Apakah Saya Menderita Gangguan Cemas?

Kecemasan atau ansietas merupakan suatu reaksi normal terhadap stres dan berguna dalam situasi-situasi tertentu. Setiap manusia pastinya tidak jarang mengalami kecemasan, baik ketika sedang ingin menghadapi ujian, berbicara di depan umum, menonton film horror, atau ketika sedang ketakutan akibat menyaksikan tindak terorisme (seperti belakangan ini, adanya bom di daerah Jakarta Pusat). Kecemasan memberikan sinyal penting pada diri manusia bahwa terdapat tanda bahaya dan mengarahkan diri kita untuk memberikan perhatian penuh terhadap situasi tersebut.

Kapankah rasa cemas dikategorikan sebagai gangguan cemas (Anxiety Disorders)?

Rasa cemas dianggap sebagai gangguan (disorder) apabila rasa cemas tersebut menghalangi fungsi sehari-hari, yaitu performa kerja, sekolah, dan hubungan interpersonal yang sehat. Secara umum, untuk mendiagnosis apakah seseorang menderita gangguan cemas atau tidak, maka kecemasan harus:

  • Memiliki reaksi yang berlebihan (tidak seperti orang pada umumnya).
  • Dialami beberapa bulan atau lebih (tergantung jenis gangguan cemas).
  • Menghalangi kemampuan orang tersebut untuk berfungsi secara normal.

Adakah perbedaan jenis gangguan cemas?

Terdapat beberapa jenis gangguan cemas yang umum ditemukan:

Fobia (sekitar 7-9% dari seluruh gangguan cemas)

Fobia spesifik adalah ketakutan berlebih dan persisten terhadap obyek, situasi, atau aktivitas spesifik yang umumnya tidak berbahaya. Pasien umumnya mengetahui bahwa ketakutannya berlebihan, namun mereka tidak mampu untuk melawannya. Ketakutan tersebut tidak jarang menyebabkan dirinya untuk melakukan sesuatu yang ekstrim untuk menghindari ketakutan mereka tersebut. Contoh dari fobia adalah fobia ketinggian, fobia serangga, fobia darah, atau fobia lainnya (masih banyak fobia lainnya).

Gangguan Cemas Sosial (Social Anxiety Disorder) atau dulunya disebut Social Phobia (sekitar 7% dari seluruh gangguan cemas)

Pada jenis gangguan cemas ini, seseorang memiliki ketakutan berlebih dalam hubungannya dengan interaksi sosial (dengan orang lain). Penderita gangguan ini umumnya memilih untuk menghindari situasi-situasi yang beresiko membuat mereka untuk dipermalukan, ditolak, atau dipandang rendah. Contoh: ketakutan berlebih dalam berbicara di depan umum, bertemu dengan orang baru, makan atau minum di tempat umum.

Gangguan Panik (2-3% dari gangguan cemas)

Serangan panik (Panic Attack) adalah sebuah periode ketakutan luar biasa yang terasosiasi dengan beberapa gejala, antara lain:

  • Jantung berdebar-debar
  • Berkeringat
  • Gemetar
  • Sesak Nafas
  • Rasa tercekik
  • Nyeri Dada
  • Mual
  • Pusing
  • Ketakutan tidak bisa mengendalikan diri atau takut menjadi gila
  • Takut mati
  • Rasa kesemutan
  • Kedinginan atau kepanasan

Gangguan panik didefinisikan apabila terdapat beberapa kali serangan panik yang diikuti kecemasan akan munculnya serangan tersebut. Karena gejala serangan panik begitu berat, mayoritas masyarakat yang mengalami serangan tersebut merasa bahwa mereka mengalami serangan jantung atau penyakit mengancam nyawa lainnya. Penderita gangguan panik sering ditemukan pada unit gawat darurat (UGD) sebuah rumah sakit.

Gangguan Cemas Menyeluruh (Generalized Anxiety Disorders, 2% dari gangguan cemas)

Gangguan cemas menyeluruh merupakan gangguan cemas persisten dan berlebihan yang meliputi hampir seluruh aspek dalam kehidupan sehari-hari. Aspek dalam kehidupan sehari-hari itu, antara lain mengenai tanggung jawab pekerjaan, kesehatan keluarga, masalah-masalah kecil seperti masalah mobil rusak, janji temu, masalah keran air rusak, mengantar anak ke sekolah, dan lainnya. Umumnya rasa cemas yang dimilikinya bertingkat-tingkat.

Contoh yang dimaksud bertingkat-tingkat: Seorang ibu sedang sakit dan tidak bisa masuk kerja, ia mengkhawatirkan dirinya dipecat dari pekerjaannya. Kemudian ia mencemaskan apabila ia dipecat, nanti tidak memiliki uang untuk makan sehari-hari, anaknya tidak bisa masuk perguruan tinggi, dan menjadi gelandangan (padahal anaknya masih SD dan suaminya memiliki pekerjaan yang cukup baik secara finansial).

Mengapa seseorang bisa mengalami gangguan cemas?

Penyebab terjadinya gangguan cemas masih tidak diketahui sampai sekarang, tetapi kemungkinan dipengaruhi beberapa faktor, antara lain faktor genetik, lingkungan, psikologis, dan perkembangan. Perempuan memiliki resiko lebih tinggi mengalami gangguan cemas daripada laki-laki.

Bagaimana menangani gangguan cemas?

Langkah pertama adalah untuk mengunjungi seorang dokter untuk memastikan tidak adanya kelainan hormon ataupun penyakit organik lainnya yang mendasari gejala-gejala cemas yang anda miliki. Apabila anda sudah terdiagnosis gangguan cemas oleh dokter, maka anda akan ditangani oleh dokter anda dengan dua cara utama, antara lain:

  1. Psikoterapi atau terapi dengan berbincang-bincang dengan dokter (dokter umum atau psikiater) atau psikolog
  2. Obat-obatan untuk meredakan gejala secara cepat (hanya bisa diberikan oleh seorang dokter atau psikiater)

Selain dua hal tersebut, adakah cara untuk mengurangi gejala kecemasan yang dimiliki?

Olah raga yang teratur, tidur yang cukup, dan hindari kafein, merupakan 3 langkah yang dapat anda lakukan untuk mengurangi gejala kecemasan. Tiga hal tersebut sudah terbukti mengurangi gejala kecemasan melalui beberapa penelitian yang ada.

Cara menghadapi stres setiap orang bisa berbeda-beda. Anda perlu untuk mencari cara unik tersendiri dalam menghadapi hal tersebut. Anda dapat memperingan gejala stres/cemas tersebut dengan berbicara dengan teman anda, mempersiapkan diri dengan lebih baik dan dari jauh-jauh hari (apabila seperti ujian), melakukan hal lain yang menyenangkan bagi diri anda (membaca buku, pergi jalan-jalan, atau menonton), yoga atau terapi relaksasi lainnya, dan berdoa (apabila anda orang beriman).

faith


Bagi anda sekalian yang tidak mengalami gangguan cemas, maka anda akan merasa bahwa gejala-gejala yang dituliskan ini “aneh” dan “lucu”. Perlu anda ketahui bahwa gejala ini sungguh nyata bagi para penderitanya! Justru, daripada menertawakannya, anda perlu untuk menolong mereka untuk keluar dari kecemasan yang menghantui mereka. Bagaimanakah menolong mereka? Jadilah teman yang mau mendengarkan kecemasan mereka dan jangan menghakimi mereka.

Daftar Pustaka

  1. Toy EC, Klamen DK. Case Files Psychiatry. 3rd Edition. The McGraw-Hill Companies, 2009. p.64-71
  2. Sadock BJ, Sadock VA, Ruiz P. Kaplan & Sadock’s Comprehensive Textbook of Psychiatry. 9th Edition. Lippincott Williams & Wilkins, 2009.
  3. Anxiety Disorders. Accessed from: www.psychiatry.org
  4. Pedoman Penggolongan Diagnosis Gangguan Jiwa (PPDGJ). Edisi ketiga. Jakarta: Departemen Kesehatan Republik Indonesia, 1993.

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *