Jangan Salah Kaprah Mengenai Imunisasi

“Saya tidak memberikan anak saya imunisasi B, karena dengar-dengar bisa bikin autis”

”Ah, anak saya sudah dapat imunisasi cacar tuh, tapi tetap aja kena cacar, apa mungkin dokternya menyuntikan obatnya secara tidak benar?”

”Anak saya sudah melakukan semua imunisasi yang wajib, cukup kayaknya, anak saya ‘sih’ sehat-sehat aja sekarang.”

Merasa familiar dengan kata-kata seperti ini? Imunisasi selalu menjadi topik yang hangat dibicarakan di kalangan orang tua. Sebelum lebih jauh membicarakan mengenai imunisasi, kita harus paham terlebih dahulu bagaimana tubuh kita bekerja melawan kuman atau virus.

Tubuh manusia dilengkapi oleh seperangkat pasukan militer yang kita sebut sebagai antibodi, antibodi ternyata sangat unik, kenapa? Karena selain berguna mempertahankan diri, salah satu jenis dari antibodi yang kita sebut sebagai sel memori memiliki kemampuan untuk dapat mengingat semua jenis kuman yang pernah dia bunuh. Untuk apa mengingatnya? Dengan mengingat (sel memori), tubuh kita mampu memproduksi sendiri antibodi spesifik (tepat sasaran) dengan waktu yang relatif jauh lebih cepat dibandingkan pertemuan pertama (belum pernah terpapar sama sekali).

Dengan memahami hal ini, maka kita dapat menjawab pertanyaan “Mengapa kita terkena penyakit cacar air hanya satu kali saja dalam seumur hidup kita?” yaitu karena antibodi dalam tubuh kita dapat mengingat jenis virus cacar air tersebut, dan setiap kali kita terpapar virus cacar air tersebut, antibodi kita dapat membunuhnya dengan mudah dan cepat (tanpa menyebabkan penyakit) karena sudah ada antibodi spesifik tersebut di dalam tubuh kita (apabila kurang, dapat dibentuk secara cepat karena sel pengingat/memori).

Jadi, imunisasi itu sebenarnya apa?

Imunisasi sebenarnya adalah sebuah proses pembentukan antibodi akibat adanya paparan terhadap suatu musuh tertentu (virus atau kuman). Imunisasi dapat dibentuk secara buatan yaitu dengan menggunakan vaksin (kita sebut vaksinasi) yang berisikan (kuman atau virus) yang sudah mati, dilemahkan, atau bagian tertentu dari kuman atau virus tersebut. Dengan adanya paparan tersebut, maka akan terbentuk antibodi spesifik terhadap kuman atau virus tersebut (juga terbentuknya sel memori/pengingat) sehingga kita tidak perlu terkena penyakit tersebut di masa yang akan datang (apabila terkena, penyakitnya tidak separah orang tanpa imunisasi).

Apabila kita mau membuat perumpamaan, orang yang di-imunisasi diibaratkan seperti seseorang yang tadinya tidak punya pistol, diberi sebuah pistol dan diajarkan  cara penggunaannya untuk membela diri.

Sedangkan orang yang tidak diimunisasi adalah orang yang tidak memiliki pistol, tidak mengerti bagaimana cara memegang pistol, dan menggunakannya sehingga kemampuan bertahan diri orang tersebut hanya mengandalkan tangan kosong semata.

Apabila datang seorang pembunuh dengan pisau, siapakah yang dapat melumpuhkan sang pembunuh tanpa harus terluka? Si pemegang pistol atau orang yang dengan tangan kosong? Tentu saja si pemegang pistol!

Q&A TIME

Q : Apabila anak saya sudah melewati umur imunisasi apakah boleh tetap mendapat imunisasi?

A: Prinsip imunisasi tidak mengenal umur, memang ada jadwal yang diberikan oleh Ikatan Dokter Anak Indonesia terkait jadwal pemberian imunisasi anak-anak, tetapi apabila anak anda sudah melewati jadwal, tidak perlu takut, akan diberikan catch-up immunization yang bertujuan untuk mengejar ketertinggalan. (Anda dapat langsung mengkonsultasikan jadwal catch-up immunization tersebut dengan dokter yang menangani anak anda)

Q : Kenapa harus dilakukan pengulangan dalam imunisasi?

A: Tidak semua orang dapat menghafal rute jalan dalam 1 kali percobaan, terkadang butuh pengulangan hingga 2-3 kali sehingga seseorang dapat sampai di tempat tujuan tanpa tersesat, begitu pula dengan tubuh kita, pengulangan atau booster bertujuan agar sel memori dari antibodi akan di produksi dalam kuantitas yang cukup (minimal) untuk mengingat infeksi kuman tertentu, sehingga tubuh anak dapat memproduksi antibodi spesifik secara cepat dengan jumlah yang besar ketika terpapar dengan kuman atau virus tersebut (Akibat sel memori, pembentukan antibodi spesifik akan jauh lebih cepat!). Apabila tidak dilakukan pengulangan, jumlah sel memori tidak optimum dan efek kekebalan menjadi tidak maksimal.

Q : Apakah ada efek samping tertentu dari Imunisasi?

A : Tidak ada efek samping dari imunisasi, beberapa masyarakat yang mengatakan bahwa imunisasi MMR (Mumps, Measles, dan Rubella) dapat menyebabkan autisme itu tidak terbukti, organisasi kesehatan dunia (WHO) serta IDAI telah menyatakan bahwa semua imunisasi aman, dan tidak akan menyebabkan gangguan kejiwaan.

Adapun yang harus kita perhatikan adalah Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI) yaitu gejala yang dapat timbul setelah dilakukan imunisasi, salah satunya adalah demam, bengkak pada area suntikan, dan rasa tidak nyaman atau sakit pada area yang di suntik. Hal itu merupakan hal yang wajar, karena merupakan respon tubuh terhadap kuman yang disuntikan ke dalam tubuh. Setiap dokter akan memberikan obat penurun panas dan penghilang rasa nyeri. Orang tua dapat membantu mengurangi nyeri dengan memberikan kompres pada area yang disuntik.

Q : Anak saya perlu dapat imunisasi apa saja ya dok?

A: Di Indonesia sangat terkenal dengan prinsip 5 imunisasi dasar, sehingga terkesan kelima imunisasi tersebut terkesan wajib, padahal sesungguhnya, hanya lima imunisasi itu saja yang disubsidi oleh pemerintah. Sejak tahun 2010-an, Ikatan Dokter Anak Indonesia menyarankan agar semua anak diberikan seluruh imunisasi yang direkomendasikan oleh IDAI, sehingga secara harafiah, tidak ada lagi lima imunisasi wajib, dan sisanya bersifat tidak wajib, apabila orang tua mampu untuk membiayai biaya imunisasi di luar lima imunisasi yang disubsidi oleh pemerintah (Hepatitis B, BCG, Polio, DPT, dan Campak) maka hal itu akan sangat membantu dalam mengoptimalkan daya tahan anak terhadap penyakit-penyakit berbahaya. (Baca artikel lainnya untuk mengenal tipe-tipe vaksin yang diberikan pada anak)

Q : Anak saya sudah diimunisasi, tetapi anak saya tetap terkena penyakit-nya? Apakah proses melakukan imunisasinya tidak benar?

A: Keoptimalan fungsi antibodi manusia sangat tergantung kesehatan tubuh manusia itu sendiri. Kalau anda punya mobil dan ingin supaya fungsinya tetap optimal, tentunya Anda harus mengisi bensin dan merawatnya secara teratur, kan? Andaikan mobil tersebut adalah tubuh Anda, maka apa yang harus Anda lakukan? Makanan bergizi (tinggi protein) dan kaya vitamin merupakan bensin berkualitas tinggi bagi manusia, sedangkan perawatan tubuh yang baik, antara lain menyediakan waktu tidur dan istirahat yang cukup, menjauhkan pikiran dari stress (kontrol stres yang baik) dan berolahraga secara teratur. Dengan dua hal sederhana tersebut kita dapat menjaga keoptimalan fungsi dari pasukan militer tubuh kita (Antibodi).

Jadi, apabila anak anda terkena penyakit yang bersangkutan walaupun sudah diimunisasi, anda harus mengecek hal ini: “Apakah kondisi sang anak memang dalam keadaan yang tidak optimal atau tidak fit?”

Walaupun demikian, terdapat beberapa kondisi di luar hal tersebut yang membuat proses imunisasi (pembentukan antibodi tidak maksimal) menjadi tidak berguna atau tidak optimal, contohnya adalah kondisi pasien dengan penyakit berat (seperti kanker) dan kondisi imunitas yang menurun (nutrisi buruk, terkena infeksi HIV, atau obat-obatan penekan sistem imun) ketika diberikan vaksinasi.

 –00–

Akhir kata, selaku tenaga medis, kami sangat menyarankan agar anak anda maupun anda sekalian sebagai orang dewasa (Ya! Imunisasi bukan untuk anak kecil saja!) wajib mendapatkan imunisasi, apabila anda ragu dengan riwayat imunisasi anda, anda dapat melakukan pemeriksaan terhadap kadar imunoglobulin dalam diri anda untuk mengetahui apakah anda ataupun anak anda sudah memiliki kekebalan terhadap penyakit spesifik tersebut.

Memang, penyakit di dunia ini sangat banyak dan beragam, tetapi dari sekian banyak penyakit tersebut, ahli medis sudah berhasil menemukan cara agar kita tidak perlu mengalami penyakit tersebut, dan penyakit-penyakit yang dapat kita cegah bersifat berbahaya dan mematikan. Sehingga, lindungi diri anda sekarang! Jangan menunda! Jadilah orang bijak, orang bijak adalah orang yang belajar dari pengalaman orang lain!

Sehat selalu para pembaca!

–00–

Sumber:

Kementrian Kesehatan Republik Indonesia. Peraturan Menteri Kesehatan Tentang Penyelenggaraan Imunisasi. Jakarta: Departemen Kesehatan Republik Indonesia; 2013.

Orenstein WA dan Pickering LK. Dalam: Kliegman RM, Stanton BF, Schor NF, Behrman RE dan Geme JW, penyunting. Nelson Textbook of Pediatrics. Edisi kesembilan belas. Amerika Serikat: Elsevier 2011. h. 881-95.

TM thaib dkk. Cakupan Imunisasi Dasar Anak Usia 1-5 tahun dan Beberapa Faktor yang Berhubungan. Sari Pediatri 2013;14(5):283-7.

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *