screening. Am Fam Physician. 2010;81(7):863-870
  5. Funk JL. Disorders of the Endocrine pancreas. In: Mcphee SJ, Hammer GD. Pathophysiology of Disease: An Introduction to Clinical Medicine. 6th 2010. McGraw-Hill.
  6. Perkumpulan Endokrinologi Indonesia. Konsensus Pengelolaan dan Pencegahan Diabetes Mellitus Tipe 2 di Indonesia 2011. Revisi IV. 20

2 Comments

  1. Erwin said:

    Thanks infonya dokter..

    February 8, 2015
    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *